Debu Emas di Sungai Puspa dan Pasukan Akar
Di ujung peta yang bahkan para burung migran sering salah ingat arahnya, berdirilah sebuah rimba yang tua—bukan tua karena keriput, melainkan tua karena ia menyimpan ingatan lebih banyak daripada semua makhluk yang berjalan di atasnya. Rimba itu bernama Hutan Puspa.
Hutan Puspa punya satu kebanggaan yang tak pernah ia pamerkan: Sungai Puspa. Sungai itu mengalir seperti urat nadi, menyejukkan akar-akar, memberi minum pada kawanan, menumbuhkan jamur dan lumut, dan mengajar semua hewan satu hal yang sederhana: yang paling penting sering kali adalah yang paling gratis.
Selama bertahun-tahun, tidak pernah ada yang menanyakan “siapa pemilik sungai”. Pertanyaan semacam itu terdengar asing—seperti menanyakan “siapa pemilik angin”.
Sampai suatu hari, angin membawa sesuatu yang lain.
1) Kilau yang Membuat Mata Lupa
Mula-mula hanya Ikan Gabus yang menyadari. Ia hidup dekat dasar Sungai Puspa, tempat orang lain jarang melihat apa pun selain bayangan daun. Malam itu, ketika cahaya bulan memantul, Ikan Gabus melihat kilau-kilau kecil di lumpur. Bukan kilau batu biasa—kilau itu seperti berdenyut, seperti memanggil.
Esoknya, datanglah kabar dari Kijang muda bernama Luma, yang berlari dari arah hulu sambil ngos-ngosan.
“Ada rombongan datang,” katanya kepada para penjaga rimba. “Mereka tidak berburu, tidak mengumpulkan buah. Mereka mengeruk tanah… dan mereka tertawa setiap kali menemukan kilau.”
Para penjaga hutan mengerutkan dahi. Mengapa tertawa pada lumpur?
Luma melanjutkan, suaranya turun, seolah takut kata-kata itu sendiri beracun.
“Mereka bawa cairan perak. Mereka tuang ke lumpur. Baunya… bikin kepala pusing.”
Ketika kabar itu sampai ke telinga Gajah Tua Barata, pemimpin Hutan Puspa, Barata tidak langsung marah. Ia hanya menatap Sungai Puspa yang mengalir tenang, lalu berkata, “Kalau ada yang menuang sesuatu ke sungai, sungai pasti membalas—bukan pada mereka, tapi pada kita semua.”
2) Kamp di Hulu dan Raja yang Tidak Duduk di Tahta
Barata adalah gajah tua dengan telinga lebar dan langkah pelan. Ia tidak punya mahkota. Ia tidak perlu. Semua hewan tahu: Barata tidak memimpin karena kuat, tapi karena ia paling lama belajar kalah—kalah dari kemarau, kalah dari banjir, kalah dari penyakit, lalu bangkit lagi tanpa menyalahkan siapa pun.
Barata mengutus Macan Dahan Sura dan Burung Hantu Raga ke hulu. Mereka menelusuri sungai, melewati akar-akar yang menggantung seperti jari tua, sampai akhirnya menemukan kamp.
Di sana, berkumpul kera-kera, babi hutan, dan beberapa musang yang membawa kantong-kantong kecil. Ada alat yang berputar, ada kayu-kayu disusun seperti rangka, dan ada orang-orang yang mengeruk lumpur seperti mengejar sesuatu yang lari.
Di tengah kamp itu berdiri seorang yang tampak paling percaya diri: Kera bernama Rako. Wajahnya tidak tampak jahat. Justru itu yang membuatnya berbahaya. Ia punya senyum orang yang yakin dirinya sedang “membantu”.
Sura melangkah keluar dari semak. “Ini wilayah Hutan Puspa,” katanya. “Apa yang kalian cari di sungai kami?”
Rako mengangkat tangan seolah menenangkan. “Kami cari debu emas,” jawabnya ringan. “Hanya sedikit. Sungai ini luas. Hutan ini besar. Tidak akan terasa.”
Raga, burung hantu tua, menatap alat-alat itu. “Dan cairan perak itu apa?”
Rako menoleh, santai. “Ah, itu hanya ‘penolong’. Kalau tidak pakai itu, debu emas susah terkumpul.”
Raga mengepakkan sayap, suaranya dingin. “Penolong bagi emas. Pembunuh bagi sungai.”
