Sungai yang Dilupakan dan Burung yang Masih Mengingat
Pada masa ketika embun masih dipercaya sebagai pesan langit dan tanah berbicara melalui retakan-retakannya, hiduplah sebuah negeri hewan bernama Lembah Sagara. Lembah ini dibelah oleh satu sungai besar bernama Sungai Awan, sungai yang airnya jernih seperti kaca dan dinginnya mampu menenangkan amarah siapa pun yang menyentuhnya.
Sungai Awan bukan hanya sumber air. Ia adalah nadi kehidupan. Dari sanalah rumput tumbuh, buah matang, ikan berkembang, dan mimpi-mimpi kecil para penghuni lembah mengalir tanpa hambatan.
Selama ratusan musim, keseimbangan Lembah Sagara dijaga oleh kesepakatan tak tertulis:
ambil secukupnya, kembalikan sisanya pada alam.
Pemimpin lembah adalah Gajah tua bernama Mahesa, bertubuh besar dengan gading yang mulai kusam oleh usia. Ia jarang berbicara keras, tetapi sekali melangkah, tanah seolah mendengar. Mahesa tidak memerintah dengan rasa takut, melainkan dengan ingatan—ingatan tentang masa ketika sungai pernah hampir mengering, dan bagaimana seluruh lembah hampir musnah karenanya.
Datangnya Gagasan Baru
Suatu hari, dari hilir sungai, datanglah Berang-berang bernama Kala. Tubuhnya ramping, matanya tajam, dan pikirannya bergerak lebih cepat dari arus air. Kala dikenal cerdas dalam membangun bendungan kecil untuk rumahnya sendiri, dan banyak hewan mengagumi caranya mengatur aliran air.
Kala menghadap Mahesa dengan penuh keyakinan.
“Paduka,” katanya, “Sungai Awan mengalir terlalu bebas. Airnya terbuang ke laut tanpa memberi manfaat maksimal bagi kita. Dengan bendungan besar, kita bisa menyimpan air, mengatur alirannya, dan memastikan tidak ada lagi kekeringan.”
Beberapa hewan terdiam. Ide itu terdengar masuk akal. Musim kemarau memang semakin panjang, dan hujan sering datang tak menentu.
Mahesa menatap Kala lama sekali.
“Air bukan hanya untuk hari ini,” jawabnya pelan. “Ia juga untuk mereka yang belum lahir.”
Kala tersenyum sopan.
“Justru itu, Paduka. Aku memikirkan masa depan.”
Kata masa depan menggema di benak banyak hewan.
Bendungan Pertama
Tanpa menunggu persetujuan seluruh lembah, Kala mulai membangun bendungan di salah satu cabang Sungai Awan. Ia dibantu oleh kawanan Berang-berang muda yang bersemangat, serta beberapa hewan lain yang tergiur janji air berlimpah.
Awalnya, tidak ada yang tampak salah. Kolam air terbentuk. Persediaan terlihat melimpah. Hewan-hewan di sekitar bendungan hidup lebih nyaman.
Namun, di hulu sungai, Ikan-ikan kecil mulai kesulitan berenang. Lumpur menumpuk. Air tidak lagi mengalir jernih.
Burung Kuntul bernama Sira, yang setiap hari terbang mengikuti alur sungai, mulai merasakan ada yang berubah. Ia melihat genangan yang tak wajar, tanaman air yang mati, dan ikan-ikan yang menghilang.
Sira mencoba memperingatkan hewan lain, tetapi suaranya dianggap terlalu kecil.
“Burung selalu melihat dari atas,” kata sebagian hewan. “Kau tak paham kebutuhan di darat.”
Retaknya Kesepakatan Lama
Melihat keberhasilan bendungan pertama, Kala mengusulkan lebih banyak bendungan. Kali ini, ia tidak lagi meminta izin Mahesa.
“Kita sudah terlalu lama terikat aturan lama,” katanya di pertemuan terbuka. “Dunia berubah. Sungai harus dikendalikan, bukan dibiarkan.”
Sebagian hewan mendukungnya. Mereka lelah hidup pas-pasan, lelah menunggu alam yang tak pasti.
