Sunshine dan Sungai yang Salah Arah

Bab 1: Laut yang Mengajar Keberanian

Di tepi laut yang dinginnya seperti es batu yang lembut, hiduplah kawanan anjing laut di pesisir yang ramai oleh angin. Mereka tidak punya rumah dari batu atau kayu. Rumah mereka adalah ombak, pasir, dan karang yang tahu cara menyimpan gema.

Di antara kawanan itu ada anak anjing laut kecil bernama Sunshine.

Namanya bukan karena ia selalu bahagia, tapi karena matanya—kalau kena sinar sore—berkilau seperti ada matahari kecil di dalamnya. Namun belakangan, kilau itu sering redup.

Sunshine masih sangat muda. Tubuhnya lebih kecil dari anak-anak lain. Saat yang lain sudah kuat bermain dorong-dorongan di air dangkal, Sunshine lebih sering memilih menepi dan menempel pada batu yang hangat.

“Kenapa kamu diam saja?” tanya Bubbles, anak anjing laut yang gemuk dan selalu penuh energi.

Sunshine mengangkat bahu kecilnya. “Aku capek.”

Bubbles tidak paham. Di dunia anak-anak, capek itu biasanya cuma sebentar. Tapi di tubuh Sunshine, capek seperti jaket berat yang dipakai seharian.

Ibu Sunshine sering memeluknya dengan sirip. “Kamu jangan jauh-jauh, ya.”

Sunshine mengangguk. Ia patuh… sampai suatu hari.

Hari itu laut sedang ramai. Ombak datang dengan ritme cepat, seperti ada yang mengejar waktu. Sunshine melihat ikan-ikan kecil melintas, berkilau seperti serpihan kaca. Perutnya lapar—lapar yang bukan sekadar “ingin camilan”, tapi lapar yang membuat pikirannya terus menatap air.

Sunshine berenang sedikit lebih jauh.

“Jangan jauh!” suara ibunya terdengar, tapi tertutup angin.

Sunshine mengejar satu kilau ikan.

Kilau itu bergerak cepat.

Sunshine mengikuti.

Bab 2: Arus yang Suka Menggoda

Laut punya kebiasaan aneh: kalau kamu merasa sudah dekat, ia membuat jarak baru.

Sunshine mengejar ikan sampai ke tempat arus berubah. Arus itu seperti jalan bercabang yang tidak memberi papan petunjuk. Ikan kecil menghilang, tapi Sunshine sudah terlanjur jauh.

Ia menoleh.

Pantai tampak lebih kecil dari sebelumnya.

Sunshine menelan ludah. Ia ingin balik, tapi arus seperti tangan yang mendorong dari belakang.

“Kamu bisa,” Sunshine menyemangati diri sendiri, meski suaranya gemetar.

Ia berenang mengikuti arah air yang terasa paling lembut. Dan tanpa sadar, ia masuk ke jalur yang tidak biasa ia kenal: jalur yang menuju tempat air mulai terasa… kurang asin.

Sungai.

Sunshine tidak tahu kata “sungai”. Ia hanya tahu rasa airnya berbeda. Ia mengira mungkin di sana ada ikan yang lebih mudah ditangkap.

Perutnya masih lapar.

Jadi ia terus maju.

Bab 3: Sungai yang Terlalu Sunyi

Semakin jauh Sunshine berenang, semakin sunyi suara ombak. Angin masih ada, tapi baunya berubah. Tidak lagi bau garam tajam, melainkan bau tanah basah, rumput, dan daun yang jatuh.

Air menjadi lebih tenang. Ombak diganti riak kecil.

Sunshine muncul ke permukaan dan melihat sekeliling.

Tidak ada pasir pantai yang luas. Tidak ada kawanan.

Yang ada hanya tepian hijau, pohon-pohon yang menunduk, dan burung-burung yang memandangnya seolah berkata, “Kamu siapa?”

Sunshine merasa tubuhnya dingin. Bukan karena air, tapi karena rasa asing.

Di atas dahan, seekor burung bangau tua bernama Sir Heron mengangkat kepala.

“Hmm,” kata Sir Heron, suaranya lambat. “Pengunjung dari laut.”

Sunshine mengangguk kecil, malu. “Aku… cuma cari makan.”

Sir Heron mengamati tubuh Sunshine yang kurus. “Kamu salah jalan, Nak.”

Sunshine menunduk. “Aku nggak tahu jalannya.”

Sir Heron tidak menertawakan. Ia hanya berkata, “Sungai memang suka membuat orang lupa arah.”

Sunshine ingin menangis, tapi ia menahan. Ia tidak mau terlihat lemah. Tapi perutnya berbunyi keras—suara yang tidak bisa disembunyikan.

