Karang yang Belajar Bernapas Lagi
Bab 1: Teluk yang Pernah Bernyanyi
Di sebuah teluk kecil yang airnya bening seperti kaca pagi hari, laut pernah bernyanyi setiap waktu. Bukan bernyanyi dengan suara seperti manusia, melainkan dengan cara laut sendiri: desiran arus yang lembut, gelembung udara kecil yang naik perlahan, dan kilau cahaya matahari yang menari di antara karang.
Teluk itu bernama Teluk Purnama.
Di sana, terumbu karang berdiri seperti kota bawah laut. Ada karang bercabang seperti pepohonan kecil, karang bulat seperti batu istana, dan karang datar yang menyerupai lantai tempat ikan kecil bermain kejar-kejaran. Setiap celah adalah rumah. Setiap bayangan adalah tempat berlindung.
Di salah satu karang bercabang itu, hiduplah seekor ikan badut kecil bernama Lumo.
Lumo belum besar. Warnanya oranye dengan garis putih yang belum terlalu tebal. Ia bukan perenang tercepat, bukan pula ikan paling berani. Tapi Lumo punya satu hal yang membuatnya istimewa: ia sangat mencintai rumahnya.
Setiap pagi, sebelum mencari makan, Lumo selalu mengelilingi karangnya satu putaran penuh. Ia menyapa anemon, mengecek celah kecil, dan memastikan semuanya masih utuh.
“Rumah harus dicek,” kata ibunya dulu. “Kalau rumah aman, hati juga aman.”
Lumo percaya itu.
Bab 2: Air yang Terasa Berbeda
Suatu hari, Lumo merasakan sesuatu yang aneh. Air laut terasa lebih hangat. Tidak menyengat, tapi cukup untuk membuat siripnya bergerak gelisah.
Awalnya, ia mengira itu hanya perasaannya saja. Tapi hari demi hari, rasa hangat itu tidak pergi. Bahkan saat matahari tenggelam, air tetap terasa seperti siang hari.
Lumo melihat karang di sekitarnya mulai berubah. Warna cerahnya perlahan memudar. Karang merah muda menjadi pucat. Karang hijau tampak keabu-abuan.
“Kenapa warnanya hilang?” tanya Lumo pada anemon yang selalu diam.
Anemon tidak menjawab, tapi tentakelnya bergerak lebih pelan dari biasanya.
Lumo merasa takut untuk pertama kalinya.
Bab 3: Tala dan Cerita Lama
Suatu sore, ketika arus tenang, seekor penyu hijau besar bernama Tala melintas perlahan di Teluk Purnama. Tala sudah sangat tua. Cangkangnya penuh guratan, seperti peta waktu.
Lumo berenang mendekat.
“Tala,” katanya hati-hati, “kenapa karang terlihat sakit?”
Tala berhenti sejenak, lalu menghela napas panjang.
“Laut sedang kepanasan,” jawab Tala. “Kalau terlalu panas, karang tidak bisa bernapas dengan baik. Mereka kehilangan teman kecil yang memberi mereka warna dan tenaga.”
“Teman kecil?” Lumo bingung.
“Ya,” kata Tala. “Makhluk yang sangat kecil, tapi sangat penting. Kalau mereka pergi, karang melemah.”
Lumo menatap rumahnya dengan mata membesar. Ia tidak pernah tahu bahwa sesuatu yang tidak terlihat bisa begitu penting.
Bab 4: Rumah yang Mulai Retak
Beberapa minggu kemudian, badai kecil datang. Tidak besar, tapi cukup membuat pasir halus beterbangan.
Pasir itu menempel di karang, menutup pori-pori kecil tempat air mengalir. Lumo dan keluarganya harus membersihkan diri lebih sering, menyelinap ke celah yang lebih dalam.
Suatu malam, Lumo mendengar bunyi kecil: krek.
Salah satu cabang karang tua patah sedikit.
Tidak runtuh. Tidak hancur. Tapi bunyi itu seperti peringatan.
Lumo bersembunyi di anemon sambil gemetar.
“Apakah rumah bisa hilang?” bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Bab 5: Teman yang Memilih Pergi
Ikan-ikan mulai berkurang. Beberapa pergi ke laut yang lebih dalam. Beberapa pindah ke teluk lain.
