Akar yang Menahan Laut
Bab 1: Desa Air yang Tenang
Di tepi laut yang airnya tidak pernah benar-benar diam, berdirilah sebuah desa kecil bernama Muara Lindu. Rumah-rumahnya bertiang, berdiri di atas air payau yang naik dan turun mengikuti bulan. Anak-anak desa terbiasa mendengar bunyi air menyentuh kayu, seperti lagu pengantar tidur yang tak pernah sama.
Di depan desa itu, terbentang hutan mangrove—akar-akarnya menjuntai seperti jari-jari yang memeluk lumpur. Mangrove tidak tinggi menjulang seperti pohon gunung, tetapi ia kuat. Ia menahan arus, menyaring air, dan memberi tempat berlindung bagi makhluk kecil yang jarang diperhatikan.
Di antara akar-akar itu, hiduplah seekor kepiting kecil bernama Kiri.
Kiri tidak punya capit besar. Ia bukan kepiting yang ditakuti. Tapi Kiri punya kebiasaan: ia selalu menghafal akar. Ia tahu akar mana yang kuat, mana yang licin, mana yang jadi jalan aman saat air pasang.
“Akar adalah peta,” kata Kiri pada dirinya sendiri. “Kalau kamu kenal akarnya, kamu tidak tersesat.”
Bab 2: Laut yang Datang Lebih Dekat
Suatu musim, Kiri merasakan sesuatu berubah. Air pasang datang lebih tinggi. Lumpur yang biasanya tenang mulai terkikis. Akar-akar mangrove yang tua terlihat lebih sering, seolah meminta tolong.
Burung kuntul bernama Sela yang sering berdiri di akar mangrove berkata, “Laut makin dekat.”
Kiri mengangkat capit kecilnya. “Bukankah laut selalu dekat?”
Sela menggeleng. “Dulu laut datang pelan. Sekarang ia datang terburu-buru.”
Malam itu, angin bertiup lebih keras. Ombak kecil memukul akar. Tidak menghancurkan, tapi cukup membuat semua makhluk waspada.
Bab 3: Rumah yang Hilang Diam-Diam
Beberapa hari kemudian, badai datang tanpa banyak tanda. Air naik cepat. Akar-akar mangrove menahan sebisanya, tapi di satu bagian—tempat mangrove sudah jarang—lumpur terkikis lebih dalam.
Kiri kehilangan satu jalur aman. Akar yang biasa ia lewati roboh.
Ia berhenti lama, menatap ruang kosong.
“Rumah bisa hilang tanpa suara,” gumamnya.
Kepiting lain mulai pindah ke bagian mangrove yang masih rapat. Tapi itu berarti lebih sesak. Lebih banyak perebutan ruang. Lebih banyak konflik kecil.
Bab 4: Sahabat yang Terbang Lebih Jauh
Sela si burung kuntul tidak lagi sering datang. Ia terbang lebih jauh mencari tempat berpijak yang aman.
“Maaf, Kiri,” kata Sela suatu pagi. “Aku harus cari lumpur yang tidak tenggelam.”
Kiri mengangguk, walau hatinya berat. “Kalau ketemu akar yang kuat, kabari aku.”
Saat Sela pergi, hutan mangrove terasa lebih sunyi. Bukan sunyi yang damai, melainkan sunyi yang cemas.
Bab 5: Anak Manusia Bernama Aru
Di desa Muara Lindu, tinggal seorang anak manusia bernama Aru. Aru suka duduk di tepi jembatan kayu, menatap mangrove. Ia sering melihat kepiting kecil mondar-mandir.
“Kepiting itu rajin,” kata Aru pada neneknya.
Nenek Aru tersenyum. “Mangrove mengajari mereka sabar.”
Suatu sore, Aru melihat air pasang naik hingga hampir menyentuh lantai rumah. Ia teringat cerita kakeknya tentang masa lalu, ketika mangrove lebih lebat dan air lebih jinak.
“Kenapa mangrovenya berkurang?” tanya Aru.
Neneknya menjawab pelan, “Karena dulu kita lupa, Nak.”
Bab 6: Konflik Kecil di Akar Rapuh
Di hutan mangrove, kepiting-kepiting mulai berselisih. Bukan berkelahi besar, tapi dorong-dorongan kecil soal ruang berlindung.
Kiri hampir terjatuh saat berebut akar dengan kepiting yang lebih besar.
“Maaf,” kata Kiri, menepi.
Ia memilih jalur lebih berbahaya. Lumpur lebih lunak. Air lebih dalam. Tapi ia tidak ingin memperkeruh suasana.
Malam itu, ombak kembali datang. Kiri nyaris hanyut, namun berhasil berpegangan pada akar tipis yang tersisa.
Ia gemetar, bukan karena dingin, tapi karena sadar: tanpa akar, semua kecil jadi rapuh.