Rako tertawa kecil, bukan karena ia lucu, tapi karena ia yakin semua kekhawatiran bisa dipatahkan dengan kata-kata yang terdengar modern.
“Kalian terlalu emosional,” katanya. “Hutan butuh kemajuan. Dengan emas, kita bisa tukar garam, obat, bahkan biji-biji yang tahan kemarau. Kalian mau hutan tetap miskin?”
Kata “miskin” menggantung seperti bau asap. Sebagian hewan memang sedang sulit. Musim terakhir tidak ramah. Rumput menipis. Buah lebih sedikit.
Sura menahan geram. “Kami tidak miskin,” katanya. “Kami hidup cukup. Yang membuat miskin adalah racun yang kau tuang ke air.”
Rako mengangkat bahu. “Kalau kalian melarang, beri kami makan. Kalau tidak, biarkan kami bekerja.”
3) Dewan Rimba dan Dua Jenis Ketakutan
Barata memanggil Dewan Rimba, kumpulan perwakilan berbagai kawanan: ada Kuda liar yang ahli jalur, Kura-kura tua yang hafal musim, Rusa yang sensitif pada perubahan, Beruang yang paham sungai, dan Musang Seli—si paling pandai berdagang.
Sura dan Raga melaporkan semuanya. Kata “emas” membuat sebagian telinga tegak. Kata “cairan perak” membuat sebagian bulu berdiri.
Seli yang musang, licin tapi cerdas, bicara lebih dulu.
“Kita bisa atur,” katanya. “Daripada mereka bersembunyi makin dalam, lebih baik kita buat perjanjian. Kita ambil bagian, kita batasi area, kita awasi.”
Kura-kura tua menghela napas. “Racun tidak paham perjanjian.”
Seli membalas, “Kalau kita keras, mereka melawan. Kalau kita lunak, kita bisa kendalikan.”
Barata akhirnya bertanya pelan, “Yang kau maksud ‘kendalikan’, Seli… adalah kendalikan siapa? Mereka, atau keserakahan kita sendiri?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Barata tahu ada dua jenis ketakutan di ruangan itu:
- ketakutan kehilangan hutan,
- dan ketakutan kekurangan.
Dua ketakutan itu sering membuat makhluk hidup mengambil keputusan yang bertolak belakang.
4) Pasukan Akar Dibentuk
Barata tidak memilih jalan tengah yang kabur. Ia memilih jalan yang sulit: penertiban.
“Mulai hari ini,” kata Barata, “kita bentuk Pasukan Akar. Tugasnya bukan perang, tapi menjaga sungai, menutup jalur penggalian, dan mengembalikan tanah yang terluka.”
Sura dipilih memimpin lapangan. Raga memimpin strategi dan pengamatan. Kuda liar membantu logistik jalur. Beruang dan kura-kura memantau kesehatan air.
Barata menambahkan satu kalimat yang membuat semua diam:
“Tidak ada yang boleh menerima ‘hadiah’ dari para penggali. Hadiah adalah pintu masuk yang tidak kelihatan.”
Sejak itu, penjagaan dimulai. Beberapa lubang galian ditutup. Beberapa alat dihancurkan. Beberapa kera kabur lebih dalam.
Namun Rako tidak hilang. Ia hanya berpindah.
5) Racun yang Tidak Berteriak
Minggu-minggu berlalu. Sungai Puspa mulai berubah. Tidak berubah drastis—itulah cara racun bekerja. Ia tidak datang dengan terompet. Ia datang dengan pelan, lalu tinggal.
Ikan kecil mulai jarang. Burung bangau batuk-batuk. Anak kelinci sakit perut. Beruang yang memakan ikan merasa pusing.
Raga berdiri di tepi sungai, memperhatikan warna air yang sedikit lebih kusam. “Ini bukan lumpur biasa,” gumamnya.
Sura mengepalkan cakar. “Kita harus temukan Rako.”
Pasukan Akar memperluas patroli. Mereka menemukan jalur suplai: ranting-ranting patah yang disusun sebagai tanda, tumpukan kayu yang jadi dermaga kecil, dan jejak kereta lumpur.
Sura sadar: tambang ilegal itu tidak berdiri sendiri. Ada jaringan, ada suplai, ada perdagangan. Dan di mana ada perdagangan, selalu ada yang menganggap kerusakan sebagai “biaya operasional”.
