Ladang Emas yang Tidak Pernah Cukup
Pada suatu masa yang sudah terlalu lama untuk dihitung, ada sebuah dataran luas bernama Padang Arunika. Dari kejauhan, tanahnya tampak keemasan, bukan karena emas sungguhan, melainkan karena rumput gandum liar yang menguning di bawah matahari. Setiap kali angin berhembus, Padang Arunika berkilau seperti lautan cahaya.
Di sanalah hidup berbagai bangsa hewan yang menggantungkan hidup pada ladang:
Tikus Ladang yang menyimpan biji,
Burung Pipit yang menyebarkan benih,
Kerbau yang membuka tanah,
dan Kijang yang menjaga keseimbangan rumput agar tak habis dimakan satu pihak saja.
Padang Arunika bukan tanah milik siapa pun. Sejak dulu, semua makhluk hidup berdampingan dengan satu keyakinan sederhana:
Jika ladang kenyang, semua akan hidup. Jika ladang rakus, semua akan mati.
Pemimpin Padang Arunika adalah seekor Bangau abu-abu tua bernama Tarka. Ia tidak kuat, tidak cepat, dan tidak banyak bicara. Tapi ia memiliki ingatan panjang—tentang musim paceklik, tentang ladang yang pernah gagal panen, dan tentang hari-hari ketika hewan-hewan hampir saling memangsa karena kelaparan.
Tarka selalu mengingatkan satu hal:
“Ladang bukan mesin. Ia butuh waktu untuk bernapas.”
Namun, seperti semua peringatan yang diulang terlalu sering, kata-kata itu lama-lama terdengar seperti angin lalu.
Datangnya Perhitungan
Suatu musim semi, datanglah rombongan Gagak Hitam dari utara. Mereka terbang rendah, berputar-putar di atas ladang, seolah sedang menghitung setiap helai gandum.
Pemimpin mereka adalah Gagak bernama Karsa, bermata tajam dan bersuara licin. Karsa tidak datang dengan ancaman, melainkan dengan angka.
“Kami punya cara,” kata Karsa dalam pertemuan besar Padang Arunika, “untuk membuat ladang ini menghasilkan dua kali lipat. Tidak perlu menunggu alam. Kita bisa memaksanya.”
Beberapa hewan terkejut.
Beberapa tertarik.
Karsa menjelaskan rencananya: memanen lebih cepat, menyimpan lebih banyak, mengusir hewan yang dianggap “tidak produktif”, dan mengatur distribusi biji hanya lewat satu jalur—jalur yang ia sebut Gudang Besar.
“Dengan begitu,” kata Karsa, “tidak ada yang kelaparan. Semuanya terukur.”
Tikus Ladang saling berpandangan.
Kerbau mengangguk pelan.
Beberapa Burung Pipit terlihat ragu.
Tarka mengangkat sayapnya.
“Ladang tidak hidup dari perhitungan saja,” katanya. “Ia hidup dari keteraturan alami.”
Karsa tersenyum tipis.
“Justru karena kita terlalu lama percaya alam, kita selalu cemas tiap musim.”
Kata cemas menyentuh sesuatu di hati banyak hewan.
Gudang yang Menggoda
Gudang Besar dibangun di tengah padang. Tinggi, kokoh, dan dijaga ketat oleh gagak-gagak muda. Semua hasil panen mulai dikumpulkan di sana.
Awalnya, semuanya terasa baik.
Biji melimpah.
Tidak ada yang kelaparan.
Angka-angka Karsa tampak benar.
Namun, perubahan kecil mulai terasa.
Burung Pipit bernama Sila menyadari ladang mulai sunyi.
Tidak banyak biji yang tersisa di tanah untuk tumbuh alami.
Semua dipanen, disapu bersih.
“Benih tidak sempat jatuh,” kata Sila pada Tarka.
“Kalau semua diambil, apa yang tumbuh nanti?”
Tarka mengangguk. Ia merasakan hal yang sama. Angin tidak lagi membawa aroma biji matang, hanya debu kering.
Sementara itu, Tikus Ladang kecil bernama Reno mulai kesulitan.
Dulu, ia menyimpan biji secukupnya di lubang-lubang kecil.
Kini, semua biji harus diambil dari Gudang Besar—dan hanya dengan izin.
“Kami bukan pemalas,” kata Reno. “Kami hanya kecil.”
Tapi ukuran tidak pernah dihitung dalam sistem Karsa.
Musim yang Terlalu Cepat
Untuk mengejar target, panen dilakukan lebih awal. Gandum belum matang sepenuhnya, tetapi sudah diambil. Ladang menjadi cokelat sebelum waktunya.
Ketika hujan turun, tanah tidak lagi punya pelindung. Air mengalir deras, membawa lapisan subur pergi. Akar-akar tidak sempat mengikat tanah.
Kerbau tua bernama Garda mencoba memperingatkan.
