Kerajaan Pagar Angin dan Arak-arakan Gajah dari Utara

Di tanah yang jauh dari peta manusia, ada sebuah lembah bernama Manggala, tempat dua negeri bertetangga dipisahkan oleh sungai sempit yang kadang jadi garis, kadang jadi jembatan. Di sebelah barat sungai, berdiri Hutan Kasura, rimba tua yang katanya bisa mengingat jejak kaki siapa pun yang melintasinya. Di sebelah timur sungai, ada hamparan ladang dan dusun bernama Dara Lembayung, tempat para hewan kecil hidup dengan hukum yang sederhana: menanam saat hujan, menyimpan saat panas, dan berdoa saat langit pelit.

Musim-musim dulu berjalan rapi, seperti barisan semut. Hujan datang, biji tumbuh, sungai penuh, dan hutan tetap tebal. Namun belakangan, langit berubah tabiat. Hujan sering terlambat. Angin panas lebih lama tinggal. Rumput mengering sebelum sempat menua. Dan ketika kemarau panjang menjulur seperti lidah api, semua makhluk mulai menghitung ulang arti kata “cukup”.

Di tengah perubahan itu, muncullah rencana besar dari para makhluk yang menyebut diri mereka Dewan Penjaga Dunia—sekumpulan burung elang dari jauh, bangau berkalung pita, dan kijang-kijang kota yang pandai menyusun dokumen. Mereka datang membawa peta, papan tulis, dan janji-janji yang terdengar seperti musik yang menenangkan.

“Kasura terlalu sempit,” kata Elang Perak, pemimpin rombongan, pada rapat besar di bawah pohon ara raksasa. “Di utara ada hutan yang padat, penuh gajah, penuh persaingan. Kita harus menyelamatkan mereka dengan memindahkan sebagian ke sini. Kasura luas dan subur. Gajah akan aman, hutan akan hidup, dan semua akan bangga.”

Berita itu terdengar mulia. Di atas panggung akar pohon, Elang Perak menunjukkan sketsa: gajah-gajah berjalan tertib, sungai mengalir jernih, dan para makhluk kecil menari di antara bunga.

Sebagian hewan bertepuk sayap, sebagian mengangguk, dan sebagian lagi… diam.

Yang diam bukan karena tak paham, melainkan karena terlalu paham.

Di barisan paling depan, duduk Tikus Ladang bernama Sela—pipi berdebu, mata tajam, dan kuku-kuku kecilnya penuh bekas tanah. Ia hidup di Dara Lembayung, dusun yang ladangnya persis di tepi jalur hutan. Sela tahu, ketika hutan lapar, ladang adalah tempat pertama yang disapa. Dan ketika gajah lapar, ladang bukan lagi ladang—melainkan hidangan.

Sela mengangkat tangan kecilnya, menembus kerumunan.

“Maaf,” katanya, suaranya kecil tapi tegas. “Gajah itu besar. Kami ini kecil. Jika mereka datang… siapa yang menanggung rusaknya panen? Siapa yang mengobati yang terluka? Pagar kami bukan baja, hanya ranting dan doa.”

Elang Perak tersenyum—senyum yang rapi, seperti cap pada surat. “Kami akan memasang penghalang. Kami akan mengirim penjaga. Kami punya rencana. Ini demi kebaikan.”

Lalu rapat ditutup dengan tepuk tangan. Dan yang tidak sempat bertanya lebih banyak, pulang membawa rasa waswas yang tak punya nama.

Arak-arakan dari Utara

Beberapa bulan kemudian, datanglah arak-arakan yang menggetarkan tanah: puluhan gajah dari utara, dibawa dengan cara yang dianggap paling “beradab” oleh Dewan Penjaga Dunia. Di depan rombongan, berjalan Gajah Tua bernama Barana, gadingnya panjang tapi matanya lelah. Di belakangnya, ada gajah-gajah muda yang belum paham mengapa rumah mereka diganti, mengapa jalur lama diputus, dan mengapa bau tanah baru terasa asing.

Ketika mereka pertama kali masuk Kasura, hutan menyambut dengan sunyi. Hutan tidak menolak, tapi hutan juga tidak berjanji.

Pada minggu-minggu pertama, semuanya tampak baik. Gajah menemukan beberapa kubangan air, beberapa pohon buah, beberapa jalur teduh. Dewan Penjaga Dunia memotret dari udara, membuat laporan, dan berkata, “Lihat, berhasil.”

