Negeri Burung Besi dan Sungai yang Berhenti Bernyanyi
Awal Negeri yang Tenang
Di sebuah dataran luas yang diapit pegunungan biru dan laut berkilau, berdirilah sebuah wilayah bernama Negeri Aruna. Negeri ini bukan kerajaan megah dengan istana tinggi, melainkan bentang alam hidup yang dihuni oleh berbagai makhluk—besar dan kecil—yang berbagi ruang tanpa peta, tanpa pagar, dan tanpa kepemilikan berlebihan.
Di tengah Aruna, mengalirlah Sungai Lirang, sungai tua yang airnya jernih dan suaranya seperti nyanyian lembut. Sungai ini menjadi urat nadi negeri: ikan hidup di dalamnya, ladang tumbuh di tepinya, dan hutan hijau bertahan karena alirannya.
Penjaga Sungai Lirang adalah Bangau Tua bernama Samira, burung putih dengan kaki panjang dan mata yang selalu tampak waspada. Ia tidak memerintah, tidak memberi hukuman, tetapi semua makhluk menghormatinya karena satu hal: Samira selalu mengingatkan keseimbangan.
“Air yang mengalir terlalu cepat akan menghanyutkan,” sering katanya.
“Air yang ditahan terlalu lama akan membusuk.”
Selama puluhan musim, kata-kata itu cukup.
Kedatangan Burung Besi
Suatu hari, langit Aruna berubah. Bukan karena badai, melainkan karena suara yang belum pernah didengar sebelumnya—dengung berat yang memecah udara.
Dari arah laut datang Burung-Burung Besi. Sayapnya tidak mengepak, tubuhnya mengilap, dan bayangannya menutupi matahari. Mereka mendarat di dataran kosong dekat sungai, menggetarkan tanah seperti gempa kecil.
Makhluk-makhluk Aruna berkumpul dengan campuran rasa kagum dan takut.
Dari Burung Besi terbesar, turunlah Elang Baja bernama Korvus, pemimpin rombongan. Suaranya nyaring dan bergema.
“Kami datang membawa kemajuan,” katanya. “Kami akan membangun Bendungan Cahaya, sumber tenaga yang tak pernah padam. Sungai Lirang akan memberi daya bagi seluruh Aruna.”
Kata kemajuan bergaung seperti mantra. Banyak makhluk belum benar-benar memahami artinya, tapi bunyinya terdengar menjanjikan.
Berang-Berang, Kijang, Kambing Gunung, hingga Semut Ladang saling berpandangan.
Korvus melanjutkan, “Dengan bendungan ini, kita akan punya terang sepanjang malam, alat-alat baru, dan perdagangan yang lebih besar. Aruna tidak akan tertinggal.”
Beberapa makhluk bertepuk sayap dan kaki. Namun Samira, Bangau Tua, hanya berdiri diam di tepi sungai.
Pertanyaan yang Tidak Disukai
Ketika Korvus selesai berbicara, Samira melangkah maju. Air sungai memantulkan bayangan kakinya.
“Apa yang terjadi pada aliran Lirang?” tanyanya pelan.
Korvus menoleh, agak terkejut. “Kami akan mengaturnya,” jawabnya. “Air akan dikendalikan dengan lebih efisien.”
“Dan makhluk yang hidup dari arusnya?” tanya Samira lagi.
Korvus tersenyum tipis. “Mereka akan menyesuaikan diri. Perubahan selalu menuntut pengorbanan kecil.”
Kata kecil membuat Ikan Kecil bernama Luma menggigil. Baginya, perubahan arus bukan pengorbanan kecil—itu hidup atau mati.
Namun rapat ditutup dengan janji-janji. Burung Besi mulai bekerja.
Sungai yang Mulai Diam
Hari demi hari, tepi Sungai Lirang berubah. Batu-batu besar disusun. Tanah digali. Air mulai tertahan.
Awalnya, hanya sedikit. Sungai masih mengalir, meski lebih pelan.
Berang-Berang senang—kolamnya jadi lebih tenang. Beberapa makhluk merasa hidup lebih mudah.
Namun di hilir, ladang mulai mengering. Di hulu, air meluap dan membanjiri sarang.
