Negeri Burung Pesisir dan Laut yang Tidak Lagi Pulang
I. Negeri yang Hidup dari Pasang
Di ujung dunia yang jarang dikunjungi peta, berdirilah Negeri Pesisir Arwana, tempat daratan dan laut saling menyapa setiap hari. Negeri ini tidak besar, tidak pula kaya, tetapi hidup dengan ritme yang pasti: pasang dan surut.
Di saat surut, pasir terbuka seperti hamparan perak. Kerang muncul, rumput laut berkilau, dan burung-burung kecil berlarian mencari makan. Di saat pasang, air naik perlahan, membasahi akar bakau, membawa ikan, dan meninggalkan rezeki.
Penghuni negeri ini adalah makhluk-makhluk pesisir:
Burung Kuntul, Kepiting, Ikan Gelodok, Penyu, dan Bangau Laut.
Pemimpin tidak resmi mereka adalah Bangau Tua bernama Laksana, burung berkaki panjang dengan bulu abu-abu yang mulai memutih. Ia tidak pernah mengklaim kekuasaan, tetapi semua mendengarnya karena ia hidup paling lama dan paling paham laut.
“Laut bukan milik kita,” kata Laksana sering.
“Kita hanya tamu yang harus tahu kapan mundur.”
Selama bertahun-tahun, nasihat itu cukup.
II. Laut yang Datang Lebih Jauh
Perubahan pertama terasa kecil.
Air pasang sedikit lebih tinggi.
Pasir surut sedikit lebih cepat.
Para Kepiting kehilangan beberapa liang, tapi masih bisa menggali ulang. Burung-burung masih menemukan ikan. Tidak ada kepanikan.
Namun musim demi musim, laut tidak kembali sejauh dulu.
Pohon bakau mulai rebah satu per satu. Telur Penyu yang biasa aman kini terendam. Ikan Gelodok kehilangan lumpur tempat mereka bernapas.
“Laut lupa jalan pulang,” gumam Ikan Gelodok muda bernama Ranu.
Bangau Laksana mengamati garis air dengan mata tajam. Ia tahu, laut tidak lupa. Laut dipaksa berubah.
III. Tembok dari Janji
Suatu hari, datanglah rombongan dari arah darat: Bangau Putih dengan sayap bersih, Pelikan berseragam, dan Burung Camar pembawa peta. Mereka menyebut diri Penjaga Garis Pantai.
“Kami datang membawa solusi,” kata pemimpin mereka, Bangau Putih bernama Seraya.
“Kami akan membangun tembok batu agar laut tidak masuk lagi.”
Makhluk pesisir berkumpul.
“Bagaimana dengan bakau?” tanya Penyu.
“Bagaimana dengan pasir tempat kami bertelur?” tanya Kuntul.
Seraya tersenyum. “Pengorbanan kecil demi keselamatan besar.”
Kata kecil kembali terdengar—dan kembali membuat yang kecil gemetar.
Bangau Laksana berdiri di depan.
“Laut tidak bisa dihentikan,” katanya tenang.
“Ia hanya bisa diajak berdamai.”
Namun peta sudah digelar, batu sudah dikirim.
IV. Tembok yang Mengubah Arah
Tembok dibangun cepat. Batu ditumpuk tinggi. Dari jauh, ia tampak gagah.
Awalnya, makhluk pesisir merasa aman. Air tertahan. Kampung tidak lagi langsung basah.
Namun laut tidak berhenti—ia mencari jalan lain.
Arus berubah. Pasir terkikis dari bawah. Bagian lain pantai runtuh lebih cepat.
Di sisi yang tidak bertembok, laut menggigit lebih rakus.
“Kita menyelamatkan satu bagian,” kata Seraya,
“dan mengorbankan bagian lain.”
Kepiting mulai kehilangan tempat. Burung-burung harus terbang lebih jauh. Penyu tidak lagi menemukan pasir yang cocok.
Bangau Laksana melihat tembok itu dan berkata pelan,
“Ini bukan perlindungan. Ini penundaan.”
V. Anak yang Bertanya
Di tengah kekacauan kecil itu, hiduplah Burung Kuntul muda bernama Tira. Ia belum lama belajar terbang jauh. Ia tumbuh di pesisir, dan baginya pantai adalah rumah.
