Empat Totol yang Dipulangkan, dan Hutan yang Ditagih

Di ujung dunia yang jarang disapa peta, ada gugus pulau bernama Kepulauan Pualam. Orang-orang yang pernah singgah akan bilang: “Di sana, lautnya bukan cuma air. Ia seperti cermin yang bisa menyimpan rahasia. Dan hutannya bukan cuma pohon. Ia seperti lemari tua yang menyimpan napas.”

Kepulauan Pualam punya kebiasaan aneh: jika hutan batuk, laut ikut sesak. Jika laut demam, hujan di darat ikut salah jadwal. Dua dunia yang kelihatannya terpisah itu, sebenarnya saling meminjam nadi.

Di Pualam, semua makhluk hidup di bawah aturan tak tertulis yang sudah lebih tua daripada cerita manusia: ambil secukupnya, kembalikan sepadannya.

Pemimpin laut mereka bukan raja yang duduk di singgasana, melainkan seekor hiu tutul tua bernama Sagara. Pola totol di punggungnya sudah pudar, seperti kain lama yang sering diguyur arus. Ia bukan ditakuti karena galak; Sagara dihormati karena jarang bicara, tapi selalu benar membaca tanda.

Sementara di darat, tidak ada satu penguasa. Hutan dipimpin oleh Dewan Akar: Gajah tua bernama Bada, Harimau penjaga batas bernama Rana, Rangkong bermata tajam bernama Kori, dan Kura-kura tua bernama Selo yang menyimpan ingatan lebih panjang daripada garis pantai.

Suatu musim, angin datang dengan aroma yang tidak biasa—aroma logam, asap, dan garam yang getir. Bada si gajah bilang itu bau “lubang baru”. Kori bilang itu bau “jalan yang dipaksa”.

Dan Sagara… Sagara bilang itu bau “pasar yang terlalu rakus”.

1) Sirip yang Datang dari Gerbang Aneh

Pagi itu air laut tenang seperti kaca yang baru dibersihkan. Di dekat pulau kecil bernama Maiton, penyu remaja bernama Kima melihat sesuatu yang membuatnya ragu antara senang dan takut: manusia datang dengan perahu, tapi bukan membawa jaring.

Mereka membawa semacam “kandang” yang terbuat dari rangka ringan. Kandang itu diturunkan pelan-pelan ke laut, lalu pintunya dibuka seperti orang membuka halaman baru.

Dari sana keluar empat hiu tutul muda—masih kecil, totolnya rapi, gerakannya canggung seperti anak yang baru belajar berenang tanpa pegangan. Di punggung mereka menempel benda kecil yang kadang memantulkan kilau, seolah ada bintang yang dipaku di kulit.

Kima berlari berenang menemui Sagara, sang hiu tua.

“Paman Sagara,” katanya cepat, “manusia… melepas hiu tutul! Empat ekor. Mereka bukan lahir di sini. Tapi mereka dikasih pulang.”

Sagara tidak langsung mendekat. Ia berputar dari kejauhan, mengamati perahu manusia, gerak tangan manusia, dan cara mereka memperlakukan air. Dari gerak halus itu, Sagara menangkap sesuatu yang jarang ia temukan pada manusia: kehati-hatian.

Keempat hiu muda, setelah berputar beberapa kali, mendekat ke arah Sagara, seperti anak-anak yang menemukan orang tua yang bisa dipercaya.

Yang pertama memperkenalkan diri, suaranya sopan sekali untuk ukuran hiu.

“Aku Maiton,” katanya. “Namaku sama dengan pulau ini. Aku dibesarkan di tempat yang airnya dikontrol. Aku dilatih berenang di arus pelan. Tapi sekarang aku disuruh pulang ke laut sungguhan.”

Yang kedua berkata, “Aku Hope. Aku sering dengar kata itu dari manusia yang merawatku. Katanya, aku adalah harapan.”

Yang ketiga, sedikit lebih berani, berkata, “Aku Spot. Aku diajari mengenali terumbu dari jarak jauh. Tapi aku belum pernah merasakan laut yang benar-benar tak bisa ditebak.”

Yang terakhir hanya menatap Sagara tanpa banyak kata. Lalu ia bicara pelan, seperti takut suaranya memecahkan air: “Aku Toty. Aku takut… tapi aku juga penasaran.”

Sagara mengangguk.

“Aku tidak tahu apa isi hati manusia,” kata Sagara. “Tapi aku tahu laut. Dan laut tidak akan memanjakan kalian.”

Keempat hiu muda menelan ketakutan mereka.