Bab 4: Otter yang Suka Bercanda

Dari sela rumput, muncul seekor berang-berang bernama Otti. Otti lucu, lincah, dan punya kebiasaan muncul tiba-tiba seperti prank yang tidak jahat.

“Waduh,” kata Otti. “Ini bukan ikan baru kan? Ini anjing laut.”

Sunshine menatapnya dengan curiga. “Aku bukan ikan.”

Otti tertawa. “Aku tahu. Tadi aku cuma bercanda. Aku jarang lihat anjing laut di sini.”

Sunshine merasa sedikit lega.

Otti berenang mengelilingi Sunshine, menjaga jarak sopan. “Kamu nyasar ya?”

Sunshine mengangguk.

Otti menghela napas. “Kalau kamu nyasar, berarti kamu butuh dua hal: makanan dan arah.”

Sunshine memandang air. “Aku lapar.”

Otti menunjuk ke tepian. “Di sungai ada ikan, tapi kamu harus kuat dan sabar. Dan… jujur aja, kamu kelihatan perlu istirahat dulu.”

Sunshine ingin protes—ia ingin terlihat hebat—tapi tubuhnya memang lemah. Jadi ia hanya mengangguk.

Otti berkata, “Aku bisa bantu cari ikan kecil. Tapi kamu jangan paksa diri.”

Malam turun pelan. Sungai semakin dingin. Sunshine meringkuk di dekat tepi yang tenang, menatap langit yang bintangnya terasa jauh.

Di kepalanya muncul satu pertanyaan yang menakutkan:
“Kalau aku tidak bisa pulang, siapa yang cari aku?”

Bab 5: Jaring yang Datang Tanpa Undangan

Keesokan harinya, Sunshine merasa sedikit lebih baik setelah tidur singkat, tapi lapar itu tetap ada. Otti datang membawa ikan kecil. Sunshine makan perlahan.

Sir Heron berkata dari atas, “Kamu harus hati-hati. Sungai punya bahaya yang tidak kamu kenal.”

Sunshine mengangguk.

Tapi lapar suka membuat orang jadi nekat.

Saat siang hampir habis, Sunshine mencium bau ikan yang lebih kuat. Bau itu seperti pesta makanan. Ia mengikuti bau itu sampai ke area yang airnya sedikit lebih dalam.

Di sana, ada sesuatu seperti kantong jala yang menggantung di air—keep net milik seorang pemancing.

Sunshine tidak tahu itu jaring. Ia hanya melihat kilau ikan di dalamnya.

“Wah,” bisik Sunshine, matanya membesar. “Banyak…”

Ia mendekat. Ia memasukkan kepalanya ke dalam jaring.

Lalu… jaring itu menahan.

Sunshine kaget. Ia menarik kepala, tapi semakin ia menarik, semakin jaring menegang.

Panika datang seperti gelombang besar.

Sunshine berputar, menggeliat, mencoba lepas. Air menjadi bergejolak. Ia merasa napasnya berat.

Otti melihat dari jauh dan teriak, “Sunshine! Jangan gerak liar!”

Tapi orang yang panik sulit mendengar.

Jaring itu tidak berniat jahat. Tapi jaring adalah benda. Benda tidak punya rasa kasihan.

Sunshine makin lelah.

Bab 6: Manusia yang Tidak Memilih Marah

Tak lama kemudian, suara langkah terdengar dari tepi sungai. Seorang pemancing manusia, Mr. Finn, datang memeriksa jaringnya.

Ia mengira akan melihat ikan besar.

Yang ia lihat justru wajah anjing laut kecil yang tampak ketakutan.

Mr. Finn membeku.

Sunshine menatapnya dengan mata lebar. Ia tidak tahu apakah manusia ini akan berteriak atau melempar sesuatu. Ia pernah mendengar cerita dari hewan lain: manusia kadang takut pada yang asing.

Namun Mr. Finn tidak berteriak.

Ia juga tidak memukul air.

Ia hanya berkata pelan—suaranya lembut seperti orang yang bicara pada anak kecil, “Oh… kamu dari mana, nak?”

Sunshine tidak mengerti kata-katanya, tapi mengerti nadanya: tidak marah.

Mr. Finn berjongkok dan pelan-pelan memegang jaring. Ia membuka bagian yang menahan kepala Sunshine, hati-hati sekali, seperti membuka simpul pada pita hadiah.

Sunshine akhirnya lepas. Ia mundur cepat, masih panik.

Mr. Finn tidak mengejar. Ia hanya mengangkat dua tangan, memberi tanda aman.

Otti mengintip dari balik rumput. Sir Heron menatap dari atas.

