Ketika Hutan Mengingat Namanya

Pegunungan itu bernama Val Mora, rangkaian bukit hijau dan lembah dingin yang punggungnya selalu diselimuti kabut pagi. Dari kejauhan, Val Mora tampak tenang—seperti lukisan yang tidak disentuh waktu. Tapi siapa pun yang hidup di sana tahu: ketenangan itu bukan tanda sehat, melainkan tanda diam yang terlalu lama.

Di Val Mora, hutan tumbuh lebat, tapi anehnya rapuh. Pohon muda jarang bertahan. Semak-semak dimakan habis. Sungai mengalir cepat di musim hujan dan kering di musim panas, seolah tidak tahu kapan harus menahan diri.

Para penghuni hutan tidak pernah membicarakan sebabnya secara terang-terangan. Mereka hanya tahu satu hal: ada yang hilang.

Hilang itu bukan pohon, bukan burung, bukan air. Yang hilang adalah nama—nama yang sudah lama tidak dipanggil, sampai hutan lupa cara menjawabnya.

Nama itu adalah Serigala.

1. Hutan Tanpa Bayangan

Di tepi lembah, tinggal seekor rusa jantan muda bernama Elan. Tubuhnya tinggi, tanduknya mulai bercabang indah. Ia hidup di masa yang menurut rusa lain disebut “masa aman”.

“Sekarang hutan lebih ramah,” kata rusa tua pada Elan. “Tidak ada pemburu malam. Tidak ada mata kuning di balik pepohonan.”

Elan percaya itu. Ia dan kawanan rusa merumput tanpa takut. Mereka turun ke lembah kapan saja, bahkan di siang bolong. Rumput habis. Tunas muda patah. Kulit pohon muda terkelupas.

Namun Elan sering merasa ada yang salah.

Setiap kali ia berdiri terlalu lama di satu tempat, tanah di bawah kakinya terasa lelah. Setiap kali ia melihat pohon muda mati sebelum tinggi, ada rasa tidak nyaman—bukan rasa takut, tapi rasa bersalah yang tidak ia mengerti.

Di dekat sungai, tinggal seekor berang-berang tua bernama Kova. Kova membangun bendungan kecil, menahan air dengan ranting dan lumpur. Tapi akhir-akhir ini, bendungannya sering jebol.

“Air terlalu liar,” gumam Kova. “Tidak ada yang menahannya.”

Padahal dulu, air Val Mora terkenal sabar.

Burung-burung kecil mulai kehilangan semak tempat bersarang. Serangga berkurang. Hutan tetap hijau, tapi seperti tubuh besar yang kekurangan darah.

Dan yang paling aneh: malam menjadi terlalu sunyi.

Tidak ada lolongan.

2. Penjaga yang Terlupakan

Di puncak batu tertinggi Val Mora, hidup seekor burung hantu tua bernama Orvek. Ia hidup cukup lama untuk mengingat banyak hal—termasuk cerita yang tidak lagi dipercaya.

“Dulu,” kata Orvek pada malam berkabut, “hutan ini punya penjaga.”

“Penjaga?” tanya seekor rubah muda.

“Bukan penjaga yang berdiri di gerbang,” jawab Orvek. “Penjaga yang berjalan.”

Rubah itu mengernyit. “Kau bicara soal serigala.”

Orvek mengangguk.

Nama itu membuat udara terasa lebih dingin.

“Serigala membawa kematian,” kata rubah muda ragu.

“Ya,” kata Orvek. “Dan kematian adalah bagian dari hidup.”

Tidak banyak yang suka jawaban itu.

3. Kedatangan Bayangan

Suatu musim gugur, saat daun menguning dan kabut turun lebih awal, sesuatu bergerak di pinggir Val Mora.

Bukan rusa. Bukan manusia. Bukan angin.

Seekor serigala betina berdiri di batas hutan. Bulu abu-abu peraknya kusam oleh perjalanan panjang. Matanya tajam, tapi lelah. Ia bernama Asha.

Asha datang bukan sebagai penakluk. Ia datang sebagai pengingat.

Ia mencium udara, membaca jejak lama yang hampir hilang. Ia mendengar sungai yang berisik, mendengar hutan yang terlalu ramai di siang hari, dan terlalu sunyi di malam hari.

“Hutan ini lupa caranya bernafas,” gumam Asha.

Ia tidak langsung masuk. Serigala tidak pernah gegabah. Ia mengamati, menunggu, menguji.

Malam pertama, ia melolong.

Lolongan itu tidak keras, tapi cukup.

Cukup untuk membuat rusa berhenti merumput.

Cukup untuk membuat burung terdiam.

Cukup untuk membuat hutan mendengar namanya sendiri.

4. Ketakutan Lama Bangkit

Elan terbangun oleh suara itu. Kakinya gemetar.

“Itu apa?” bisiknya.

Rusa tua yang pernah berkata “masa aman” kini menelan ludah. “Serigala,” katanya pelan.

Panik menyebar. Kawanan rusa bergerak cepat ke tempat yang lebih tinggi. Mereka tidak lagi turun sembarangan. Mereka mulai memilih tempat merumput dengan hati-hati.