Kabar dari hutan jauh juga datang: di rimba-rimba seberang lautan, para penegak aturan lintas wilayah bekerja sama menangkap hampir dua ratus orang dalam operasi menekan tambang emas ilegal, menyita emas, uang, dan juga merkuri.
Raga menyebutnya “tanda zaman”: emas membuat banyak tempat berubah jadi pasar gelap.
Barata mendengar kabar itu dan berkata, “Kalau hutan-hutan lain sampai bekerja sama lintas batas, berarti kita juga harus kuat—bukan hanya kuat otot, tapi kuat aturan.”
6) Perjamuan yang Berbau Licin
Suatu malam, Seli si Musang datang diam-diam menemui Barata. Ia membawa kabar yang katanya “penting”.
“Aku dapat tawaran,” kata Seli. “Rako mau bicara. Dia bilang, kalau kita longgarkan sedikit, dia bersedia menyumbang makanan untuk kawanan yang kekurangan.”
Barata menatap Seli lama. “Itu bukan sumbangan,” katanya. “Itu harga.”
Seli tersenyum kaku. “Tapi kalau kawanan lapar, mereka akan memberontak. Kadang, sedikit kompromi menyelamatkan banyak nyawa.”
Barata menggeleng pelan. “Kompromi dengan racun hanya menunda kematian. Bedanya, kita ikut menandatangani.”
Seli terdiam. Dalam diamnya, Barata bisa mencium rasa kecewa—bukan karena Seli jahat, tapi karena Seli percaya semua masalah bisa diselesaikan dengan barter.
Barata berkata lembut, “Kalau kau ingin membantu, bantu cari jalurnya. Bukan cari kesepakatannya.”
Seli pergi dengan langkah yang lebih cepat daripada biasanya.
7) Penangkapan di Tikungan Batu
Beberapa hari kemudian, Pasukan Akar mendapat laporan dari Luma: ada asap tipis di tikungan batu, tempat sungai menyempit dan suara air menutupi bunyi alat.
Sura memimpin operasi senyap. Mereka menunggu saat para penggali lengah. Ketika bulan naik dan sebagian kera tertidur, Sura memberi isyarat.
Mereka menerobos.
Terjadi kekacauan singkat. Kera-kera berlari. Babi hutan mendorong kereta. Musang melempar kantong-kantong kecil ke semak.
Sura melompat ke depan, menghadang Rako yang hendak kabur lewat batu licin.
“Kau pikir hutan ini toko?” Sura menggeram.
Rako menatap Sura, napasnya cepat. “Kau menang malam ini,” katanya. “Tapi besok akan ada yang lain. Kau tidak bisa mengawasi semua tikungan.”
Sura menjawab, “Aku tidak harus mengawasi semua tikungan. Aku hanya harus membuat semua penggali tahu: hutan ini punya gigi.”
Pasukan Akar menyita alat, menutup lubang, dan mengamankan beberapa penggali. Mereka juga menemukan sesuatu yang membuat semua merinding: wadah cairan perak yang cukup untuk meracuni sungai berhari-hari.
Raga menatap wadah itu. “Ini bukan sekadar pencuri,” katanya. “Ini pembunuh yang tersenyum.”
8) Pengadilan Rimba: Menghukum Tanpa Membunuh
Barata tidak membiarkan amarah memimpin. Ia mengadakan Pengadilan Rimba—bukan untuk tontonan, melainkan untuk pelajaran.
Rako dibawa ke lapangan akar tua. Semua hewan berkumpul. Anak-anak pun datang, karena Barata percaya: generasi yang tidak melihat konsekuensi akan mengulangi.
Barata bertanya, “Kenapa kau melakukan ini?”
Rako mengangkat kepala, suaranya serak. “Karena aku tidak mau lapar. Karena aku tidak mau jadi kawanan yang kalah. Karena aku percaya emas adalah jalan keluar.”
Barata menatapnya. “Dan sekarang, setelah kau lihat sungai sakit?”
Rako menelan ludah. “Aku… tidak menyangka racun itu sejauh ini.”
Raga menyela, “Racun selalu sejauh ini. Hanya orang yang ingin menang cepat yang pura-pura tidak tahu.”
Barata mengetukkan gadingnya ke tanah, bukan keras, tapi cukup untuk membuat sunyi.
“Rako,” katanya, “kau akan dihukum. Tapi bukan dengan cara yang membuat hutan kehilangan satu lagi makhluk hidup.”