Mr. Finn melihat tubuh Sunshine yang kurus. Ia mengerutkan kening. “Kamu kecil banget…”

Ia mengeluarkan ponsel dan berbicara dengan seseorang. Sunshine tidak tahu itu apa, tapi ia melihat wajah Mr. Finn serius.

Tak lama, datang manusia lain. Mereka membawa kain dan kotak besar.

Sunshine mulai takut lagi. Ia mencoba berenang kabur, tapi tubuhnya terlalu lelah.

Otti berbisik, “Tenang. Ini bukan penangkap. Ini penolong.”

Sunshine tidak yakin, tapi ia sudah tidak punya tenaga untuk melawan.

Manusia-manusia itu bergerak pelan. Mereka menutup Sunshine dengan kain lembut agar ia hangat dan tenang. Mereka memasukkan Sunshine ke wadah dengan hati-hati.

Sunshine gemetar, tetapi tidak kesakitan.

Di kejauhan, Otti melambaikan ekornya kecil.

Sir Heron berkata pelan, “Kadang, keselamatan datang lewat tangan yang tidak kita duga.”

Bab 7: Rumah Sementara Bernama “Pusat Pemulihan”

Sunshine terbangun di tempat yang tidak berbau sungai, tidak berbau laut, melainkan berbau bersih dan hangat. Ada suara air mengalir dari selang kecil. Ada manusia yang bergerak pelan.

Seorang perempuan manusia, Ms. Sally, mendekat. Ia berbicara lembut. Sunshine tidak paham kata-kata, tapi paham: ini tempat yang aman.

Sunshine diberi air. Diberi makanan yang lembut, seperti sup ikan yang halus. Tubuhnya yang lemah menerima pelan-pelan.

Hari pertama, Sunshine lebih banyak tidur.

Di hari kedua, ia mulai mengangkat kepala lebih lama.

Hari ketiga, ia mulai menatap sekeliling.

Ia melihat hewan lain: ada burung Garuda yang sayapnya diperban, ada anak landak yang sedang makan, ada rubah muda yang terlihat malu.

Tempat itu ramai, tapi bukan ramai yang bising. Ramainya seperti kelas yang semua orang sedang belajar.

Sunshine bertemu seekor burung hantu kecil bernama Momo, yang sedang dipulihkan karena pernah tersesat juga.

Momo berkedip pelan. “Kamu juga nyasar?”

Sunshine mengangguk.

Momo berkata, “Aku pernah jatuh karena bingung sama lampu kota. Aku kira itu bulan.”

Sunshine terdiam. Ia baru sadar: bukan hanya dirinya yang bisa salah arah.

Di tempat itu, mereka semua punya satu kesamaan:
mereka tidak “nakal”. Mereka hanya “tersesat”.

Bab 8: Konflik Kecil di Dalam Diri

Beberapa hari pertama, Sunshine sering gelisah saat malam. Ia mendengar suara angin dari luar dan merasa seperti sedang dipanggil.

Kadang ia bermimpi ombak. Kadang ia terbangun dengan napas cepat.

Ms. Sally menenangkannya, menaruh tangan di dekatnya tanpa memaksa menyentuh. Seolah berkata, “Kamu aman.”

Namun Sunshine punya konflik kecil yang tidak terlihat: ia merasa bersalah.

“Aku yang salah,” pikir Sunshine. “Aku terlalu jauh dan bikin orang-orang repot.”

Momo, burung hantu, suatu hari berkata, “Kamu kelihatan sedih.”

Sunshine menunduk. “Aku bikin masalah.”

Momo menggeleng. “Kamu bikin cerita. Cerita yang bikin orang belajar.”

Sunshine menatapnya, bingung.

Momo melanjutkan, “Kalau kamu nggak tersesat, manusia mungkin nggak ingat bahwa sungai bisa mengantar hewan laut jauh ke pedalaman. Kalau kamu nggak ketemu jaring itu, mungkin tidak ada yang sadar ada anak anjing laut lapar di sini.”

Sunshine diam.

Kata-kata itu seperti selimut hangat. Tidak menghapus rasa bersalah, tapi membuatnya lebih ringan.

Sunshine mulai memaksa dirinya berpikir:
mungkin ini bukan hukuman. mungkin ini kesempatan untuk pulih.

Bab 9: Latihan Kecil yang Jadi Besar

Setelah tubuh Sunshine lebih kuat, para manusia mulai mengajaknya latihan. Bukan latihan berat. Latihan kecil:

  • berenang di kolam yang lebih luas,
  • belajar menangkap ikan sendiri,
  • belajar tidak panik saat ada suara mendadak.