Namun keberhasilan di kertas sering tidak mencium aroma tanah. Hutan Kasura yang terlihat luas ternyata punya batas yang tak terlihat: sebagian hutannya sudah tipis, sebagian airnya dangkal, sebagian buahnya tidak sebanyak yang dibayangkan. Dan kemarau, seperti tamu yang tak diundang, datang lebih awal.

Gajah-gajah mulai mencari. Mencari air. Mencari hijau. Mencari sesuatu yang mengingatkan pada rumah.

Dan pada suatu malam, ketika bulan menggantung seperti piring retak, Barana mencium aroma yang tidak ada di hutan: aroma padi muda.

Ia berdiri lama di tepi Kasura, menghadap ke arah Dara Lembayung. Angin membawa wangi ladang seperti bisikan. Barana menoleh pada kawanan, lalu mengambil langkah pertama keluar dari hutan.

Langkahnya berat. Tanah bergetar. Burung-burung terbang panik.

Di dusun, Sela terbangun karena getaran itu merambat sampai ke liang rumahnya. Ia mendengar suara ranting patah. Ia mencium bau tanah yang diinjak besar-besaran. Ia berlari keluar, dan di bawah cahaya bulan, ia melihat bayangan yang selama ini hanya ada di cerita: gajah—bukan satu, melainkan belasan.

Mereka masuk ke ladang seperti air banjir yang tidak bisa diperingatkan.

Sela menjerit memanggil warga. Datanglah Anjing Penjaga, Ayam Jantan, Kucing Kampung, dan Kera Tua yang biasa jadi juru damai. Mereka menabuh kentongan dari tempurung kelapa. Mereka menyalakan obor. Mereka berteriak. Mereka melempar batu kecil—batu kecil yang memantul dari kulit tebal.

Barana berhenti sejenak, menatap ladang yang hijau. Ada rasa bersalah yang samar di matanya. Tapi lapar adalah guru yang kejam. Ia menggerakkan belalainya, merobohkan satu rumpun padi, lalu satu lagi, lalu seluruh petak.

Dalam semalam, panen yang ditunggu berbulan-bulan lenyap seperti mimpi yang salah alamat.

Pagar Angin

Keesokan paginya, Dara Lembayung berubah jadi rapat darurat. Wajah-wajah penuh debu dan amarah. Anak-anak hewan kecil menangis karena sarang mereka rusak, karena lumbung mereka kosong.

Sela berdiri di tengah lingkaran. “Aku sudah bertanya di rapat besar,” katanya. “Aku sudah bilang kita yang akan menanggung. Tapi mereka bilang ada rencana.”

“Kita harus mendatangi Dewan Penjaga Dunia!” teriak Ayam Jantan.

“Kita harus mengusir gajah!” teriak Anjing Penjaga.

“Kita harus membunuh satu agar yang lain takut!” teriak seekor Musang yang kehilangan rumah.

Kata “membunuh” membuat udara mendadak lebih panas.

Kera Tua, yang biasanya tenang, berkata lirih, “Jika kita mulai membunuh, kita tidak sedang melindungi ladang. Kita sedang menanam dendam.”

Namun dendam sering lebih cepat tumbuh daripada padi.

Dewan Penjaga Dunia akhirnya datang, membawa tenda, kamera, dan kata-kata.

“Kami turut prihatin,” kata Elang Perak. “Ini fase adaptasi. Kami akan meningkatkan penjagaan.”

Mereka memasang pagar seadanya—pagar dari tali, lonceng, dan beberapa batang kayu. Mereka menyebutnya Pagar Angin, karena memang lebih banyak berbicara daripada menahan.

Malam berikutnya, gajah datang lagi. Lonceng berbunyi, tali putus, kayu roboh. Pagar Angin bekerja seperti doa tanpa tindakan.

Kerusakan bertambah. Ketakutan bertambah. Amarah bertambah.

Pada minggu keempat, seorang Landak muda terlambat berlari. Ia terserempet, jatuh, dan luka parah. Jeritan keluarga Landak terdengar sampai tepi sungai. Dan sejak malam itu, kata “konservasi” menjadi kata yang pahit di mulut sebagian warga.

Mereka mulai menyebut Dewan Penjaga Dunia sebagai Penjaga Jauh—penjaga yang menyelamatkan sesuatu tanpa menanggung akibatnya.