Sagara melanjutkan, “Kalian boleh tinggal dekat karangku sementara. Tapi ingat tiga aturan: jangan mendekati perahu, jangan mengejar ikan sampai ke muara keruh, dan jangan berenang sendirian saat air berubah warna.”

Hope bertanya, “Kenapa muara keruh berbahaya?”

Sagara menjawab singkat, “Karena muara keruh biasanya bukan ulah laut.”

Keempat hiu muda belum paham. Tapi mereka mencatat.

Apa yang terjadi di Pulau Maiton itu mirip dengan kabar di dunia manusia: pelepasan empat hiu tutul hasil penangkaran dan pelatihan adaptasi untuk mengembalikan populasi liar.

Namun, yang tidak tertulis di berita manusia adalah: setelah perahu pergi, kehidupan dimulai dari nol—dan nol itu dingin.

2) Jalan Tanah yang Membelah Ingatan

Sementara sirip-sirip muda belajar membaca arus, darat sibuk menghadapi sesuatu yang lebih kasar daripada ombak.

Kori sang rangkong terbang melintasi hutan timur dan melihat pemandangan yang membuat bulunya merinding: garis panjang tanah merah membelah rimba. Pohon-pohon besar rebah seperti penjaga yang kalah. Ada bunyi mesin yang menggigit kayu, ada bau minyak, dan ada jejak roda yang menginjak tanah sampai padat seperti batu.

Kori segera menuju tempat Dewan Akar berkumpul.

“Hutan kita disayat,” kata Kori. “Bukan oleh petir, bukan oleh badai. Oleh tangan yang lapar.”

Rana sang harimau menggeram, “Aku akan mengusir mereka.”

Bada si gajah menatap tanah, mengendus. “Kalau jalan itu terus dibuka,” katanya, “air hujan akan lari terlalu cepat. Sungai akan menabrak muara membawa lumpur. Mangrove akan menjerit, karang akan tersedak.”

Selo si kura-kura, seperti biasa, bicara paling lambat tetapi paling dalam. “Saat hutan hilang, bukan hanya tempat tinggal yang lenyap,” katanya. “Yang lenyap adalah cara kita bertahan.”

Dewan Akar mengirim lutung pengintai. Lutung kembali dengan kabar ganjil: ada manusia yang menebang diam-diam, tapi ada juga kelompok manusia lain yang datang membawa peta, bendera, dan perintah tegas. Mereka menyita alat, menutup akses, bahkan memagari sebagian area.

“Seperti perang manusia melawan manusia,” kata lutung.

Dewan Akar tidak paham istilah “task force” atau “operasi penertiban”, tetapi mereka paham makna di baliknya: ada manusia yang mengambil tanpa izin, dan ada manusia yang sedang mencoba menagih hutan yang diambil. Itu selaras dengan berita tentang operasi besar Indonesia untuk menindak aktivitas ilegal di kawasan hutan dan mengambil alih lahan yang digunakan tanpa izin.

Masalahnya, menertibkan bukan berarti menyembuhkan. Jalan tanah sudah telanjur ada. Lubang sudah telanjur menganga. Dan luka seperti itu selalu punya cara untuk “turun” ke laut.

3) Air Berubah Warna, Rumah Berubah Nasib

Beberapa minggu setelah jalan tanah muncul, hujan turun deras—bukan hujan biasa, tetapi hujan yang seperti ingin menggugat bumi.

Air menghantam tanah gundul. Tanpa akar untuk menahan, tanah berubah jadi arus lumpur. Lumpur itu berlari mengikuti jalan termudah: sungai, lalu muara.

Hari itu, Sagara merasakan perubahan pertama kali melalui siripnya. Air yang biasanya bening tiba-tiba terasa berat. Bau terumbu berubah. Suara ikan-ikan kecil jadi kacau. Dan warna laut di dekat muara bergeser—dari biru kehijauan menjadi cokelat pucat.

Spot batuk—iya, hiu juga bisa “batuk” dengan cara mereka sendiri: gerak insang yang panik.

“Aku tidak bisa melihat!” katanya. “Aku tidak bisa membaca karang!”

Maiton mencoba tetap dekat Sagara, tapi arus lumpur membuatnya seperti berenang di dalam kabut.

Hope bertanya, “Ini apa? Apakah laut sedang marah pada kita?”

Sagara menahan mereka agar tidak terpencar. “Ini bukan amarah laut,” katanya. “Ini tangisan darat yang tercebur ke rumah kita.”

Toty, yang paling pendiam, berbisik, “Berarti… kita pulang ke rumah yang sakit?”