Bab 7: Kedatangan Tangan yang Menanam
Suatu pagi, hutan mangrove ramai oleh bunyi langkah manusia. Tapi bukan langkah yang merusak. Langkah itu pelan, berhenti-berhenti.
Manusia datang membawa bibit kecil—pohon mangrove muda.
Kiri bersembunyi, waspada. Tapi ia melihat sesuatu yang berbeda: manusia-manusia itu menanam, bukan menebang. Mereka menancapkan bibit, mengikatnya agar tidak roboh, lalu pergi.
“Kenapa mereka menaruh pohon kecil?” bisik Kiri.
Ikan kecil bernama Nino yang berenang di air payau menjawab, “Katanya supaya laut nggak marah.”
Kiri tidak paham laut marah atau tidak, tapi ia paham satu hal: akar baru muncul.
Bab 8: Akar Muda Bernama Tena
Salah satu bibit tumbuh dekat jalur Kiri. Akarnya masih kecil, tapi berani.
Kiri menyentuhnya pelan. “Kamu masih lemah.”
Akar itu tidak menjawab, tapi mencengkeram lumpur sedikit lebih dalam.
Kiri memberi nama akar itu Tena.
Setiap hari, Kiri membersihkan lumpur berlebih di sekitar Tena. Ia mengusir sampah kecil yang tersangkut. Ia menjaga agar arus tidak langsung menghantam.
Kiri merasa aneh—selama ini ia berlindung pada akar, kini ia melindungi akar.
Bab 9: Ujian Pertama
Badai kecil datang lagi. Air naik, tapi kali ini, di tempat Tena tumbuh, lumpur tidak banyak terkikis.
Akar muda itu menahan sedikit. Tidak banyak, tapi cukup.
Kiri bertahan di sana bersama beberapa kepiting kecil. Mereka saling berdesakan, tapi selamat.
“Pelan-pelan kuat,” gumam Kiri.
Bab 10: Desa yang Ikut Belajar
Di desa, Aru ikut orang-orang dewasa menanam mangrove. Tangannya kotor lumpur. Kakinya tenggelam, tapi ia tertawa.
“Akar ini buat siapa?” tanya Aru.
“Buat semua,” jawab seorang ibu. “Buat laut, buat desa, buat kepiting.”
Aru tersenyum. Ia menggambar mangrove di buku tulisnya, lengkap dengan kepiting kecil di bawahnya.
Bab 11: Tumbuh Tanpa Suara
Bulan berganti. Mangrove muda bertambah. Tena kini punya lebih banyak akar. Air yang datang terasa lebih pelan di sekitarnya.
Sela si burung kuntul kembali. Ia berdiri di akar yang baru.
“Kamu menemukan rumah,” kata Kiri.
Sela mengangguk. “Kita menemukannya bersama.”
Ikan-ikan kecil kembali bermain. Lumpur lebih stabil. Konflik kecil berkurang karena ruang bertambah.
Bab 12: Kesalahan Kecil dan Pelajaran Besar
Suatu hari, beberapa manusia menanam mangrove terlalu rapat di satu titik. Arus berubah, membuat lumpur menumpuk tidak merata.
Beberapa bibit miring.
Manusia kembali, memperbaiki jarak tanam, memindahkan yang perlu dipindah.
Kiri memperhatikan. Ia belajar bahwa niat baik pun perlu belajar.
Bab 13: Badai Besar yang Ditunggu
Musim berikutnya, badai yang lebih kuat datang. Ombak mendorong lebih keras. Angin mengaum.
Hutan mangrove menahan. Akar lama dan baru bekerja bersama. Tidak sempurna—beberapa ranting patah—tapi desa selamat.
Air tidak masuk sejauh dulu.
Kiri bertahan di bawah Tena, kini sudah kuat. Ia menutup mata saat arus lewat.
Ketika badai reda, hutan masih berdiri.
Bab 14: Rumah yang Mengingat
Setelah badai, Muara Lindu terasa berbeda. Bukan karena tidak ada bahaya, tapi karena ada kepercayaan.
Kiri berjalan di antara akar yang kini lebih rapat. Ia ingat hari ketika jalur aman hilang. Kini, jalur baru muncul.
Sela kembali rutin datang. Nino membawa teman-teman ikan.
Tena tumbuh tinggi, akarnya menjalar jauh.
Epilog: Akar yang Menahan Laut
Kiri berdiri di bawah mangrove, menatap air yang naik dan turun dengan lebih sopan.
Ia mengerti satu hal penting:
yang menahan laut bukan kekuatan besar,
melainkan banyak akar kecil yang bekerja bersama.
Dan selama ada yang mau menanam, menjaga, dan belajar,
desa air, hutan mangrove, dan makhluk kecil sepertinya
masih punya masa depan.




















