Di ujung dunia yang jarang diingat peta, ada satu hamparan negeri yang disebut penghuni-penghuninya sebagai Rimba Tanah Merah. Tanahnya berwarna bata, langitnya luas, dan anginnya punya kebiasaan menyisir dedaunan seperti tangan tua yang sabar. Di sana, hidup banyak bangsa hewan yang saling mengenal musim: kapan rumput muda muncul, kapan buah-buah pecah manis, kapan sungai tinggal garis tipis yang memantulkan matahari.
Rimba Tanah Merah bukan negeri yang sempurna, tapi ia punya satu aturan yang membuatnya bertahan lama:
Kalau kau mengambil, kau harus paham apa yang kau kurangi.
Aturan itu tidak ditulis di batu, tidak dipaku di balai pertemuan. Ia hidup di kebiasaan: burung-burung yang tidak mengambil ranting dari sarang orang lain, kijang yang tidak merumput sampai akar, dan para berang-berang yang membangun bendungan kecil tanpa menutup seluruh aliran.
Pemimpin Rimba Tanah Merah bukan raja yang suka pidato. Ia seekor Dingo tua bernama Wira, bulunya mulai memutih di sekitar moncong, dan langkahnya seperti seseorang yang sudah hafal semua jalan pulang. Wira memimpin bukan karena ia paling kuat, melainkan karena ia paling sering mendengar: mendengar suara sungai, mendengar arah angin, mendengar cerita yang disembunyikan hewan kecil di bawah semak.
Di sisi lain rimba, hidup pula satu bangsa yang jarang diperhatikan karena tubuhnya kecil, jalannya gesit, dan ia lebih suka senyap. Mereka adalah bangsa Marten Lurik—makhluk pemangsa kecil yang ahli bersembunyi di celah akar dan batu. Pemimpin muda mereka bernama Nara, bermata tajam dan selalu tampak seperti sedang menghitung jarak lompatan.
Bagi Nara, rimba bukan hanya rumah. Rimba adalah peta tak kasatmata tempat semua jejak saling bertaut. Kalau satu pohon tumbang, bukan cuma satu pohon yang hilang—ada serangga yang kehilangan teduh, burung yang kehilangan cabang, dan tanah yang kehilangan pegangan.
Namun, pada tahun ketika kemarau datang lebih panjang, aturan lama mulai terdengar seperti dongeng yang dianggap menghalangi.
1. Kedatangan Kereta Batu
Suatu pagi, langit belum betul-betul biru ketika tanah bergetar halus. Burung-burung berhenti bernyanyi. Rusa menegakkan telinga. Dan Nara, yang sedang mengendus jejak di pinggir rimba, merasakan sesuatu yang asing: bau logam, oli, dan debu yang bukan debu daun.
Dari batas rimba, muncul rombongan besar: Kerbau-kerbau Hitam bertanduk tebal, diiringi Babi Hutan bertubuh kekar, dan di belakang mereka ada Bunglon-bunglon yang membawa gulungan peta, menandai tanah dengan tongkat panjang.
Mereka menyebut diri mereka Serikat Batu.
Pemimpin Serikat Batu adalah Kerbau besar bernama Garda, suaranya berat seperti batu dijatuhkan ke sumur. Garda berdiri di lapangan terbuka dan mengumumkan pada siapa pun yang mau mendengar:
“Rimba Tanah Merah menyimpan harta. Batu-batu tua di perut tanah. Kami akan menggali secukupnya, demi kemajuan. Kami akan membuat jalan, gudang, dan menukar batu dengan makanan dari jauh. Semua akan hidup lebih mudah.”
Kata mudah adalah umpan yang sering berhasil. Banyak hewan yang lelah dengan musim yang makin tak menentu. Mereka membayangkan lumbung penuh, air tersedia, dan tak perlu lagi berebut buah saat kemarau.
Wira mendengar pengumuman itu dari kejauhan. Ia tidak langsung menolak. Ia mengundang Garda datang ke Balai Akar—tempat para tetua hewan biasa berbicara.
Di Balai Akar, Wira berkata pelan, “Kemajuan itu baik kalau ia paham batas. Tanah ini bukan sekadar tempat berdiri. Ia rumah, ia penahan air, ia penyimpan ingatan.”