Sagara menatap mereka satu-satu. “Kalian pulang bukan ke rumah yang sempurna,” katanya. “Kalian pulang untuk ikut memulihkan.”

Keempat hiu muda terdiam. Kalimat itu terdengar berat—lebih berat dari benda kecil yang menempel di punggung mereka.

Malamnya, ketika air sedikit tenang, Sagara memutuskan melakukan sesuatu yang jarang dilakukan makhluk laut: meminta bantuan darat.

4) Perjanjian Muara

Sagara memanggil Kima si penyu. “Kau bisa naik pantai,” kata Sagara. “Kau bisa bicara ke Dewan Akar. Sampaikan ini: jika akar hilang, karang mati. Jika karang mati, ikan pergi. Jika ikan pergi, laut sunyi. Jika laut sunyi… kalian akan kekurangan banyak hal, termasuk hujan yang benar.”

Kima berenang menuju pantai, lalu merayap melewati akar mangrove yang mulai jarang. Ia menemukan Dewan Akar di dekat pohon besar yang tersisa.

Bada mendengar pesan itu dan menghela napas panjang. “Laut meminta bantuan,” katanya. “Berarti masalah kita sudah melewati batas hutan.”

Rana, yang biasanya cepat marah, kali ini diam. Ia tahu ini bukan sekadar urusan wilayah.

Selo berkata, “Kalau laut dan hutan sudah saling mengirim utusan, artinya kita sedang berada di tepi cerita yang bisa berakhir buruk.”

Dewan Akar mengundang perwakilan laut untuk bertemu di muara saat bulan separuh.

Malam itu, muara seperti ruang rapat yang dibuat alam: air setengah asin, setengah tawar. Di satu sisi, akar mangrove. Di sisi lain, karang yang mulai kusam. Angin membawa suara dua dunia sekaligus.

Sagara datang dengan empat hiu muda di belakangnya.

Bada berdiri paling depan. “Kami mendengar sirip-sirip muda dipulangkan manusia,” katanya, mengingat kabar dari laut yang mirip dengan pelepasan hiu tutul dalam proyek konservasi. “Tapi kami juga tahu laut kalian kini keruh.”

Sagara menjawab, “Keruh bukan dari laut. Dari jalan tanah dan lubang di hutan kalian.”

Rana menggeram pelan, bukan marah, lebih seperti sedih. “Kami berusaha menghentikan manusia yang mengambil,” katanya. “Ada manusia lain yang menertibkan, menyita, mengambil alih… tapi luka telanjur ada.”

Kori berkata, “Kalau kita hanya fokus mengusir, kita lupa menanam.”

Selo menatap muara. “Apa yang bisa dilakukan makhluk, tanpa menunggu manusia jadi bijak?”

Sagara menjawab, “Mangrove.”

Semua terdiam.

“Mangrove adalah pagar akar,” lanjut Sagara. “Ia menahan lumpur sebelum lumpur membunuh karang. Ia juga rumah bagi ikan kecil—makanan bagi ikan besar—yang menjaga rantai hidup.”

Bada mengangguk. “Dan pohon di atas sana,” katanya, “harus kembali. Karena setiap hujan akan jadi bencana kalau tanah tidak punya pegangan.”

Dewan Akar dan Sagara sepakat: mereka akan melakukan pemulihan dari bawah—dengan tenaga makhluk—sebelum meminta mukjizat dari manusia.

Mereka menyebutnya Perjanjian Muara: hutan akan menguatkan akar, laut akan menjaga karang, dan keduanya akan mengajari yang muda untuk tidak mengulangi kesalahan yang tua.

5) Kerja yang Tidak Viral

Besoknya, semua bergerak.

Kepiting-kepiting menggali lubang kecil di tepi muara. Penyu-penyu membawa bibit mangrove yang jatuh dari pohon tersisa, menancapkannya kembali ke lumpur. Burung-burung pantai mengambil ranting-ranting kecil dan menjatuhkannya di tempat yang tepat agar lumpur tidak gampang lari.

Di hutan, rusa, babi hutan, dan gajah membawa biji-bijian ke bekas jalan tanah. Kori sang rangkong menyebar benih dari udara. Rana patroli batas, bukan untuk mencari musuh, tapi untuk memastikan area yang mulai pulih tidak diinjak ulang.

Kerja mereka sunyi. Tidak ada sorak. Tidak ada “hadiah cepat”. Tidak ada hasil instan.

Maka masalah berikutnya muncul: putus asa.