“Kenapa laut marah?” tanya Tira pada Laksana.
Laksana menatap cakrawala.
“Laut tidak marah,” katanya.
“Laut naik karena dunia memanas, dan es jauh di utara menangis.”
“Apakah kita bisa menyuruh laut berhenti?” tanya Tira polos.
“Kita bisa berhenti menyakiti dunia,” jawab Laksana.
“Tapi itu bukan keputusan negeri kecil seperti kita.”
Jawaban itu membuat Tira bingung—dan takut.
VI. Malam Tanpa Surut
Malam itu datang pasang tertinggi yang pernah ada.
Air melewati tembok. Batu retak. Arus masuk tanpa permisi.
Liang Kepiting runtuh. Sarang Burung terendam. Telur Penyu hanyut.
Makhluk pesisir panik.
Sebagian menyelamatkan diri ke darat. Sebagian bertahan di pohon yang tersisa. Sebagian tidak sempat apa-apa.
Saat pagi tiba, Negeri Arwana berkurang separuhnya.
Seraya berdiri di atas batu tembok yang retak. Sayapnya kotor lumpur.
“Ini di luar perkiraan,” katanya.
Bangau Laksana berdiri di air setinggi dada.
“Laut tidak pernah berjanji mengikuti perkiraan,” katanya.
VII. Pilihan yang Tidak Adil
Penjaga Garis Pantai mengumumkan rencana baru: relokasi.
“Kalian harus pindah,” kata Seraya.
“Ke daratan yang lebih tinggi.”
“Apakah daratan itu punya laut?” tanya Ranu, Ikan Gelodok.
Seraya terdiam.
“Kami bukan burung gunung,” kata Kuntul.
“Kami tidak hidup tanpa pesisir.”
Relokasi berarti selamat secara angka, tapi hilang sebagai makhluk.
Beberapa setuju. Beberapa menolak. Perpecahan muncul.
Bangau Laksana tahu: tidak semua bisa bertahan di tempat lama. Tapi juga tidak semua bisa hidup di tempat baru.
VIII. Laut yang Mendengar
Pada suatu senja, ketika air tenang seperti kaca, Tira berdiri di tepi yang tersisa dan berteriak ke laut.
“Apa yang kau mau dari kami?”
Angin berhenti sejenak. Ombak kecil datang, menyentuh kakinya, lalu mundur.
Tira menangis.
“Kami tidak punya tempat lain.”
Bangau Laksana berdiri di sampingnya.
“Laut bukan musuh,” katanya.
“Musuh kita adalah lupa bahwa dunia saling terhubung.”
Ia lalu memimpin yang tersisa menanam bakau baru, meski tahu hasilnya tidak cepat. Mereka memindahkan sarang ke tempat lebih tinggi. Mereka berbagi ruang.
Tidak semua selamat. Tidak semua kembali.
Namun mereka memilih beradaptasi, bukan melawan dengan batu.
IX. Negeri yang Menyempit, Tapi Bertahan
Tahun-tahun berlalu.
Negeri Arwana tidak lagi seluas dulu. Banyak yang pindah. Banyak yang hilang.
Namun bakau muda mulai tumbuh. Pasir baru muncul di beberapa titik. Penyu sesekali kembali bertelur.
Tira tumbuh dewasa. Ia kini mengajarkan anak-anak burung tentang pasang, tentang membaca angin, tentang pergi jika perlu, dan bertahan jika bisa.
Bangau Laksana, sebelum terbang terakhirnya, berkata:
“Kita tidak kalah karena laut naik.
Kita kalah jika kita menutup mata dan tidak berubah.”
Penutup
Negeri Burung Pesisir tidak pernah menang melawan laut.
Namun mereka belajar hidup bersama perubahan.
Dan fabel tentang laut yang tidak lagi pulang diceritakan dari paruh ke paruh, sebagai pengingat:
Jika dunia berubah, bertahan bukan soal tembok paling kuat—melainkan kesediaan untuk mendengar, beradaptasi, dan berbagi ruang.



