Garda tertawa pendek. “Ingatan tidak membuat perut kenyang, Dingo tua.”
Beberapa hewan muda bertepuk tangan, bukan karena benci Wira, tapi karena kata-kata Garda terdengar tegas. Tegas sering disalahartikan sebagai benar.
Wira menatap mereka satu per satu, lalu menjawab, “Perut kenyang hari ini tidak ada artinya kalau besok kita minum lumpur.”
Garda tidak menyukai kalimat itu, tapi ia tersenyum seperti seseorang yang yakin ia tetap menang.
“Kami akan mulai dari pinggir,” kata Garda. “Tidak akan mengganggu kalian.”
Dan begitulah semuanya dimulai: dari janji yang terdengar sopan.
2. Tanah yang Dibuka, Air yang Berubah
Hari-hari pertama, Serikat Batu bekerja cepat. Mereka menumbangkan pohon-pohon tua di pinggir rimba, membuka jalur yang mereka sebut jalan. Babi hutan menggali tanah, kerbau menarik batu besar, dan bunglon menancapkan tanda-tanda merah: wilayah ini milik rencana.
Nara dan para Marten Lurik segera merasakan dampaknya. Tempat perburuan yang dulu teduh jadi terbuka. Jejak mangsa menghilang karena tak ada lagi semak untuk berlindung. Dan yang paling mengganggu: suara. Suara pohon patah, suara batu diseret, suara tanah digali tanpa henti.
Burung Kookaburra menertawakan kegelisahan Nara. “Kalian kecil, kalian selalu takut,” katanya.
Nara tidak menjawab. Ia bukan takut. Ia hanya bisa melihat pola lebih cepat.
Beberapa minggu kemudian, hujan singkat turun. Biasanya, hujan singkat hanya membuat tanah harum dan sungai sedikit gemuk. Tapi kali ini, air turun seperti tamu yang tidak punya sopan santun: ia menghantam tanah terbuka, membawa lumpur, dan mengalir deras ke sungai.
Sungai utama rimba bernama Sungai Sura—dulu jernih. Kini, ia mulai keruh.
Ikan-ikan kecil mengeluh. Katak-katak kehilangan tempat bertelur karena tepi sungai tertutup endapan. Dan para burung air yang biasa menunggu ikan di aliran tenang mulai kebingungan.
Wira mengadakan pertemuan lagi. “Tanah terbuka membuat air liar,” katanya. “Kalau kita terus begini, Sungai Sura akan sakit.”
Garda mengangkat bahu. “Air keruh bisa disaring. Kami bisa membuat kolam.”
Ia lalu memperkenalkan tokoh lain: Berang-berang muda bernama Kala, yang terkenal pandai membuat bendungan. Kala berdiri di depan semua hewan, matanya berbinar.
“Aku punya solusi,” kata Kala. “Kalau sungai menjadi masalah, kita atur sungai. Kita buat bendungan besar. Kita tahan air saat hujan, kita lepaskan saat kemarau. Semua akan aman.”
Kata aman itu manis. Banyak hewan mengangguk.
Nara memandang Kala lama. Ia tidak membenci berang-berang. Ia justru menghormati kemampuan mereka. Tapi di kepalanya ada satu pertanyaan:
Bendungan untuk siapa?
3. Bendungan yang Membelah Hati
Bendungan pertama dibangun cepat, jauh lebih besar daripada bendungan yang biasa dibuat berang-berang untuk keluarganya. Serikat Batu membantu: kerbau mengangkut kayu, babi hutan menggali, dan bunglon menandai area sekitar bendungan sebagai “wilayah teratur”.
Awalnya, terlihat mengagumkan. Air tertahan, membentuk kolam luas. Hewan-hewan yang tinggal dekat bendungan merasa beruntung: mereka punya air jernih lebih lama, dan tanah mereka tampak subur.
Namun, di hilir, Sungai Sura mulai menyusut. Arusnya melemah. Beberapa bagian menjadi dangkal seperti cermin retak. Hewan-hewan hilir—kijang, kelinci, bahkan sebagian burung—mulai berjalan lebih jauh untuk minum.