Dua Kebenaran yang Tidak Bertemu

Di tengah konflik, Barana juga tidak tenang. Gajah-gajah muda mulai gelisah. Mereka tidak paham mengapa ladang itu dijaga dengan marah, padahal di mata mereka ladang itu adalah hamparan hijau yang menyelamatkan hidup. Mereka tidak paham mengapa manusia-hewan kecil melempar api, padahal mereka hanya makan.

Barana berjalan ke sungai, menatap bayangannya di air yang keruh. Ia ingat rumah lamanya—hutan utara yang ramai, penuh persaingan, tapi juga penuh jejak keluarga. Ia ingat bagaimana mereka dipindahkan dengan gaduh: suara rantai, teriakan, dan bau takut yang menempel di kulit.

Kini, mereka ada di tempat baru, tapi tempat baru itu tidak cukup.

Sementara itu, di Dara Lembayung, Sela menatap lumbung yang kosong. Ia ingat ibunya mengajarkan cara menjemur padi, cara menyimpan biji agar tidak dimakan jamur. Semua ilmu itu tidak berguna kalau padi tidak ada.

Barana punya kebenaran: kami lapar dan butuh hidup.
Sela punya kebenaran: kami juga lapar dan butuh hidup.

Dua kebenaran itu bertabrakan di satu ladang.

Sidang di Pohon Ara

Melihat keadaan makin memburuk, Burung Hantu Tua bernama Karsa memanggil sidang besar di bawah pohon ara—tempat rapat pertama dilakukan.

“Jika kita terus begini,” kata Karsa, “kita akan kehilangan dua hal sekaligus: ladang dan gajah, manusia kecil dan hutan. Kita akan kalah oleh ketidakmampuan mendengar.”

Elang Perak hadir, tapi kali ini wajahnya tidak serapi dulu. Ia membawa lebih sedikit peta, lebih banyak kekhawatiran.

Sela hadir dengan tubuh kurus, matanya menyala oleh amarah yang lelah.

Barana hadir di tepi sidang—ia tidak duduk di lingkaran, karena tubuhnya terlalu besar, tetapi ia mendengarkan.

Karsa meminta semua pihak bicara, bergiliran, tanpa saling memotong.

Sela berdiri pertama. Ia tidak berteriak. Justru suaranya lebih menusuk karena tenang.

“Kalian memindahkan gajah demi menyelamatkan gajah,” katanya pada Elang Perak. “Tapi kalian tidak menyelamatkan kami dari gajah. Kalian bicara soal masa depan, tapi kalian mengambil makan malam kami hari ini.”

Elang Perak membuka paruhnya, lalu menutup lagi. Ia terlihat mencari kata yang tidak menipu.

“Kami… mengira Kasura cukup,” akhirnya ia berkata. “Kami mengira pagar dan penjaga cukup. Kami terlalu percaya pada angka di peta.”

Karsa menoleh ke Barana. “Sekarang kau, Barana. Apa yang kau cari di ladang?”

Barana mengangkat belalainya, lalu menurunkannya perlahan, seperti menahan rasa malu.

“Kami mencari air,” katanya. “Kami mencari hijau. Kami tidak ingin melukai. Tapi ketika perut mengajar, kami belajar dengan cara yang buruk.”

Sidang sunyi. Angin berputar di daun ara.

Lalu Karsa berkata, “Masalahnya bukan gajah atau ladang. Masalahnya adalah kita menaruh sesuatu yang besar di tempat yang sempit, tanpa menyiapkan ruang, tanpa mendengar yang akan tertindih.”

Karsa mengusulkan tiga hal:

  1. Koridor Hijau: jalur khusus dari Kasura menuju wilayah yang lebih kaya air—bukan melewati ladang, melainkan melewati hutan yang akan dipulihkan.
  2. Benteng Madu: tempat umpan alami jauh dari dusun—kolam, garam mineral, dan tanaman favorit gajah—agar gajah punya alasan untuk tidak mendekat.
  3. Perjanjian Panen: setiap kerusakan ladang harus diganti dengan makanan dari gudang Dewan Penjaga Dunia, bukan sekadar simpati.

Sela menatap Elang Perak. “Bukan janji,” katanya. “Tindakan.”

Elang Perak menunduk. Untuk pertama kalinya, ia terlihat seperti pemimpin yang belajar.

“Kami akan lakukan,” katanya. “Tapi kami butuh kalian membantu. Bantu kami memilih jalur. Bantu kami membaca tanah yang tidak kami kenal.”

Sela mengangguk kecil—bukan karena percaya sepenuhnya, tetapi karena tidak punya kemewahan untuk menolak harapan.

