Sungai Puspa, Debu Emas, dan Pasukan Akar yang Tak Mau Dibeli
Di ujung dunia yang jarang disebut dalam doa para pedagang—bukan karena tempat itu kecil, melainkan karena tempat itu tidak suka dihitung—berdirilah sebuah rimba tua bernama Hutan Puspa.
Hutan Puspa bukan hanya pepohonan. Ia seperti kitab yang tak selesai ditulis: setiap musim menambah satu halaman, setiap banjir menorehkan satu catatan, setiap kemarau menandai satu pelajaran. Akar-akar pohon besar mengikat tanah seperti jari-jari tua yang enggan melepas, sementara kanopinya menutup langit seperti payung raksasa yang bernafas pelan.
Di tengah Hutan Puspa mengalir Sungai Puspa—airnya jernih, dinginnya menenangkan, dan suaranya seperti nasihat yang tidak pernah memaksa. Sungai itu memberi minum pada semua: rusa yang pemalu, babi hutan yang keras kepala, burung-burung yang cerewet, hingga ikan-ikan yang tidak pernah keluar dari rahasia dasar.
Selama ratusan bulan purnama, tak pernah ada yang menanyakan: “Siapa pemilik sungai ini?”
Karena pertanyaan itu terdengar sama ganjilnya seperti menanyakan siapa pemilik kabut, atau siapa pemilik suara jangkrik.
Namun kelimpahan sering membuat makhluk lupa: yang gratis pun bisa habis bila dijadikan barang dagangan.
1) Kilau yang Membuat Mata Lupa
Semua bermula dari sesuatu yang kecil: kilau.
Di sebuah tikungan sungai yang sempit, tempat bebatuan mengumpulkan arus seperti telapak tangan menadah hujan, seekor Ikan Gabus tua bernama Kuwi menemukan bintik-bintik keemasan di dasar lumpur. Bukan kilau biasa—kilau itu seperti menyala sendiri saat tersentuh cahaya, lalu menghilang saat bayangan daun lewat.
Kuwi tidak tahu namanya “emas”. Ia hanya tahu: kilau itu terasa asing, seperti benda yang bukan milik sungai.
Keesokan paginya, seekor Kijang muda bernama Luma datang berlari ke lapangan akar tua. Napasnya putus-putus, matanya membesar seperti menyimpan badai.
“Penjaga… penjaga!” teriaknya. “Ada kamp di hulu! Ada yang mengeruk lumpur, memukul batu, dan tertawa kalau menemukan kilau. Mereka menuang cairan perak ke air—baunya bikin pusing!”
Kata “cairan perak” membuat beberapa hewan saling pandang. Hutan Puspa mengenal banyak bau: bau jamur, bau daun gugur, bau tanah basah. Tapi bau yang membuat pusing biasanya pertanda buruk—seperti ular berbisa yang tidak perlu menggigit untuk membuat makhluk lain mundur.
Kabar itu akhirnya sampai ke telinga Gajah tua Barata, pemimpin Hutan Puspa.
Barata tidak punya mahkota, tidak duduk di tahta, tidak pula mengumumkan titah dengan suara meledak-ledak. Ia memimpin seperti sungai: tenang, tapi tak bisa dipindahkan seenaknya.
Barata menatap Sungai Puspa lama, lalu berkata pelan, “Jika ada yang mengaduk dasar sungai, berarti mereka sedang mengaduk dasar hidup kita.”
2) Kamp Hulu dan Senyum yang Terlalu Yakin
Barata mengutus Macan Dahan Sura—penjaga perbatasan paling cekatan—dan Burung Hantu Raga—penjaga ingatan paling jernih—untuk menyelidiki hulu.
Mereka berjalan tanpa banyak suara. Daun-daun seolah mengerti dan membuka jalan. Bahkan angin pun seperti menahan napas.
Di hulu, mereka menemukan kamp: tenda-tenda dari kulit kayu, asap tipis yang menempel di pagi, dan alat-alat aneh yang memutar lumpur seperti sendok besar mengaduk sup.
Di sana ada kera-kera yang bergerak cepat, babi hutan yang mengangkut karung, serta beberapa musang yang menghitung sesuatu di bawah bayang-bayang pohon.
Dan di tengah-tengah mereka berdiri seekor kera dengan tatapan cerdas dan senyum yang terlalu yakin: Rako.
Sura melangkah keluar dari semak. “Ini wilayah Hutan Puspa,” katanya. “Apa yang kalian cari?”