Sepekan berlalu, air masih keruh. Sebulan berlalu, bibit mangrove masih kecil. Beberapa hewan mulai mengejek.

“Percuma,” kata burung camar. “Satu hujan besar bisa menyapu semua bibit itu.”

“Manusia akan balik lagi,” kata monyet muda. “Mereka selalu balik.”

Bahkan di laut, Spot sempat goyah. “Kita dilepas untuk memulihkan,” katanya pada Sagara, “tapi aku merasa kita hanya pion. Kita bukan dokter. Kita hiu.”

Sagara menatapnya lama. “Justru karena kita bukan dokter, kita harus disiplin,” katanya. “Dokter bisa pulang setelah tugas. Kita tidak punya pilihan pulang. Kita hidup di sini.”

Hope bertanya pelan, “Apa tanda bahwa kita berhasil?”

Sagara menoleh ke jauh, seolah memandang masa depan. “Tanda keberhasilan adalah ketika hiu tutul tidak lagi jadi cerita pasar,” katanya, “melainkan jadi pemandangan biasa di laut.” Ucapan itu seperti gema dari pesan konservasi manusia yang menganggap sukses ketika hiu tutul kembali terlihat dan tidak lagi muncul di pasar ikan.

Keempat hiu muda mengangguk, meski mereka belum sepenuhnya paham arti “pasar” dalam nasib makhluk.

6) Godaan Jalan Pintas

Saat makhluk-makhluk sibuk memulihkan, sebagian manusia yang dulu mengambil diam-diam mencoba kembali.

Mereka tidak selalu membawa mesin besar. Kadang mereka membawa sesuatu yang lebih halus: umpan.

Di tepi hutan, muncul tumpukan buah manis dari luar pulau. Monyet-monyet muda tergoda. Mereka makan, lalu terbiasa. Lama-lama mereka tidak lagi mau mencari buah di hutan yang sedang pulih. Mereka menunggu.

Rana melihat itu dan marah. “Ini cara licik,” katanya. “Mereka tidak menebang kita dengan gergaji, tapi dengan kebiasaan.”

Selo menahan Rana. “Kalau kau menyerang, kau hanya memberi alasan,” katanya. “Umpan harus dilawan dengan aturan.”

Dewan Akar membuat keputusan sulit: siapa pun makhluk yang ketahuan bergantung pada umpan manusia, akan dilarang mendekati area pemulihan untuk sementara. Bukan untuk menghukum, tapi untuk memutus ketergantungan.

Di laut, masalah serupa muncul. Ada ikan-ikan kecil yang berkumpul dekat perahu manusia karena kadang manusia membuang sisa makanan. Itu membuat arus hidup jadi kacau. Jika ikan kecil berubah kebiasaan, pemangsa ikut berubah, rantai pun rusak.

Sagara melarang hiu muda mendekati perahu, seberapa pun menggiurkannya “makanan gratis”.

“Kalian bukan makhluk yang hidup dari sisa,” kata Sagara. “Kalian penjaga keseimbangan.”

Toty mengingat kalimat itu, menyimpannya seperti batu kecil yang memberi pegangan di arus.

7) Hari Ketika Toty Memilih

Sore itu, air mulai jernih sedikit. Untuk pertama kalinya setelah lama, karang terlihat seperti ingin bernapas lagi. Di kejauhan, Toty melihat bayangan panjang di permukaan air: jaring.

Toty kaku. Ia belum pernah tersangkut jaring, tapi ia sering mendengar cerita tentang sirip-sirip tua yang hilang.

Spot langsung ingin kabur. Maiton ingin mendekat karena penasaran. Hope gemetar.

Sagara tidak ada di dekat mereka saat itu—ia sedang memeriksa karang lebih jauh.

Di momen itu, Toty harus memilih: panik atau berpikir.

Ia mengingat tiga aturan Sagara. Ia juga mengingat Perjanjian Muara: jangan jadi masalah baru saat semua sedang menyembuhkan.

Toty berenang memutar dari bawah, mengamati jaring itu. Ia melihat arusnya, melihat cara jaring ditarik. Ia lalu memberi sinyal pada Hope dan Spot untuk mengarahkan ikan-ikan kecil menjauh. Ia tidak jadi pahlawan yang menantang jaring, tapi ia menjadi penjaga yang mencegah korban.

Mereka berhasil menjauh tanpa menarik perhatian.

Saat malam, Toty kembali ke karang dan berkata pada Sagara, “Aku takut… tapi aku memilih belajar.”

Sagara mengangguk. “Itu yang membedakan sirip yang sekadar hidup, dan sirip yang menjaga.”