“Dia akan membunuh kita,” kata seekor rusa muda.

“Mungkin,” jawab rusa tua. “Tapi dia tidak akan membunuh semua.”

Elan tidak mengerti maksudnya, tapi ia merasakan perubahan: takut yang membuatnya waspada, bukan lumpuh.

5. Langkah Pertama

Asha berburu malam berikutnya. Ia tidak mengejar yang kuat. Ia tidak mengejar yang cepat. Ia mengejar yang lemah, yang sakit, yang tertinggal.

Seekor rusa tua yang sudah lama kesulitan berjalan jatuh malam itu.

Hutan menyaksikan dengan napas tertahan.

Kematian terjadi—sunyi, cepat, tanpa kebencian.

Di pagi hari, bangkai rusa menjadi makanan bagi gagak, rubah, dan serangga. Tidak ada yang terbuang. Energi kembali ke tanah.

Orvek menutup mata. “Rantai itu kembali bergerak.”

6. Sungai yang Belajar Menunggu

Beberapa minggu berlalu. Rusa tidak lagi berkumpul di lembah terlalu lama. Rumput punya waktu tumbuh. Tunas pohon muda mulai bertahan.

Kova si berang-berang memperbaiki bendungannya. Air kini lebih pelan. Kolam kecil terbentuk. Ikan kecil kembali.

“Apa yang berubah?” tanya Kova pada Orvek.

Orvek menjawab, “Bukan air yang berubah. Perilaku yang berubah.”

7. Manusia Datang

Di desa dekat Val Mora, manusia mulai resah. Ternak mereka gelisah. Beberapa menemukan jejak kaki besar di lumpur.

“Serigala kembali,” kata mereka.

Ada yang marah. Ada yang takut. Ada yang ingin mengusir.

Namun ada juga yang mengamati.

Seorang penjaga hutan manusia—yang oleh hewan disebut Penjaga Sunyi—melihat perubahan yang tidak tertulis di laporan lama: sungai lebih stabil, hutan muda tumbuh, longsor berkurang.

Ia tidak bersorak. Ia hanya mencatat.

8. Kawanan

Asha tidak sendiri lama. Dua serigala lain menyusul: Rauk, jantan besar dengan langkah tenang, dan Mira, betina muda yang cerdas membaca jejak.

Mereka membentuk kawanan kecil.

Bukan untuk menguasai, tapi untuk menjaga ritme.

Lolongan mereka kini terdengar lebih sering, tapi tidak berlebihan. Hutan belajar membedakan: lolongan peringatan, lolongan penanda wilayah, lolongan panggilan.

Malam tidak lagi kosong.

9. Pelajaran Elan

Elan tumbuh lebih bijak. Ia tidak lagi berdiri lama di satu tempat. Ia belajar bergerak, memilih, memperhatikan angin.

Suatu senja, Elan melihat Asha dari kejauhan. Mereka saling menatap lama.

Tidak ada kebencian. Tidak ada tantangan.

Hanya pengakuan diam-diam: kita saling membutuhkan.

Elan berbalik, pergi ke arah aman. Asha tidak mengejar. Ia sudah memilih yang lain.

10. Hutan yang Bernapas Lagi

Musim berganti. Val Mora berubah.

Bunga liar kembali di padang rumput. Burung bersarang di semak yang dulu habis. Serangga berdengung lagi. Sungai mengalir dengan ritme yang lebih sabar.

Hutan tidak menjadi lebih “aman”. Ia menjadi lebih hidup.

Orvek berdiri di puncak batu, menatap lembah yang kini penuh suara seimbang.

“Hutan akhirnya ingat namanya,” katanya.

11. Ketakutan yang Belajar Dewasa

Tidak semua makhluk mencintai serigala. Beberapa masih takut. Beberapa masih marah.

Tapi ketakutan kini punya bentuk baru: ketakutan yang belajar hidup berdampingan.

Manusia membangun pagar lebih baik. Mereka menjaga ternak dengan lebih bijak. Mereka belajar membaca jejak, bukan membalas dengan kebencian.

Penjaga Sunyi menulis satu kalimat di catatannya:

“Serigala tidak membawa kekacauan. Mereka mengungkap kekacauan yang sudah ada.”

12. Lolongan Terakhir

Suatu malam, di musim dingin pertama setelah kawanan terbentuk, Asha melolong dari punggung bukit. Lolongannya panjang, penuh, tidak sedih dan tidak gembira.

Itu lolongan yang berkata: Aku di sini. Hutan hidup. Dunia berputar.

Elan mendengar dari kejauhan. Kova mendengar dari sungai. Orvek mendengar dari batu.

Dan Val Mora—yang pernah lupa—menjawab dengan angin, daun, dan air yang mengalir tepat waktu.


Tamat

Moral:
Yang kita singkirkan karena takut sering kali adalah penyeimbang yang kita butuhkan. Ketika alam kehilangan penjaganya, kekacauan datang diam-diam. Dan ketika penjaga kembali, dunia belajar bernapas lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link