Mereka datang mengadu ke Balai Akar.
“Dulu sungai mengalir untuk semua,” kata seekor Kijang betina. “Sekarang air seperti disimpan di atas.”
Kala menjawab dengan percaya diri, “Ini hanya penyesuaian. Nanti akan stabil.”
Tapi alam tidak selalu patuh pada kata “nanti”.
Musim kemarau tiba. Kolam di balik bendungan memang menyimpan air… tapi bukan berarti air itu bisa menyelamatkan semua. Karena semakin lama air tertahan, semakin banyak lumpur mengendap, semakin hangat permukaannya, dan semakin mudah alga tumbuh. Ikan-ikan yang dulu hidup di sungai mengalir, kini kesulitan di air yang terlalu tenang.
Sementara itu, Serikat Batu semakin berani. Mereka membuka lebih banyak lahan. Mereka berkata ini untuk “membayar” bendungan dan jalan. Mereka berkata ini demi makanan yang akan datang.
Nara menyusuri rimba yang kini berlubang-lubang seperti kain tua. Ia melihat sarang burung jatuh, ia mencium bau tanah yang terbakar, ia menemukan jejak-jejak hewan kecil yang berakhir tiba-tiba—bukan karena dimangsa, tapi karena rumahnya hilang.
Suatu malam, Nara mendatangi Wira.
“Paduka,” kata Nara, “ini bukan lagi soal bising. Ini soal hilangnya rute hidup. Kalau ini diteruskan, kami—yang kecil-kecil—akan lenyap duluan. Tidak ada tempat sembunyi. Tidak ada mangsa. Tidak ada bayangan.”
Wira menutup mata sejenak. Ia tahu. Tapi memimpin berarti memilih kata yang bisa membuat orang mau berhenti. Dan sering kali, orang baru mau berhenti setelah jatuh.
4. Sumur Terbuka dan Tanda yang Diabaikan
Di salah satu wilayah yang dibuka Serikat Batu, ada lubang besar bekas galian. Mereka menyebutnya “sumur uji”. Tapi bagi hewan, itu hanya lubang maut.
Suatu sore, seekor Kucing Hutan muda bernama Seno mengejar tikus di tepi lubang. Tanahnya rapuh. Ia tergelincir dan jatuh.
Teriakannya menggema. Hewan-hewan berlarian. Tapi lubang itu terlalu dalam, dindingnya licin, dan airnya sedikit—cukup untuk membuat tubuh lelah, tidak cukup untuk menyelamatkan.
Kala mendengar berita itu dan segera datang dengan tim kecil. Mereka menurunkan ranting, membuat simpul, dan dengan susah payah menarik Seno keluar.
Seno selamat, tapi tubuhnya menggigil. Matanya kosong seperti baru melihat sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Wira berdiri di tepi lubang itu, menatap Garda yang juga datang belakangan.
“Lihat,” kata Wira. “Bukan hanya pohon yang tumbang. Sekarang tanah kita punya perangkap buatan. Satu lubang bisa membunuh satu generasi.”
Garda ingin membantah, tapi semua hewan melihat Seno yang masih gemetar. Bahkan sorak pendukung Garda pun sepi.
Kala menatap lubang itu lama. Ada rasa bersalah kecil yang menyelinap. Ia mulai mengerti: mengatur alam bukan sekadar membangun sesuatu yang terlihat keren. Mengatur alam berarti bertanggung jawab atas semua akibat—bahkan yang tidak kita rencanakan.
Namun, seperti banyak rasa bersalah, ia sering datang terlambat.
5. Hari Ketika Bendungan Pecah
Musim hujan berikutnya datang tidak seperti biasa. Hujan tidak turun pelan-pelan. Ia turun seperti seseorang yang menahan marah terlalu lama.
Air dari bukit masuk ke sungai membawa tanah, ranting, bahkan batu kecil. Bendungan besar menahan semuanya. Awalnya ia bertahan. Kala berdiri di puncak bendungan, menatap air yang naik.
“Aman,” katanya pada dirinya sendiri, seperti mantra.
