Negeri Jam Pasir dan Tikus yang Menghentikan Waktu
I. Negeri yang Tidak Pernah Berhenti
Di balik tujuh bukit batu dan satu dataran berangin, berdirilah sebuah negeri yang unik dan menakutkan sekaligus indah: Negeri Jam Pasir.
Negeri ini tidak mengenal malam yang benar-benar gelap dan siang yang benar-benar terang. Langitnya selalu berada di antara—seperti senja yang tidak selesai. Di setiap sudut negeri, berdiri Jam Pasir Raksasa, tinggi menjulang, dengan pasir emas yang mengalir tanpa henti.
Pasir itu disebut Pasir Waktu.
Selama pasir mengalir, negeri hidup. Selama pasir jatuh, semua makhluk bekerja.
Penguasa Negeri Jam Pasir adalah Burung Bangau bernama Kronis, makhluk tinggi kurus dengan paruh panjang dan mata tajam. Ia dikenal adil, rapi, dan sangat mencintai keteraturan. Di sayap kanannya selalu tergantung kunci jam, simbol kekuasaannya.
“Waktu adalah keadilan,” kata Kronis.
“Semua makhluk punya jatah yang sama—asal mereka tidak menyia-nyiakannya.”
Di negeri ini, tidak ada yang berani terlambat. Tidak ada yang berani berhenti terlalu lama. Setiap makhluk hidup mengikuti bunyi halus desir pasir—musik abadi yang mengatur langkah.
II. Kota Roda dan Kehormatan Bekerja
Di pusat negeri berdiri Kota Roda, kota terbesar tempat semua sistem bergerak. Roda-roda raksasa berputar tanpa henti, digerakkan oleh hewan-hewan dari berbagai spesies.
Hamster memutar roda kecil.
Kuda menarik roda besar.
Semut mengatur aliran pasir.
Burung Pipit mengantar pesan waktu dari satu jam ke jam lain.
Di Kota Roda, bekerja adalah kehormatan tertinggi. Makhluk yang paling sibuk dianggap paling bernilai.
Istirahat hanya boleh dilakukan di Zona Hening, itupun maksimal beberapa detik. Terlalu lama berhenti dianggap menghambat waktu.
Di antara ribuan makhluk itu, hiduplah Tikus kecil bernama Sena.
Sena bukan tikus istimewa. Tubuhnya kecil, bulunya kusam, dan suaranya hampir tak pernah terdengar di tengah dengung roda. Ia bekerja mengumpulkan butiran pasir yang tumpah—pekerjaan remeh yang nyaris tak dianggap.
Namun Sena memiliki kebiasaan aneh.
Ia sering menatap jam pasir.
III. Pasir yang Terlalu Cepat
Suatu hari, Sena menyadari sesuatu yang membuat dadanya sesak: pasir di jam utama Kota Roda mengalir lebih cepat dari biasanya.
Awalnya ia mengira itu perasaannya saja. Namun hari demi hari, pasir jatuh semakin deras. Roda berputar lebih cepat. Perintah datang lebih sering. Istirahat dipersingkat.
Hamster mulai kelelahan.
Semut mulai salah hitung.
Burung Pipit lupa rute.
Namun Burung Bangau Kronis tidak mengubah apa pun.
“Waktu tidak berubah,” katanya dalam pengumuman resmi.
“Yang berubah hanyalah kemampuan kalian memanfaatkannya.”
Kalimat itu diukir di dinding kota.
Sena melihat teman-temannya mulai roboh satu per satu—bukan mati, tetapi kosong. Mata mereka tetap terbuka, tubuh mereka bergerak, namun tidak ada cahaya di dalamnya.
Mereka menjadi makhluk tepat waktu yang kehilangan hidupnya.
IV. Tikus yang Bertanya Terlalu Lambat
Sena memberanikan diri mendatangi Menara Jam, tempat Kronis tinggal.
Ia menunggu lama—terlalu lama bagi tikus kecil—hingga akhirnya diizinkan masuk.
“Tuanku,” kata Sena pelan, “jam pasir mengalir terlalu cepat. Banyak yang tidak sanggup lagi.”
Kronis menunduk, menatap Sena dari ketinggian.
“Waktu tidak pernah terlalu cepat,” katanya dingin.
“Makhluklah yang terlalu lambat.”
“Tapi…” Sena ragu, “bukankah waktu diciptakan untuk kita, bukan kita untuk waktu?”
Ruangan membeku.
Kronis mengepakkan sayapnya perlahan.
“Itu pemikiran berbahaya,” katanya.
“Jika waktu berhenti, negeri ini runtuh.”
Sena diusir tanpa jawaban.
Namun satu hal pasti: sejak hari itu, Sena tahu—ada sesuatu yang salah.