Mahesa mencoba berbicara, tetapi suaranya tenggelam oleh sorak dukungan.
Untuk pertama kalinya, kesepakatan lama dilanggar.
Musim Air yang Aneh
Tahun berikutnya, hujan turun deras. Bendungan menahan air, dan lembah bagian hilir justru kekurangan aliran. Tanah mengering. Rumput mati.
Saat kemarau tiba, bendungan-bendungan itu tidak cukup menyelamatkan semua wilayah. Air habis lebih cepat dari perkiraan.
Sungai Awan mulai terlihat lelah.
Hewan-hewan mulai bertengkar.
Wilayah hulu menyimpan air.
Wilayah hilir menuntut aliran.
Kala berusaha mengatur, tetapi aliran air tidak patuh pada perhitungan semata.
Tanda yang Diabaikan
Suatu pagi, Mahesa berjalan tertatih ke tepi sungai. Ia melihat retakan panjang di dasar sungai—retakan yang pernah ia lihat puluhan musim lalu.
“Ini pernah terjadi,” gumamnya. “Dan berakhir buruk.”
Ia memanggil Kala.
“Bendungan harus dibuka,” kata Mahesa tegas. “Sungai tidak boleh dicekik.”
Kala menatap sungai, ragu.
“Jika dibuka sekarang, semua akan sia-sia.”
Mahesa menjawab pelan,
“Yang sia-sia adalah membiarkan semuanya mati.”
Namun, keputusan ditunda. Dan alam tidak menunggu.
Hari Ketika Sungai Diam
Pada suatu malam yang sunyi, tanah bergetar pelan. Bendungan terbesar retak. Air yang tertahan bertahun-tahun meluap tanpa kendali.
Banjir menghantam lembah. Sarang hanyut. Pohon tumbang. Hewan-hewan berlarian dalam kepanikan.
Ketika air surut, Sungai Awan tidak lagi jernih. Ia keruh, dangkal, dan penuh lumpur.
Banyak hewan kehilangan rumah. Banyak yang kehilangan nyawa.
Kala berdiri di reruntuhan bendungan, tubuhnya gemetar. Semua perhitungan, semua keyakinan, runtuh bersama kayu-kayu yang ia susun.
Suara yang Tersisa
Di tengah keheningan, Sira si Burung Kuntul kembali terbang menyusuri sungai. Ia melihat kehancuran, tetapi juga melihat sesuatu yang lain—tunas kecil di tanah basah.
Sira hinggap di dekat Mahesa yang terbaring lemah.
“Belum semuanya hilang,” kata Sira.
Mahesa tersenyum tipis.
“Selama masih ada yang mengingat, harapan selalu ada.”
Kala mendekat, menunduk.
“Aku ingin menguasai sungai,” katanya lirih. “Padahal sungai tidak pernah ingin dikuasai.”
Belajar Mengalir Kembali
Setelah bencana, tidak ada lagi pemimpin tunggal. Hewan-hewan membentuk Lingkar Sungai, tempat setiap suara didengar—besar maupun kecil.
Bendungan dibongkar perlahan. Aliran sungai dipulihkan. Tidak semua berhasil. Banyak bagian lembah berubah selamanya.
Namun, kehidupan kembali menemukan jalannya.
Kala tidak lagi membangun bendungan. Ia membantu mengatur aliran kecil, mengikuti irama alam, bukan memaksanya.
Sira mengajarkan anak-anak burung membaca tanda air.
Dan Mahesa, sebelum menghembuskan napas terakhir, berkata pada lembah:
“Air mengalir bukan karena lemah, tetapi karena ia tahu kapan harus memberi jalan.”
Akhir yang Tidak Pernah Benar-Benar Usai
Hingga kini, Sungai Awan tidak pernah sepenuh dulu. Namun, setiap makhluk di Lembah Sagara tahu satu hal:
Krisis tidak selalu datang karena kekurangan, tetapi karena lupa akan batas.
Dan setiap kali air mulai menyusut, mereka tidak lagi bertanya,
“Bagaimana cara menguasainya?”
melainkan,
“Bagaimana cara menjaganya bersama?”




