Rako mengangkat kedua tangan, seolah menyambut tamu. “Kami hanya mengambil debu emas yang tidur di dasar sungai,” jawabnya ringan. “Tidak banyak. Tidak akan terasa.”
Raga menatap wadah-wadah cairan perak. “Dan cairan itu?”
Rako tersenyum. “Penolong. Tanpa itu, emas sulit dikumpulkan. Tenang saja, ini pekerjaan.”
Raga mengepakkan sayap, suaranya dingin. “Bagi emas, mungkin itu penolong. Bagi sungai, itu pembunuh.”
Rako tertawa kecil, tawa orang yang merasa punya jawaban untuk semua hal. “Hutan perlu kemajuan,” katanya. “Dengan emas, kita bisa tukar garam, obat, biji-bijian tahan kering. Kalian mau hidup susah terus?”
Kalimat itu memecah udara seperti ranting patah. Sebagian hewan memang sedang sulit. Musim belakangan tidak ramah. Buah makin jarang. Rumput makin tipis. Kata “obat” terdengar seperti harapan.
Sura menahan geram. “Kemajuan yang meracuni sungai bukan kemajuan,” katanya.
Rako mengangkat bahu. “Kalau kalian melarang, beri kami cara makan. Kalau tidak, biarkan kami bekerja.”
Sura dan Raga kembali dengan kabar yang berat.
3) Dewan Rimba dan Dua Ketakutan
Barata memanggil Dewan Rimba: perwakilan kawanan, para pengetahuan tua, dan penjaga jalur.
Di antara mereka ada Kura-kura Bima yang hafal musim, Beruang Nara yang paham sungai, Rusa Laya yang peka pada perubahan, dan Musang Seli—pedagang paling licin sekaligus paling realistis.
Sura melaporkan kamp, emas, dan cairan perak. Raga menjelaskan bahaya: racun bisa menempel di air, di ikan, lalu naik ke tubuh siapa pun yang makan dari sungai. Racun tidak perlu berteriak untuk menang.
Seli segera bicara. “Kalau kita usir, mereka pindah lebih dalam. Lebih sulit diawasi. Lebih baik kita atur. Buat batas. Ambil bagian. Jadikan legal dengan perjanjian.”
Bima menghela napas. “Racun tidak kenal perjanjian.”
Seli membalas, “Kelaparan juga tidak kenal perjanjian.”
Barata menatap semua wajah, lalu bertanya pelan, “Kalian dengar itu? Ada dua ketakutan di sini. Ketakutan kehilangan hutan… dan ketakutan kekurangan. Kita harus memilih cara yang tidak mengorbankan masa depan untuk menenangkan hari ini.”
Lalu Barata membuat keputusan yang tidak disukai semua pihak karena terlalu tegas untuk yang ingin kompromi, dan terlalu sabar untuk yang ingin kekerasan:
“Kita bentuk Pasukan Akar,” kata Barata. “Tugasnya menertibkan penggalian, menutup jalur suplai, dan memulihkan tanah. Bukan untuk perang, tapi untuk menjaga.”
4) Pasukan Akar dan Aturan Tanpa Harga
Pasukan Akar dibentuk dari beragam jenis:
- Sura memimpin patroli.
- Raga memimpin pengamatan dan strategi.
- Kuda liar mengatur rute.
- Beruang dan kura-kura memantau kesehatan air.
- Burung-burung kecil menjadi pembawa kabar.
Sebelum mereka bergerak, Barata memberi satu aturan:
“Tidak ada yang boleh menerima hadiah dari para penggali. Hadiah adalah pintu yang tampak sopan, tapi membuka ruang bagi racun.”
Pada minggu pertama, Pasukan Akar menutup beberapa lubang galian. Mereka mematahkan rangka kayu alat pemutar lumpur. Mereka mengusir kelompok kecil kera yang tertinggal.
Namun Rako bukan pemula. Ia memindahkan operasi lebih jauh, menyebar kelompok, dan memasang pengintai.
Perang sebenarnya dimulai bukan dengan cakar, tapi dengan kesabaran.
5) Racun yang Tak Berisik
Sungai Puspa mulai berubah pelan, seperti orang yang sakit tapi menolak mengaku.
Air tidak langsung hitam. Ia hanya sedikit lebih keruh. Ikan kecil tidak langsung hilang. Mereka hanya lebih jarang. Burung bangau tidak langsung mati. Ia hanya lebih sering batuk.
