Telaga Terakhir di Negeri Berbulu

Di sebuah dataran luas yang dikelilingi bukit kapur dan padang rumput berombak angin, berdirilah sebuah wilayah yang oleh para pengelana disebut Negeri Berbulu. Nama itu bukan tanpa alasan: hampir seluruh penghuninya adalah makhluk berbulu—ada yang bersayap, ada yang berkaki empat, ada pula yang merayap pelan di tanah.

Negeri Berbulu tidak pernah kekurangan apa pun. Hujan turun teratur, rumput tumbuh subur, dan di tengah wilayah itu terdapat sebuah telaga besar bernama Telaga Sada, sumber air utama bagi seluruh negeri.

Air Telaga Sada terkenal jernih. Dari kejauhan, ia tampak seperti kaca raksasa yang memantulkan langit. Dari dekat, ia terasa hidup—sejuk, bersih, dan tenang.

Selama puluhan generasi, tak pernah ada pertanyaan tentang siapa yang berhak atas air itu. Semua minum seperlunya. Semua tahu batas.

Namun, seperti banyak kisah tentang kelimpahan, masalah justru lahir saat orang lupa bahwa kelimpahan bisa berakhir.


1. Musim yang Tidak Datang

Musim hujan biasanya datang saat bunga padang rumput mulai gugur. Namun tahun itu, bunga-bunga jatuh tanpa disambut hujan.

Hari demi hari berlalu, langit tetap biru pucat. Awan hanya lewat tanpa menurunkan setetes pun air.

Burung Bangau mulai mengeluh karena ikan di telaga makin sulit terlihat. Kelinci harus berjalan lebih jauh mencari rumput segar. Bahkan Kerbau, yang biasanya tenang, mulai gelisah karena kubangan favoritnya menyusut.

Di pinggir telaga, Landak tua bernama Sena duduk termenung, menatap permukaan air yang perlahan surut.

“Telaga ini berkurang,” gumamnya.

Tak banyak yang menanggapi. Semua mengira ini hanya musim yang terlambat.


2. Menara Air Sang Berang-berang

Beberapa hari kemudian, hewan-hewan dikejutkan oleh suara kayu dipukul dan batu digeser di sisi utara telaga.

Di sana, Berang-berang bernama Ruma bersama kelompoknya membangun sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya: bendungan kecil yang mengarahkan aliran telaga ke sebuah kolam khusus.

Ruma dikenal cerdas dan rajin. Banyak yang menghormatinya.

Saat Rusa betina bernama Laya bertanya, Ruma menjawab santai,
“Kami hanya mengatur air agar lebih efisien. Kalau air berkurang, kita harus pintar menyimpannya.”

Kolam itu dijaga ketat oleh berang-berang lain. Air mengalir deras ke sana, sementara sisi lain telaga mulai mengering.

Awalnya, tak ada yang memprotes. Kata “efisien” terdengar masuk akal.


3. Ketika Air Mulai Dihitung

Beberapa pekan kemudian, Ruma mengumumkan sesuatu yang mengubah segalanya.

Ia berdiri di atas batu besar dan berkata,
“Mulai hari ini, demi keadilan dan ketertiban, air akan dibagi berdasarkan kebutuhan dan kontribusi.”

“Kontribusi?” tanya Ayam Hutan bingung.

Ruma mengangguk.
“Siapa yang membantu menjaga telaga, membantu bendungan, atau menukar hasil panen—akan mendapat jatah lebih.”

Hewan-hewan saling pandang.

Awalnya hanya sedikit perubahan. Tapi perlahan, antrean muncul. Air mulai diukur. Wadah-wadah diserahkan dengan batas tertentu.

Bagi sebagian, ini terasa adil.
Bagi sebagian lain, ini terasa asing.


4. Yang Haus Tidak Selalu Paling Lemah

Serigala bernama Arak, yang tinggal di perbukitan jauh dari telaga, mulai merasakan dampaknya paling awal. Ia harus berjalan lebih jauh, tapi jatahnya tetap kecil.

Sementara itu, Kuda-kuda penarik yang membantu berang-berang mendapat air lebih banyak.

“Ini tidak adil,” kata Arak pada Landak Sena.
“Aku tidak malas. Aku hanya tidak tinggal dekat telaga.”

Sena mengangguk pelan.
“Ketika air mulai dihitung, kehausan bukan lagi soal kebutuhan, tapi soal posisi.”


5. Suara dari Dasar Telaga

Tak banyak yang tahu, di dasar Telaga Sada hidup Ikan Tua bernama Lindu. Ia telah hidup lebih lama dari siapa pun.

Saat air menyusut, Lindu merasakan dinding telaga makin dekat. Lumpur terangkat. Suhu berubah.

Suatu malam, ia muncul ke permukaan—hal yang jarang ia lakukan.

“Air ini bukan milik siapa pun,” katanya pelan, tapi gema suaranya membuat semua terdiam.
“Telaga hidup karena ia mengalir. Jika kalian memenjarakannya, ia akan mati.”

Ruma menatap dingin.
“Kata-kata tua tidak mengisi perut.”


6. Air sebagai Barang Dagangan

Musim kering berlanjut. Telaga kini tinggal separuh.

Ruma mulai menukar air dengan biji-bijian langka dari luar negeri. Kolamnya makin penuh, sementara telaga umum makin dangkal.

Hewan-hewan mulai bertengkar.

  • Burung memperebutkan genangan kecil
  • Mamalia besar saling mengusir
  • Anak-anak kehausan sebelum senja

Namun, kolam Ruma tetap penuh.

Ia menyebutnya “cadangan masa depan”.


7. Dewan yang Terlambat

Akhirnya, Dewan Negeri Berbulu dibentuk. Sena, Laya, Arak, dan beberapa lainnya hadir.

Mereka memanggil Ruma.

“Air bukan emas,” kata Laya.
“Kalau kau simpan sendiri, kita semua mati.”

Ruma menjawab tenang,
“Kalau aku tidak simpan, kita mati bersama.”

Tidak ada kesepakatan.


8. Hujan yang Salah Alamat

Suatu sore, langit menghitam. Hujan akhirnya turun—deras dan singkat.

Namun karena telaga sudah rusak alirannya, air hujan langsung mengalir ke kolam buatan Ruma dan meluap, menghancurkan bendungan.

Air keruh menerjang padang rumput. Sarang rusak. Tanah longsor kecil terjadi.

Ironisnya, telaga utama tidak terisi penuh.

Cadangan Ruma hancur. Telaga tetap sekarat.


9. Kehausan yang Sama

Kini semua haus—termasuk Ruma.

Untuk pertama kalinya, ia duduk di tepi telaga yang hampir kering, tanpa kata.

Lindu muncul sekali lagi.
“Air tidak mengenal pemilik,” katanya.
“Ia hanya mengenal jalan.”

Ruma menunduk.


10. Menanam Kembali Aliran

Butuh waktu lama untuk memperbaiki Telaga Sada.

Berang-berang membongkar bendungan. Burung membantu menyebar biji rumput. Hewan besar menggali ulang alur air.

Tidak semua selamat. Beberapa pergi. Beberapa mati.

Namun, perlahan, telaga kembali bernapas.


Penutup

Negeri Berbulu tidak pernah lagi mengukur air dengan wadah.

Mereka mengukur dengan kesadaran.

Dan setiap anak yang lahir diajari satu kalimat sederhana:

“Ketika air dijadikan milik, hidup akan menjadi utang.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link