V. Pasir di Dalam Dada
Malam-malam Sena dipenuhi mimpi buruk. Ia bermimpi jam pasir raksasa pecah, pasir menenggelamkan kota, dan semua makhluk tenggelam sambil tetap bekerja.
Ia terbangun dengan napas terengah.
Suatu hari, Kelinci kurir jatuh pingsan di dekatnya. Sena mencoba membangunkannya, tapi kelinci itu hanya bergumam, “Aku tidak punya waktu… aku tidak punya waktu…”
Kata-kata itu menghantam Sena lebih keras dari cambukan.
Sena mulai menyadari sesuatu yang tidak pernah diajarkan di Negeri Jam Pasir:
waktu bisa habis sebelum pasirnya jatuh.
Ia mulai mencuri detik.
Detik kecil.
Detik yang nyaris tak terlihat.
Ia berhenti sejenak di sela kerja. Ia menghirup napas lebih panjang. Ia membantu teman yang jatuh.
Dan anehnya—dunia tidak runtuh.
VI. Penjaga Detik yang Hilang
Kabar tentang tikus aneh menyebar. Ada yang bilang Sena malas. Ada yang bilang Sena berbahaya.
Namun ada juga yang mulai meniru.
Hamster memperlambat putaran.
Semut beristirahat satu napas.
Burung Pipit duduk lebih lama di dahan.
Untuk pertama kalinya, Kota Roda melambat.
Jam pasir tetap mengalir, tapi denyut kota berubah.
Kronis murka.
Ia memerintahkan Pasukan Penjaga Waktu—sekawanan Burung Gagak hitam—untuk menangkap Sena.
“Mengganggu waktu adalah kejahatan tertinggi,” teriak Kronis.
Sena ditangkap dan dibawa ke alun-alun.
VII. Pengadilan Waktu
Di hadapan seluruh negeri, Sena diadili.
“Kau dituduh mencuri waktu,” kata Kronis.
“Bagaimana pembelaanmu?”
Sena gemetar, tapi ia berbicara.
“Aku tidak mencuri waktu,” katanya.
“Aku hanya menggunakannya untuk hidup.”
Kerumunan berbisik.
“Apa gunanya waktu,” lanjut Sena, “jika semua tepat jadwal tapi tak ada yang bahagia? Apa gunanya cepat jika kita tidak tahu ke mana?”
Kronis mengepakkan sayapnya dengan marah.
“Tanpa aturan waktu, negeri ini chaos!”
Sena menatap jam pasir terbesar di alun-alun.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “izinkan aku menghentikannya—sebentar saja.”
Tawa meledak.
Namun sebelum siapa pun bisa menghentikan, Sena memutar kunci kecil yang selama ini ia simpan—kunci yang ia temukan saat mengumpulkan pasir tumpah.
Jam pasir berhenti.
VIII. Dunia Tanpa Deras
Keheningan total.
Roda berhenti.
Pasir menggantung di udara.
Waktu membeku.
Semua makhluk panik—lalu perlahan menyadari sesuatu.
Mereka masih hidup.
Mereka bernapas. Mereka melihat. Mereka merasa.
Untuk pertama kalinya, tidak ada target. Tidak ada hitungan. Tidak ada bunyi pasir.
Beberapa menangis.
Beberapa tertawa.
Beberapa hanya duduk, tak tahu harus berbuat apa.
Kronis gemetar.
“Ini… ini tidak seharusnya terjadi.”
Sena menatapnya.
“Waktu bukan tuan,” katanya.
“Waktu adalah alat.”
Setelah beberapa saat—cukup lama untuk merasa hidup—Sena memutar kunci kembali.
Jam pasir berjalan lagi.
Namun… lebih pelan.
IX. Negeri yang Belajar Bernapas
Sejak hari itu, Negeri Jam Pasir berubah.
Jam tetap ada. Roda tetap berputar. Tapi Zona Hening diperluas. Istirahat tidak lagi dianggap dosa.
Kronis tidak turun tahta, tetapi ia melepaskan satu sayap kekuasaan: pengendalian penuh atas laju pasir.
Sena tidak menjadi pemimpin. Ia kembali menjadi tikus kecil—tetapi kini dikenal sebagai Penjaga Detik yang Hilang.
Di dinding kota, kalimat baru diukir:
“Waktu yang tidak memberi ruang untuk hidup hanyalah pasir yang jatuh sia-sia.”
Penutup
Negeri Jam Pasir tidak menjadi negeri paling cepat.
Namun ia menjadi negeri yang masih punya jiwa.
Dan kisah tentang tikus kecil yang menghentikan waktu diceritakan turun-temurun—bukan untuk melawan jam, tetapi untuk mengingatkan:
Jika hidup terasa selalu terburu-buru, mungkin yang perlu dihentikan bukan dunia—melainkan cara kita memandang waktu.



