Anak kelinci mulai sakit perut. Beruang Nara yang biasa makan ikan merasa pusing. Laya si rusa mencium bau logam yang tidak pernah ada.
Raga berdiri lama di tepi sungai, memandangi aliran. “Ini bukan lumpur biasa,” gumamnya.
Sura menggertakkan gigi. “Kita harus tangkap Rako. Bukan hanya usir.”
Luma si kijang kembali membawa kabar: “Ada jalur kereta di sisi barat. Ada musang yang membawa kantong-kantong kecil keluar masuk malam hari.”
Seli si musang, saat ditanya, mendengus. “Jangan tatap aku seolah aku bagian mereka. Aku juga muak melihat sungai sakit.”
Tapi kecurigaan sudah mulai beranak-pinak—dan itu persis yang diinginkan jaringan ilegal: membuat para penjaga saling curiga, sementara mereka bekerja dalam bayang.
6) Kabar dari Hutan Seberang
Suatu hari, burung pengelana membawa kabar jauh: di rimba-rimba besar seberang laut, terjadi operasi gabungan lintas wilayah untuk menekan tambang emas ilegal—penangkapan besar, penyitaan uang, emas mentah, merkuri, bahkan senjata dan peralatan.
Raga menyampaikan kabar itu di Dewan Rimba. “Kita tidak sendirian,” katanya. “Masalah ini bukan masalah satu sungai. Ini pola: emas menarik jaringan, merkuri meracuni hutan, dan ketakutan memberi mereka ruang.”
Barata mengangguk. “Kalau hutan-hutan lain sampai bekerja sama lintas batas, berarti kita juga harus kuat—dengan aturan, bukan hanya otot.”
Dewan Rimba semakin serius. Barata menegaskan: “Penertiban harus menyasar jaringan, bukan hanya lubang.”
7) Tikungan Batu dan Malam Penangkapan
Pasukan Akar mengatur operasi senyap. Mereka memilih Tikungan Batu, tempat arus menyempit dan suara air menutup bunyi langkah.
Malam itu, bulan separuh—cukup terang untuk melihat, cukup gelap untuk bersembunyi.
Sura memimpin dari depan. Burung-burung kecil mengintai dari atas. Beruang menunggu di jalur air. Kuda liar menjaga rute kabur.
Saat para penggali lengah, Pasukan Akar menyerbu.
Kera-kera berhamburan. Babi hutan mendorong karung. Musang-melempar kantong-kantong kecil ke semak.
Sura melompat ke depan dan menghadang Rako yang mencoba kabur lewat batu licin.
“Kau pikir hutan ini toko?” geram Sura.
Rako menatap Sura, napasnya cepat, tapi matanya masih menyimpan sisa kesombongan. “Kau menang malam ini,” katanya. “Tapi besok akan ada yang lain. Kau tidak bisa mengawasi semua tikungan.”
Sura menjawab, “Aku tidak perlu mengawasi semua tikungan. Aku hanya harus memastikan semua orang tahu: hutan ini punya gigi.”
Pasukan Akar menyita alat, menutup lubang, dan mengamankan beberapa pelaku. Mereka juga menemukan wadah-wadah cairan perak yang cukup untuk membuat Sungai Puspa sakit berbulan-bulan.
Raga menatap wadah itu lama. “Ini bukan sekadar pencuri,” katanya. “Ini pembunuh yang menyamar jadi pekerja.”
8) Pengadilan Rimba dan Hukuman yang Membalik Arah
Barata mengadakan Pengadilan Rimba di lapangan akar tua. Semua hewan berkumpul, termasuk anak-anak, karena Barata percaya: generasi yang tidak melihat konsekuensi akan mudah tergoda kilau.
Rako dibawa ke tengah. Tidak diikat, tidak dipukuli. Barata ingin kebenaran muncul tanpa kebisingan.
Barata bertanya, “Kenapa kau lakukan ini?”
Rako menjawab, suaranya serak. “Karena aku tidak mau lapar. Karena aku tidak mau kawanan kami selalu jadi yang paling belakang. Karena emas membuat semua orang mendengar.”
Barata bertanya lagi, “Dan sungai?”
Rako menelan ludah. “Aku… mengira dampaknya tidak sejauh ini.”
Raga menyela, “Racun selalu sejauh ini. Yang membuatnya tampak dekat hanya kebohongan yang kamu ulang.”