Hukumannya diumumkan:
- Kelompok Rako harus ikut memulihkan sungai dan tanah tepiannya.
- Mereka wajib menutup semua jalur suplai yang mereka buat.
- Mereka harus mengganti kerugian kawanan terdampak dengan kerja—bukan emas, bukan barter, tapi tenaga nyata.
- Jika melanggar lagi, mereka akan diusir keluar dari wilayah Hutan Puspa.
Sebagian hewan protes. “Terlalu lunak!” teriak Serigala muda.
Barata menjawab tenang, “Kalau kita hanya tahu memukul, kita akan jadi versi lain dari mereka. Yang kita butuhkan adalah perubahan perilaku, bukan sekadar balas sakit.”
9) Menanam di Tanah yang Pernah Dikeruk
Pemulihan tidak indah. Tidak ada lagu kemenangan. Tidak ada perayaan.
Hari-hari berikutnya diisi lumpur, bibit, dan bau tanah basah. Rako dan kelompoknya bekerja di bawah pengawasan Pasukan Akar. Mereka menggali parit agar air hujan tidak menyeret sedimen. Mereka menanam kembali semak-semak penahan erosi. Mereka memungut sampah kamp yang tertinggal.
Pada minggu pertama, Rako masih terlihat seperti orang yang “menjalani hukuman”. Pada minggu ketiga, ia mulai terlihat seperti orang yang “mengerti”.
Suatu sore, Rako duduk di tepi sungai bersama Luma. Kijang muda itu menatapnya waspada, tapi juga penasaran.
“Kenapa kau dulu yakin emas itu penting?” tanya Luma.
Rako memandang air yang masih sedikit keruh. “Karena emas membuat semua orang mendengarkan,” katanya pelan. “Aku bicara tentang keseimbangan, orang bosan. Aku bawa emas, orang datang.”
Luma mengernyit. “Terus sekarang?”
Rako tersenyum pahit. “Sekarang aku tahu: yang membuat orang datang belum tentu membuat hutan bertahan.”
10) Surat dari Hutan Seberang
Musim berganti. Sungai Puspa belum sepenuhnya pulih, tapi mulai membaik. Ikan kecil kembali sedikit demi sedikit. Burung bangau tak lagi batuk setiap hari.
Kabar lain datang: di beberapa tempat, pemerintah juga melakukan penertiban besar-besaran terhadap penggunaan kawasan hutan tanpa izin—menargetkan ratusan ribu hektare, menyita lahan, dan menyiapkan sanksi besar.
Barata mendengarnya dan berkata, “Ternyata bukan cuma kita yang berperang melawan ‘kilau’. Dunia sedang belajar bahwa hutan bukan dompet.”
Raga menambahkan, “Operasi besar di luar sana menangkap banyak orang. Tapi pertanyaan sebenarnya: setelah ditangkap, apakah sungainya disembuhkan?”
Tidak ada yang bisa menjawab cepat.
Hutan Puspa memilih menjawab dengan kerja, bukan slogan.
11) Moral yang Ditulis di Air
Pada hari ketika Sungai Puspa akhirnya kembali jernih di satu tikungan—belum semua, tapi cukup untuk melihat batu dasar—Barata mengumpulkan anak-anak hewan di tepi sungai.
Ia berkata, “Kalian akan sering melihat dunia menawarkan kilau. Kadang namanya emas. Kadang namanya cepat kaya. Kadang namanya ‘kemajuan’. Tapi selalu ada pertanyaan yang harus kalian tanyakan sebelum menerima apa pun.”
Barata menatap permukaan air yang memantulkan langit.
“Tanyakan: kalau aku mengambil ini, siapa yang membayar diam-diam?”
Anak-anak terdiam.
Sura, yang biasanya keras, menunduk. Karena ia tahu: jawaban paling sering adalah “yang paling lemah” dan “yang paling jauh dari meja perundingan”.
Barata menutup dengan kalimat yang kemudian jadi pepatah di Hutan Puspa:
“Kilau bisa dibagi, tapi racun selalu menyebar.”
Dan sejak itu, setiap kali ada yang datang membawa janji mudah, Hutan Puspa tidak langsung menolak atau menerima. Mereka belajar bertanya. Mereka belajar mengukur bukan dengan kantong emas, tetapi dengan kesehatan sungai—karena sungai tidak pernah bohong.



















