Jejak yang Tidak Pernah Hilang
Di daratan luas bernama Sabana Ingat, tanahnya terbentang seperti lembaran tua yang pernah dilipat, lalu dibuka kembali. Rumput tumbuh tidak rata, sungai mengular seperti kalimat yang lupa di mana harus berhenti, dan angin membawa bau debu bercampur kenangan. Tidak semua makhluk bisa membaca kenangan itu. Tapi ada satu bangsa yang tidak pernah lupa: bangsa gajah.
Mereka menyebut diri mereka Para Penjaga Jejak.
Bagi gajah, dunia bukan sekadar tempat untuk berdiri. Dunia adalah peta yang tertulis di tubuh—di lipatan kulit, di kerutan telinga, di langkah kaki yang selalu terasa berat namun penuh makna. Setiap langkah menyimpan cerita. Setiap jalan punya alasan.
Pemimpin kawanan saat ini adalah seekor gajah betina tua bernama Ama-Lura. Telinganya robek sedikit di sisi kiri, gading kanannya lebih pendek, dan matanya memantulkan sesuatu yang jarang terlihat pada makhluk lain: ingatan yang panjang.
“Dunia tidak berubah secepat yang kalian kira,” kata Ama-Lura suatu sore, ketika matahari jatuh seperti koin merah di cakrawala. “Yang berubah hanyalah cara makhluk lain lupa.”
Anak-anak gajah berkumpul di sekelilingnya. Mereka baru lahir beberapa musim lalu. Mereka tahu rumput, tahu air, tahu suara burung malam. Tapi mereka belum tahu satu hal yang dianggap paling penting oleh para tetua: jalan lama.
Di antara anak-anak itu ada seekor jantan muda bernama Taro. Belalainya masih sering salah arah, kakinya besar tapi canggung, dan kepalanya penuh pertanyaan.
“Apa itu jalan lama?” tanya Taro.
Ama-Lura tidak langsung menjawab. Ia menggeser tubuhnya, lalu menancapkan satu kaki depan ke tanah dengan pelan. “Dengar,” katanya.
Anak-anak gajah menempelkan telinga ke tanah. Awalnya hanya ada getaran kecil—langkah serangga, aliran air jauh di bawah. Tapi kemudian, ada sesuatu yang lain: gema langkah yang tidak mereka lihat, suara berat yang seperti datang dari masa lalu.
“Itu langkah nenekku,” kata Ama-Lura. “Dan nenek dari nenekku.”
Taro terdiam. “Tapi aku tidak melihat jalan apa pun.”
“Karena jalan itu tertutup,” jawab Ama-Lura. “Bukan oleh tanah, tapi oleh lupa.”
Dulu, sebelum Sabana Ingat terpotong oleh pagar, jalan, dan suara mesin, gajah-gajah berjalan mengikuti musim. Saat hujan datang, mereka ke utara. Saat kemarau tiba, mereka ke selatan. Jalur itu tidak pernah ditulis di peta manusia, tapi tertulis jelas di ingatan gajah.
Namun bertahun-tahun lalu, dunia berubah cepat. Hutan dibuka. Sungai dipersempit. Jalur lama terpotong oleh garis keras yang tidak bisa dilangkahi begitu saja.
Banyak kawanan gajah berhenti berjalan jauh. Mereka menetap, beradaptasi, menahan haus, menahan lapar. Beberapa mati. Beberapa lupa. Tapi tidak semua.
Ama-Lura adalah salah satu yang tidak lupa.
Malam itu, ia memanggil kawanan.
“Kita akan berjalan,” katanya.
Kata itu jatuh berat seperti batu besar ke tengah kawanan.
“Berjalan ke mana?” tanya seekor betina dewasa.
“Ke selatan,” jawab Ama-Lura. “Ke sungai tua.”
“Jalan itu sudah tidak ada,” kata yang lain. “Ada desa. Ada ladang. Ada manusia.”
Ama-Lura mengangguk. “Ada. Tapi air tetap mengalir. Dan gajah tidak diciptakan untuk berhenti selamanya.”
Beberapa gajah ragu. Yang muda bersemangat, karena berjalan berarti petualangan. Yang dewasa cemas, karena berjalan berarti risiko.
Taro merasa dadanya bergetar. Ia ingin berjalan. Ia ingin tahu dunia lebih luas dari lingkar rumput yang itu-itu saja.
Maka kawanan itu bergerak.
Langkah gajah bukan sekadar langkah. Ia adalah keputusan.