Barata mengetukkan gadingnya ke tanah, membuat sunyi jatuh rata.
“Rako,” kata Barata, “kau melanggar aturan. Tapi hutan tidak butuh korban baru. Hutan butuh pemulihan.”
Hukuman Rako dan kelompoknya bukan penjara batu—karena penjara tidak menyembuhkan sungai. Hukuman mereka adalah kerja pemulihan:
- Menutup semua jalur suplai yang mereka buat.
- Membersihkan kamp dan limbah.
- Menanam kembali tepi sungai yang rusak.
- Membuat parit dan penahan agar sedimen tidak terus menutup arus.
- Mengganti kerugian kawanan terdampak dengan tenaga—bukan emas.
Sebagian hewan menggerutu, “Terlalu lunak!”
Barata menjawab, “Kalau kita hanya tahu memukul, kita hanya mengganti pelaku, bukan memperbaiki perilaku. Yang kita butuhkan adalah perubahan arah.”
9) Menanam di Tanah yang Pernah Digali
Pemulihan itu tidak glamor. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada kilau.
Hari-hari berikutnya diisi lumpur, bibit, dan bau tanah basah. Rako bekerja di bawah pengawasan, menanam semak penahan erosi. Babi hutan membantu mengangkat batu besar untuk membangun penahan arus. Kera-kera yang dulu mengeruk, kini mengangkut bibit dan menimbun lubang.
Pada minggu pertama, Rako bekerja seperti orang yang sedang menjalani hukuman. Pada minggu ketiga, ia bekerja seperti orang yang mulai mengerti.
Suatu sore, Luma si kijang mendekati Rako saat mereka menanam bibit di tepi sungai.
“Kenapa dulu kamu yakin emas itu solusi?” tanya Luma.
Rako memandang air yang masih belum jernih. “Karena emas membuat dunia terasa adil,” jawabnya pelan. “Yang punya emas bisa bertukar nasib. Aku pikir itu jalan cepat.”
Luma mengernyit. “Terus sekarang?”
Rako tersenyum pahit. “Sekarang aku tahu: jalan cepat sering memotong jantung hutan.”
10) Sungai yang Pelan-Pelan Pulih
Bulan berganti. Sungai Puspa tidak langsung sembuh total—luka besar selalu butuh waktu. Tapi di beberapa tikungan, air mulai kembali bening. Ikan kecil mulai muncul. Burung bangau tidak lagi batuk setiap hari. Beruang Nara tidak lagi pusing setelah makan.
Dewan Rimba belajar satu hal penting: penertiban tidak cukup bila berhenti pada penangkapan. Penertiban harus punya kelanjutan: pemulihan, pengawasan, dan budaya malu terhadap racun.
Barata mendengar kabar dari dunia luar juga: ada negara besar yang menargetkan pengambilalihan area hutan luas dari aktivitas ilegal dan bertindak tegas terhadap pelanggaran yang merusak lingkungan.
Barata hanya berkata, “Bagus. Tapi yang lebih bagus lagi adalah ketika tindakan itu membuat sungai benar-benar pulih, bukan hanya angka terlihat rapi.”
11) Moral yang Ditulis di Air
Pada hari ketika satu bagian Sungai Puspa akhirnya jernih sampai batu dasarnya terlihat, Barata mengumpulkan anak-anak hewan di tepi air.
Ia berkata, “Kalian akan sering melihat dunia menawarkan kilau. Kadang namanya emas. Kadang namanya cepat kaya. Kadang namanya kemajuan. Tapi selalu ada pertanyaan yang harus kalian tanya dulu.”
Barata menatap permukaan air yang memantulkan langit.
“Pertanyaan itu sederhana: kalau aku mengambil ini, siapa yang membayar diam-diam?”
Anak-anak terdiam.
Sura yang biasanya keras menunduk, karena ia tahu jawaban paling sering adalah: yang paling kecil, yang paling jauh dari rapat, yang paling tidak punya suara.
Barata menutup pelan, seperti sungai menutup malam:
“Kilau bisa dibagi, tapi racun selalu menyebar.”
Sejak itu, Hutan Puspa tidak pernah lagi memandang sungai sebagai tempat mengambil. Mereka memandangnya sebagai tempat mengingat: bahwa hidup bukan cuma soal menang hari ini, tapi soal memastikan besok masih ada air untuk diminum.



