Sunshine jatuh bangun—bukan jatuh secara literal, tapi “gagal coba”.

Kadang ia melompat terlalu cepat dan cipratannya bikin dirinya kaget. Kadang ia mengejar ikan tapi kehilangan napas duluan.

Tapi hari demi hari, ia membaik.

Ms. Sally tersenyum sering. “Kamu makin kuat.”

Sunshine tidak tahu arti kata “kuat”, tapi ia merasakan energi kembali ke siripnya. Matanya kembali punya kilau.

Ia mulai main lagi—sedikit.

Ia kadang menyiprat air kecil ke Momo, lalu pura-pura tidak bersalah.

Momo membalas dengan menatap tajam, lalu berkedip lambat, seolah berkata, “Aku liat, ya.”

Sunshine tertawa dalam hati.

Ternyata pulih itu bukan cuma soal makan. Pulih juga soal bisa bercanda lagi.

Bab 10: Kabar dari Sungai

Suatu hari, Sunshine mendengar Ms. Sally dan manusia lain bicara tentang “Boxing Day” dan “River Bure” dan “Horning”. Sunshine tidak paham semuanya, tapi ia menangkap satu hal: manusia membicarakan kisahnya.

Mereka bilang ini salah satu penyelamatan yang paling tidak biasa tahun itu—anak anjing laut yang bisa sampai jauh sekali ke pedalaman. People.com

Sunshine terdiam.

Di dalam dirinya, muncul rasa hangat yang aneh: ia bukan cuma “anak yang nyasar”. Ia jadi pengingat bahwa alam punya jalur-jalur rahasia yang manusia pun kadang lupa.

Ms. Sally juga menyebut Sunshine “underweight” dan mengatakan ia butuh waktu untuk benar-benar sehat. People.com

Sunshine tidak suka kata “kurus” kalau itu jadi label. Tapi ia suka kalau itu jadi alasan orang-orang merawatnya.

Bab 11: Hari Ketika Sunshine Siap Pulang

Waktu terus berjalan. Tubuh Sunshine semakin berisi. Siripnya lebih kuat. Ia bisa menyelam lebih lama tanpa panik.

Pada suatu pagi, Ms. Sally berdiri di depan kandangnya dan berkata dengan suara yang terdengar berbeda: lebih ringan.

Hari itu, Sunshine dibawa ke tempat yang berbau familiar: udara asin.

Laut.

Sunshine membuka mata lebar. Ia melihat garis ombak. Ia mendengar suara yang dulu jadi musik rumahnya.

Ia gemetar—kali ini bukan karena takut, tapi karena rasa yang terlalu penuh.

Ms. Sally tidak menahan terlalu lama. Ia tahu, makhluk liar tidak boleh jadi milik siapa pun. Tugas manusia yang baik bukan menyimpan, tapi mengembalikan.

Sunshine dibawa ke pasir yang basah. Ia menatap ombak.

Ombak datang dan mundur, seperti berkata, “Ayo.”

Sunshine melangkah.

Satu langkah. Dua langkah.

Air menyentuh perutnya.

Sunshine menoleh sebentar ke arah manusia. Ia tidak tahu cara berkata terima kasih. Tapi ia punya cara sendiri: ia menatap lama, lalu mengangguk kecil—gerakan yang mungkin terlihat sederhana, tapi penuh makna.

Lalu ia berenang.

Tidak terburu-buru. Tidak panik.

Ia masuk ke laut seperti pulang.

Epilog: Bintang yang Menemukan Arah

Di pesisir, malam turun. Bintang muncul satu per satu.

Di bawah air, Sunshine berenang lebih dalam. Ia masih muda, masih akan belajar banyak hal. Tapi kini ia punya satu pelajaran yang akan ia bawa seumur hidup:

Kalau kamu tersesat, jangan menyerah. Kadang jalan pulang datang lewat kebaikan yang tidak kamu rencanakan.

Dan di sungai jauh di pedalaman, Otti si berang-berang mungkin masih bercerita ke anak-anak berang-berang:

“Pernah ada anak laut yang nyasar ke sini. Kita hampir mengira sungai ini bercanda. Tapi ternyata… sungai cuma ngasih ujian. Dan manusia, sekali ini, memilih jadi jembatan.”

Sir Heron tetap berdiri anggun di dahan.

Om Sova di hutan mungkin berkata, “Aku bilang juga. Perubahan kadang datang dari arah yang tidak kita duga.”

Sementara di laut, Sunshine menatap bulan dari permukaan air.

Kali ini, ia tidak mengejar kilau sembarangan.

Ia belajar: kilau yang benar bukan yang paling cepat, tapi yang membawa pulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link