Sahabat Lumo, ikan kecil bernama Pio, datang berpamitan.
“Aku mau cari tempat baru,” kata Pio. “Di sini makin sepi.”
Lumo ingin menahan Pio, tapi ia tahu itu tidak adil.
“Kalau ketemu rumah yang aman, bilang aku ya,” kata Lumo pelan.
Pio tersenyum, lalu berenang menjauh, menjadi titik kecil di kejauhan.
Teluk Purnama terasa lebih sunyi setelah itu.
Bab 6: Benda Asing di Dasar Laut
Suatu pagi, Lumo melihat sesuatu yang benar-benar asing. Di dasar laut, manusia menurunkan rangka batu. Bentuknya aneh, seperti meja tanpa kaki.
Lumo bersembunyi. Ia pernah diajari untuk waspada pada manusia.
Namun manusia-manusia itu bergerak pelan. Mereka tidak menyentuh karang lama. Mereka hanya menata rangka, lalu pergi.
Beberapa hari kemudian, mereka kembali membawa potongan karang kecil.
Lumo tertegun. Karang… baru?
Bab 7: Karang Kecil Bernama Nara
Salah satu karang kecil itu jatuh tidak jauh dari rumah Lumo. Warnanya pucat, ukurannya kecil, tapi terlihat hidup.
Lumo mendekat.
“Halo,” katanya ragu.
Karang kecil itu tentu tidak menjawab, tapi Lumo merasakan getaran halus.
Lumo memberi nama karang itu Nara.
Setiap hari, Lumo datang menjenguk Nara. Ia menjaga agar tidak ada ikan besar yang menabraknya. Ia membersihkan pasir halus yang menempel.
Lumo merasa, untuk pertama kalinya, ia melindungi rumah, bukan hanya berlindung di dalamnya.
Bab 8: Konflik Kecil yang Menguji
Suatu sore, arus datang lebih kuat dari biasanya. Rangka karang bergoyang. Nara hampir tergeser.
Lumo panik. Ia memanggil ikan lain. Mereka berenang mengelilingi rangka, memberi ruang agar arus lewat tanpa menghantam langsung.
Tidak ada yang rusak parah. Tapi semua lelah.
Malam itu, Lumo mengerti: menolong tidak selalu mudah, tapi selalu perlu dicoba.
Bab 9: Anak Manusia yang Menggambar Laut
Di darat, seorang anak manusia bernama Raka duduk di tepi pantai sambil menggambar. Ia menggambar terumbu karang dengan warna cerah, meski yang ia lihat kini tidak secerah itu.
“Aku mau laut ingat dirinya sendiri,” kata Raka.
Ayahnya tersenyum dan berkata, “Karang tumbuh pelan. Tapi ia ingat.”
Bab 10: Bertumbuh Tanpa Suara
Bulan berganti. Nara mulai menumbuhkan cabang kecil. Warnanya belum cerah, tapi tidak lagi pucat.
Ikan kecil datang dan pergi. Beberapa tinggal.
Lumo merasa Teluk Purnama bernapas lagi—pelan, tapi nyata.
Bab 11: Ujian Panas yang Kembali
Musim panas datang lagi. Air menghangat. Beberapa karang kembali pucat.
Manusia memasang peneduh sementara. Mereka datang lebih sering memeriksa.
Tidak semua selamat. Tapi lebih banyak yang bertahan dibanding sebelumnya.
Lumo belajar satu hal penting: pulih bukan berarti tidak pernah sakit lagi, tapi belajar bertahan lebih baik.
Bab 12: Teluk yang Tidak Menyerah
Setahun kemudian, Teluk Purnama tidak sempurna. Tapi warna kembali hadir. Anak-anak ikan lahir. Pio bahkan sempat kembali, hanya untuk menyapa.
“Kamu bertahan,” kata Pio kagum.
“Kita semua belajar,” jawab Lumo.
Epilog: Napas yang Dijaga Bersama
Lumo berenang di antara karang lama dan baru. Ia tahu rumahnya pernah hampir hilang.
Kini, rumah itu tidak hanya berdiri—ia bernapas.
Dan Lumo tahu, selama ada yang mau menjaga, laut tidak pernah benar-benar menyerah.




