8) Hutan yang Pelan-Pelan Menagih Balik

Di darat, perubahan juga mulai tampak, pelan, tapi nyata.

Bibit mangrove yang dulu seperti jarum kecil, kini seperti pagar hijau mini. Saat hujan turun, lumpur masih ada, tapi tidak lagi liar. Air muara tidak lagi berubah cokelat sepenuhnya. Karang mulai tampak warna.

Di bekas jalan tanah, rumput liar tumbuh duluan, lalu semak, lalu tunas-tunas pohon. Hutan sedang menulis ulang dirinya.

Bada si gajah berkata, “Hutan itu seperti memori. Ia bisa hilang cepat, tapi pulihnya lambat.”

Kori menambahkan, “Dan manusia sering menyangka yang lambat itu tidak bekerja.”

Selo tersenyum kecil. “Yang lambat justru sering paling tahan lama,” katanya.

Pada waktu yang sama, kabar dari manusia semakin ramai: operasi penertiban di hutan membuat banyak pihak resah, ada denda besar, ada pengambilalihan lahan, ada perebutan narasi.

Makhluk-makhluk Pualam tidak ikut debat manusia. Mereka hanya melihat efeknya: bunyi mesin sedikit berkurang, jalur baru tidak sebanyak dulu, meski ancaman tidak pernah benar-benar hilang.

Dewan Akar paham: penertiban bisa memberi jeda. Tapi pemulihan tetap harus dikerjakan.

9) Ukuran Sukses yang Sederhana

Suatu hari, ikan kerapu tua yang sering mendengar obrolan manusia di dermaga datang membawa kabar aneh.

“Di pasar ikan,” katanya, “jarang ada cerita tentang hiu tutul tertangkap. Dulu kadang ada, sekarang hampir tidak.”

Hope menatap Sagara. “Apa itu artinya… kita mulai menang?”

Sagara menjawab, “Itu artinya kita mulai normal.”

“Normal?” tanya Maiton.

“Ya,” kata Sagara. “Keberhasilan terbesar bukan jadi legenda. Tapi jadi hal biasa yang sehat. Jika hiu tutul kembali jadi pemandangan wajar di laut, berarti laut punya napas lagi.” Ini sejalan dengan ide sukses konservasi yang disebut dalam proyek pelepasan hiu tutul: indikator keberhasilan mencakup kemunculan rutin, bukti berkembang biak, dan hilangnya dari pasar ikan.

Toty menatap muara yang lebih jernih. Untuk pertama kalinya, ia merasa pulang bukan sekadar dilepas, tapi diterima.

10) Mahkota yang Tidak Terlihat

Waktu berjalan. Sagara makin tua. Totolnya makin pudar. Tapi ia tidak khawatir seperti dulu, karena kini laut punya penjaga-penjaga muda yang paham aturan.

Maiton menjadi pengajar bagi sirip-sirip yang baru muncul. Hope menjadi penenang kawanan saat arus berubah. Spot menjadi pengintai, cepat mengabari jika ada jaring atau gangguan. Toty… Toty menjadi simbol sederhana bahwa keberanian tidak harus berisik.

Di darat, Bada semakin jarang berjalan jauh, tapi jalur air yang ia jaga sudah dipagari akar-akar muda. Rana tidak lagi marah setiap hari; ia belajar membedakan kapan harus menggeram dan kapan harus menjaga diam-diam. Kori terus menyebar benih. Selo terus mengingatkan: pemulihan butuh kesabaran, bukan slogan.

Suatu malam, saat bulan purnama menggantung seperti lampu yang tidak memihak, Sagara memanggil empat hiu muda dan berkata:

“Manusia suka mahkota,” katanya. “Mereka suka memegang sesuatu agar merasa berkuasa. Tapi mahkota sejati di Pualam tidak terlihat. Mahkota itu bernama keseimbangan.”

Ia menatap muara, tempat mangrove muda berdiri seperti pagar kecil.

“Kalau keseimbangan retak,” lanjutnya, “hutan batuk, laut sesak. Kalau keseimbangan dijaga, kita semua bisa hidup tanpa harus menang atas siapa pun.”

Keempat hiu muda mengangguk.

Dan sejak hari itu, di Kepulauan Pualam, setiap makhluk—dari yang bersirip sampai yang berkuku—mewariskan satu moral yang sederhana:

Yang paling kuat bukan yang paling cepat mengambil, tapi yang paling lama sanggup menjaga—meski hasilnya tidak instan, tidak ramai, dan tidak selalu terlihat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link