Luma dan kawanan ikan merasa aliran menjadi aneh. Air terasa berat, dingin, dan tak lagi membawa makanan.
“Arusnya bingung,” kata Luma pada Samira. “Seperti tak tahu harus ke mana.”
Samira mengangguk. “Sungai bukan sekadar air. Ia adalah perjalanan.”
Negeri yang Terbelah
Bendungan Cahaya akhirnya berdiri megah. Dindingnya tinggi, berkilau, dan memantulkan sinar matahari seperti cermin raksasa.
Di malam hari, lampu-lampu menyala. Negeri Aruna terang benderang seperti siang.
Sebagian makhluk bersorak. Mereka bisa bekerja lebih lama, membuat alat baru, dan berdagang dengan negeri jauh.
Namun sebagian lain mulai kehilangan segalanya.
Ikan-ikan berkurang drastis. Sawah di hilir gagal panen. Hutan rawa mengering.
Kura-Kura Tua bernama Gatra, penjaga ingatan Aruna, berkata,
“Terang yang tidak mengenal batas akan membutakan.”
Tapi suaranya tenggelam oleh dengung mesin.
Korban yang Tak Terlihat
Suatu pagi, Luma terdampar di tepi sungai yang surut. Nafasnya megap-megap.
Samira bergegas, tapi terlambat. Luma mati, matanya masih terbuka menghadap langit.
Kematian Luma bukan satu-satunya. Banyak makhluk kecil menghilang tanpa upacara.
Korvus menerima laporan demi laporan. Grafik naik, angka membaik. Tetapi ia jarang turun ke sungai.
Baginya, Aruna kini maju.
Banjir dan Kekeringan
Musim hujan datang lebih deras dari biasanya. Bendungan menahan air, lalu melepaskannya sekaligus.
Air bah menghantam hilir. Sarang hanyut. Ladang rusak.
Beberapa bulan kemudian, kemarau panjang datang. Sungai nyaris berhenti.
Makhluk Aruna akhirnya bersuara.
“Ini bukan kemajuan,” teriak Kijang.
“Ini pengambilalihan,” kata Beruang.
Korvus berdiri di menara bendungan, menatap kerusakan.
“Ada harga yang harus dibayar,” katanya keras. “Kita tidak bisa kembali.”
Samira terbang naik, berdiri sejajar dengan Korvus.
“Kita selalu bisa berhenti,” katanya. “Yang tidak bisa kembali adalah yang sudah mati.”
Retaknya Burung Besi
Ketika mesin utama Bendungan Cahaya mulai rusak karena tekanan berlebih, Burung Besi panik.
Tanpa sungai yang stabil, mesin kehilangan daya. Tanpa mesin, terang padam.
Untuk pertama kalinya, Korvus melihat Aruna dalam gelap—dan mendengar suara yang selama ini tertutup: tangisan, kemarahan, dan sungai yang hampir bisu.
Gatra mendekat.
“Kau membangun untuk menguasai,” katanya. “Bukan untuk hidup bersama.”
Korvus terdiam lama.
Keputusan yang Terlambat, Tapi Perlu
Akhirnya, Korvus mengumpulkan semua makhluk.
“Kami salah,” katanya. “Kami melihat sungai sebagai alat, bukan sebagai makhluk.”
Ia memerintahkan pembongkaran sebagian bendungan, membuka kembali jalur air.
Pekerjaan itu berat. Tidak semua bisa diperbaiki.
Beberapa spesies tak pernah kembali. Beberapa luka tak sembuh sempurna.
Namun Sungai Lirang perlahan bernyanyi lagi—pelan, serak, tapi hidup.
Penutup
Bertahun-tahun kemudian, Aruna tidak lagi seterang dulu. Tapi cukup terang untuk melihat wajah satu sama lain.
Samira tetap berjaga di tepi sungai.
Korvus tidak lagi memimpin—ia menjadi penjaga mesin, memastikan tak ada yang lupa.
Dan setiap anak di Aruna diajarkan satu pelajaran:
Kemajuan yang tidak mendengar kehidupan hanyalah cara cepat menuju kehancuran.
Karena sungai tidak pernah meminta dikendalikan—
ia hanya ingin mengalir.



