Malam Ujian

Koridor Hijau mulai dibuka. Burung-burung menyebar benih. Kijang dan rusa menanam tunas. Kera-kera membuat jembatan ranting di atas rawa kecil. Para hewan dusun membuat pagar yang lebih kuat—bukan Pagar Angin, tapi pagar yang punya logika: parit kecil, tali berbau, dan bunyi-bunyian yang mengarahkan, bukan menantang.

Benteng Madu dibuat di dalam hutan, jauh dari ladang. Di sana ada kolam yang dijaga tetap penuh. Ada garam mineral yang menarik gajah. Ada pohon buah yang ditanam ulang.

Namun perubahan tidak terjadi dalam sehari. Dan malam-malam tetap datang, membawa lapar yang tidak sabar.

Suatu malam, kawanan gajah muda bergerak lagi menuju ladang. Mereka belum hafal Benteng Madu. Mereka belum percaya koridor baru.

Sela, yang berjaga bersama Anjing Penjaga, mendengar langkah. Ia menggenggam obor. Dulu ia akan berteriak dan melempar batu. Malam itu ia melakukan hal yang berbeda.

Ia meniup peluit—bukan peluit panik, melainkan peluit pola: tiga kali panjang, dua kali pendek. Itu isyarat yang disepakati. Dari hutan, para penjaga—serigala, kerbau, dan beberapa manusia-hewan besar—menyalakan bunyi-bunyian yang mengarah ke jalur Koridor Hijau.

Bunyi itu seperti sungai suara: tidak menakutkan, tapi mengarahkan.

Barana, yang kebetulan dekat jalur itu, berdiri menghadang gajah muda. Ia mengeluarkan suara rendah, suara yang mengandung perintah dan kasih sekaligus.

“Bukan ke sana,” katanya. “Ke sini.”

Gajah muda ragu. Ladang lebih dekat, lebih wangi. Tapi bunyi-bunyian itu memanggil seperti ingatan baru. Perlahan, mereka berbalik.

Malam itu, ladang selamat.

Dan ketika pagi datang, Sela duduk di tepi petaknya, menatap padi yang masih berdiri. Ia menangis diam-diam—bukan karena sedih, tapi karena untuk pertama kalinya ia merasa mungkin ada jalan tanpa kebencian.

Harga dari Sebuah Niat Baik

Meski keadaan membaik, luka tidak langsung sembuh. Sebagian warga masih marah. Sebagian masih takut. Sebagian menganggap perjanjian ini hanya sementara—dan mereka mungkin benar.

Karena alam tidak bernegosiasi; ia hanya merespons.

Ketika kemarau berikutnya datang, Koridor Hijau diuji lagi. Kolam Benteng Madu harus diisi lebih sering. Gudang pengganti panen harus benar-benar ada, bukan sekadar rencana. Dan Dewan Penjaga Dunia harus terus hadir, bukan datang hanya saat kamera menyala.

Elang Perak belajar sesuatu yang membuat sayapnya terasa lebih berat: menyelamatkan makhluk besar tidak cukup dengan memindahkan tubuhnya; harus memindahkan tanggung jawab juga.

Barana belajar sesuatu yang membuat langkahnya lebih pelan: hidup bukan hanya soal makan hari ini, tetapi juga soal tidak menciptakan musuh yang membuat hari esok tidak mungkin.

Sela belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan di ladang: memaafkan bukan berarti melupakan, tetapi memilih cara hidup yang tidak meracuni diri sendiri.

Akhir yang Tidak Sempurna, Tapi Benar

Bertahun-tahun kemudian, Dara Lembayung masih menanam. Kasura masih menumbuhkan hutan muda. Gajah-gajah masih ada, walau kadang masih bandel. Konflik tidak hilang sepenuhnya—karena hidup tidak pernah sepenuhnya rapi.

Namun ada satu hal yang berubah: setiap rencana besar kini dimulai bukan dengan peta, melainkan dengan mendengar.

Di bawah pohon ara, Karsa menuliskan satu kalimat pada kulit kayu—agar semua generasi membacanya:

“Niat baik yang berjalan sendirian akan tersesat. Niat baik yang berjalan bersama tanggung jawab akan menemukan jalan.”

Dan itu menjadi pelajaran paling penting di Kerajaan Manggala:
bahwa keselamatan bukan sekadar memindahkan masalah, melainkan menata ruang hidup agar tidak ada yang dikorbankan diam-diam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link