Tapi air punya hukum sendiri. Ketika hujan tidak berhenti tiga hari, kolam di balik bendungan menjadi monster diam yang terus membesar. Kayu-kayu mulai berderit. Lumpur menekan dinding.
Malam keempat, terdengar suara retak.
Bukan retak kecil. Retak yang membuat udara berhenti.
Kala sempat berlari, berteriak memanggil bantuan. Kerbau-kerbau datang, babi hutan datang. Mereka berusaha menambah penahan, menumpuk batu.
Terlambat.
Dengan satu dentuman, bendungan pecah. Air melesat turun seperti raksasa yang dibebaskan. Ia menghantam tebing, menerjang pohon, menyapu sarang, membawa galian tanah, membawa papan tanda merah, membawa sebagian “kemajuan” yang dibanggakan Serikat Batu.
Di hilir, hewan-hewan yang kekurangan air sebelumnya kini mendapat kebalikan: banjir.
Rusa-rusa berlari. Kelinci-kelinci bersembunyi di bukit. Burung terbang liar. Dan Marten Lurik, yang terbiasa hidup di celah, mendadak kehilangan celahnya karena tanah runtuh.
Pagi setelah banjir, Rimba Tanah Merah seperti seseorang yang baru bangun setelah mimpi buruk: mata terbuka, tapi tubuh tidak utuh.
Sungai Sura tidak jernih. Ia cokelat pekat. Dan di beberapa tempat, ia membawa racun dari tanah galian: bau aneh, rasa pahit, ikan mati mengambang.
Garda berdiri di dekat gudang batu yang runtuh. Untuk pertama kalinya, ia tidak terdengar seperti batu. Suaranya serak.
“Ini… tidak seharusnya begini.”
Wira memandang Garda tanpa marah. “Alam tidak peduli pada kata ‘seharusnya’.”
Kala duduk di lumpur, menatap telapak tangannya yang penuh goresan. “Aku ingin menyelamatkan,” katanya pelan, “tapi aku membangun sesuatu yang salah.”
Nara berdiri di samping mereka, basah, lelah, tapi matanya tetap tajam. “Bukan hanya bendungan yang salah,” kata Nara. “Yang salah adalah kita menganggap rimba bisa dibagi-bagi seperti barang.”
6. Dewan Baru dan Cara Mendengar
Setelah bencana, semua hewan berkumpul di Balai Akar. Tidak ada sorak. Tidak ada tepuk tangan. Yang ada hanya bau lumpur dan rasa kehilangan.
Wira berdiri. Ia tidak meminta mahkota. Ia tidak memarahi. Ia hanya berkata:
“Kalau kita ingin rimba ini tetap jadi rumah, kita harus kembali ke aturan yang paling tua: ambil secukupnya, pahami akibatnya.”
Garda, yang biasanya mendominasi, kini menunduk. “Aku salah,” katanya singkat. Dua kata yang berat untuk kerbau sebesar dia.
Kala mengangkat kepala. “Aku juga salah. Aku menyangka bendungan adalah jawaban untuk semua. Padahal bendungan tanpa batas hanyalah cara lain untuk mengatakan ‘aku ingin menang sendiri’.”
Lalu, sesuatu yang tak biasa terjadi: hewan-hewan kecil diberi ruang bicara.
Nara maju. Ia tidak bicara panjang, tapi setiap kalimatnya seperti paku yang menahan atap.
“Hewan besar sering lupa,” kata Nara, “bahwa yang pertama mati kalau rumah rusak adalah yang kecil. Tapi kalau yang kecil hilang, rantai makan rusak, dan yang besar akan lapar. Kita saling terkait.”
Kura-kura tua, burung, kijang, bahkan katak, mulai menambahkan cerita mereka: tentang air yang keruh, tentang telur yang gagal menetas, tentang lubang galian yang jadi perangkap, tentang pohon yang hilang dan membuat tanah tidak punya pegangan.
Dari situ, lahirlah keputusan: Rimba Tanah Merah tidak boleh lagi dipimpin oleh satu suara keras. Ia harus dipimpin oleh Dewan Jejak—dewan yang berisi wakil dari hewan besar, hewan kecil, hewan air, hewan udara, dan penjaga tanah.