“Tanah ini mulai rapuh,” katanya. “Kalau terus begini, ia tidak akan kuat.”
Namun Karsa menjawab,
“Tanah bisa diganti. Biji bisa diimpor dari padang lain.”
Kata diimpor terdengar asing bagi sebagian hewan, tapi meyakinkan bagi yang lain.
Padang Arunika, perlahan, tidak lagi percaya pada dirinya sendiri.
Ketika Angka Kehabisan Jawaban
Musim berikutnya datang dengan aneh.
Hujan terlambat.
Angin terlalu panas.
Gandum tumbuh pendek dan jarang.
Gudang Besar mulai kosong lebih cepat dari perkiraan.
Karsa gelisah. Ia menghitung ulang, menyusun ulang, tapi angka tidak mau patuh. Tidak ada cukup biji untuk semua.
Ia mulai memilih.
Pertama, ia memotong jatah Burung Pipit.
“Benih bisa disebar nanti,” katanya.
Lalu Tikus Ladang.
“Kalian terlalu banyak,” katanya.
Kemudian Kijang, karena dianggap hanya “memakan rumput tanpa menyumbang.”
Padang Arunika mulai retak—bukan tanahnya, tapi kepercayaannya.
Reno melihat banyak tikus kecil meninggalkan ladang, mencari tempat lain. Banyak yang tidak kembali.
Sila melihat burung-burung muda gagal belajar terbang karena kurang makan.
Tarka melihat semua itu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa terlambat.
Ladang yang Marah
Musim kemarau datang paling panjang dalam ingatan Tarka.
Tanah Padang Arunika mengeras. Retakan muncul seperti luka. Tidak ada lagi kilau emas. Yang tersisa hanyalah warna pucat dan debu.
Gudang Besar dikunci. Gagak-gagak berjaga, tapi mereka sendiri mulai kurus.
Suatu malam, badai pasir datang dari selatan. Tanpa akar dan rumput penahan, tanah beterbangan. Gudang Besar yang kokoh berdiri di atas tanah rapuh mulai miring.
Ketika pagi datang, salah satu dindingnya runtuh. Biji-biji yang tersisa tumpah ke tanah, bercampur lumpur dan pasir.
Karsa berdiri di depan gudang yang rusak, matanya kosong.
“Ini tidak ada dalam perhitungan,” gumamnya.
Tarka mendekat, langkahnya lambat.
“Karena ladang bukan angka,” katanya pelan. “Ia makhluk hidup.”
Suara dari yang Paling Kecil
Dalam kekacauan itu, Reno berdiri di tengah pertemuan darurat.
Suaranya kecil, tapi jelas.
“Kami yang kecil selalu disuruh menunggu,” katanya.
“Menunggu sisa, menunggu izin, menunggu keputusan.
Padahal, ladang dulu hidup karena kami menyimpan benih, menyebarkannya tanpa dihitung.”
Sila ikut berbicara.
“Benih tidak butuh gudang. Ia butuh tanah dan waktu.”
Kerbau Garda menambahkan,
“Ladang bukan untuk diperas, tapi dirawat.”
Untuk pertama kalinya, Karsa tidak membantah.
Ia melihat sekeliling: ladang rusak, hewan kelaparan, gudang kosong.
Sistemnya runtuh bukan karena satu kesalahan, tapi karena satu keyakinan keliru—bahwa segalanya bisa dikendalikan.
Menanam Tanpa Kepastian
Gudang Besar tidak dibangun ulang.
Sebaliknya, biji-biji yang tersisa dibagikan tanpa hitungan.
Tidak adil. Tidak merata. Tapi jujur.
Hewan-hewan mulai menanam kembali. Tidak seragam. Tidak rapi.
Burung Pipit menyebar benih di tempat yang tidak direncanakan.
Tikus Ladang menyimpan sedikit, meninggalkan banyak.
Kerbau hanya membuka tanah seperlunya.
Padang Arunika tidak langsung pulih.
Banyak musim gagal.
Banyak yang pergi.
Namun, perlahan, warna emas kembali—tidak seluas dulu, tapi cukup.
Karsa tidak lagi memimpin.
Ia tinggal di pinggir ladang, membantu menjaga benih dari pemangsa luar.
Tarka, sebelum terbang untuk terakhir kalinya, berkata:
“Ladang tidak pernah berjanji memberi segalanya.
Ia hanya memberi cukup, jika kita mau berbagi.”
Penutup
Padang Arunika tidak lagi dikenal sebagai ladang terbesar.
Tapi ia dikenal sebagai ladang yang bertahan.
Dan setiap anak hewan yang lahir di sana diajari satu pelajaran sederhana:
Kelaparan paling berbahaya bukan datang dari alam,
melainkan dari keyakinan bahwa segalanya harus dimiliki.




