Garda setuju, dengan syarat ia ikut memperbaiki. Wira mengangguk. “Memperbaiki itu bukan syarat,” katanya. “Itu kewajiban.”
7. Menanam Ulang dan Membuka Jalan Pulang
Perbaikan tidak bisa instan. Rimba bukan tembok yang bisa dibangun ulang semalam.
Serikat Batu dipaksa berhenti menggali. Tanda-tanda merah dicabut. Lubang-lubang ditutup—bukan dengan janji, tapi dengan kerja.
Garda dan kerbau-kerbaunya menarik batang pohon mati untuk menahan erosi. Babi hutan menggali parit kecil untuk mengarahkan air hujan agar tidak langsung menghantam tanah terbuka. Burung-burung menyebarkan benih. Kijang menjaga tunas muda dari diinjak. Bahkan Marten Lurik membantu mengusir tikus perusak dari area pembibitan.
Kala, yang sebelumnya membangun bendungan besar, kini membangun alur kecil—bukan untuk menahan sungai, tapi untuk membantu air meresap ke tanah. Ia belajar bahwa “menyimpan” tidak selalu berarti “mengunci”. Kadang menyimpan berarti membiarkan air masuk ke bumi, menjadi cadangan diam yang tidak menciptakan monster banjir.
Seno si Kucing Hutan—yang pernah jatuh ke lubang—menjadi penjaga tanda bahaya. Ia menancapkan ranting-ranting berbentuk silang di dekat area rapuh. Setiap anak hewan yang lewat diberi cerita: “Lubang bisa tampak seperti jalan. Jangan percaya tanah yang baru dibuka.”
Nara memimpin para Marten Lurik membuat jalur teduh baru: semak-semak ditanam, batu-batu disusun agar ada celah hidup. Ia tidak meminta penghargaan. Ia hanya ingin bangsanya punya alasan untuk tetap ada.
Musim berlalu. Sungai Sura perlahan membaik. Tidak kembali sejernih dulu, tapi tidak lagi berbau pahit. Ikan-ikan kembali sedikit demi sedikit, seperti tamu yang masih trauma tapi rindu pulang.
8. Mahkota yang Retak, Pelajaran yang Utuh
Suatu senja, Wira berjalan ke tepi sungai bersama Garda dan Kala. Langit memerah, dan angin menurunkan suhu.
Wira berkata, “Aku tidak benci kemajuan. Aku benci lupa. Lupa bahwa kita ini cuma penyewa di rumah yang lebih tua dari kita.”
Garda menghela napas. “Aku pikir kekuatan bisa mengatur semuanya.”
Kala menatap air. “Aku pikir kecerdikan bisa mengatur semuanya.”
Nara muncul dari semak, mendengar percakapan itu. Ia tersenyum kecil—senyum yang jarang ia keluarkan.
“Kadang,” kata Nara, “yang mengatur semuanya bukan kekuatan atau kecerdikan. Tapi kesediaan mendengar.”
Wira mengangguk. “Benar. Dan mendengar itu sulit karena ia membuat kita harus mengakui: kita tidak selalu benar.”
Di Balai Akar, mahkota kepemimpinan—simbol dari kayu tua yang dulu dipakai Wira—digantung bukan di kepala siapa pun, melainkan di dinding, retak sedikit akibat banjir. Retak itu sengaja tidak diperbaiki.
Karena retak itu pengingat.
Setiap kali ada hewan muda bertanya, “Kenapa mahkotanya retak?”
Para tetua menjawab, “Karena pernah ada masa ketika kita mengira rimba ini bisa dipotong-potong seperti milik sendiri. Retaknya mengingatkan: rimba tidak tunduk. Rimba hanya bisa diajak hidup bersama.”
Dan sejak itu, Rimba Tanah Merah punya aturan baru yang melengkapi aturan lama:
Kalau kau ingin membangun sesuatu, tanyakan dulu: siapa yang paling kecil yang akan menanggung akibatnya?
Karena jawaban dari pertanyaan itu biasanya lebih jujur daripada semua pidato tentang kemajuan.




