Hari pertama, mereka melewati padang rumput tinggi. Hari kedua, mereka menemukan sisa-sisa jalur lama: pohon yang tumbuh tidak wajar lurus, tanah yang lebih padat, batu-batu yang seperti sengaja disingkirkan.
“Ini dia,” kata Ama-Lura. “Jejaknya masih bernapas.”
Taro menempelkan kakinya di tanah itu. Rasanya berbeda. Lebih dingin. Lebih yakin.
Namun pada hari keempat, mereka tiba di tempat yang membuat semua langkah berhenti.
Di depan mereka berdiri desa manusia.
Rumah-rumah kecil, ladang jagung, pagar kayu, dan suara anjing. Bau asap. Bau takut. Bau sesuatu yang asing tapi juga… akrab.
Gajah-gajah berhenti.
“Ini bukan tempat kita,” bisik seseorang.
Ama-Lura berdiri paling depan. Ia tidak marah. Ia juga tidak takut. Ia hanya diam, mengingat.
“Dulu,” katanya pelan, “di sini ada rawa. Airnya dalam. Kita mandi di sana.”
“Tapi sekarang?” tanya Taro.
“Sekarang ada manusia,” jawab Ama-Lura. “Dan mereka juga punya cerita.”
Di desa itu tinggal seorang anak manusia bernama Ravi. Ia belum genap dewasa, tapi sudah tahu bagaimana caranya takut. Malam itu, Ravi terbangun oleh getaran aneh di tanah—seperti gempa kecil yang teratur.
Ia keluar rumah, melihat bayangan besar di kejauhan.
“Gajah,” bisiknya.
Desa gempar. Orang-orang keluar membawa obor, suara panik menyebar seperti api kering.
“Mereka akan merusak ladang!”
“Mereka berbahaya!”
“Usir mereka!”
Ravi melihat kawanan itu. Mereka tidak berlari. Tidak menyerang. Mereka hanya… berdiri.
Di depan kawanan, ada satu gajah tua. Matanya gelap, tenang, seperti menyimpan danau.
Ravi tidak tahu kenapa, tapi ia melangkah maju.
“Jangan!” teriak seseorang.
Ravi berhenti di jarak aman. Ia menatap gajah tua itu. Dan entah bagaimana, ia merasa gajah itu sedang menatap balik.
Malam itu berlalu tanpa kerusakan. Kawanan gajah tidak masuk ladang. Mereka berhenti di tepi desa, lalu menyusuri jalur sempit di pinggir.
Pagi harinya, desa masih utuh.
Orang-orang bingung.
“Mungkin mereka pergi,” kata seseorang.
Tapi Ravi tahu: mereka tidak pergi. Mereka hanya menunggu.
Hari kedua, kawanan itu bergerak lagi—melewati pinggir ladang, mematahkan beberapa pagar tua, tapi tidak menyentuh tanaman.
Hari ketiga, mereka tiba di sungai kecil yang hampir kering.
Ama-Lura berdiri lama di sana.
“Ini bukan sungai,” katanya. “Ini bekas sungai.”
Airnya dangkal, berlumpur, hampir mati.
Gajah-gajah mulai gelisah. Ini bukan yang dijanjikan ingatan.
Ama-Lura menutup mata. Ia mendengarkan tanah. Mendengarkan angin. Mendengarkan sesuatu yang lebih tua dari semua bangunan.
“Kita terlalu ke timur,” katanya akhirnya. “Sungai itu bergeser.”
Mereka berbelok.
Perjalanan menjadi lebih berat. Mereka melewati wilayah manusia lain—ladang, jalan keras yang menyakitkan kaki, suara mesin yang membuat telinga berdengung. Beberapa kali, manusia mengusir mereka dengan suara keras. Beberapa kali, mereka harus memutar jauh.
Satu malam, kawanan berhenti.
Taro melihat satu gajah muda pincang. Kakinya terluka oleh benda tajam.
“Kita harus berhenti,” kata Taro.
Ama-Lura mengangguk. “Berhenti juga bagian dari berjalan.”
Di malam yang sunyi itu, Ravi muncul lagi. Ia mengikuti kawanan diam-diam selama dua hari. Ia membawa air dalam jeriken kecil.
Ia meletakkan air itu di tanah, lalu mundur.
Gajah-gajah mencium bau air.
Ama-Lura menatap Ravi lama.
“Dia mengerti,” katanya pada kawanan. “Tidak dengan kata, tapi dengan niat.”
Hari demi hari, berita menyebar: kawanan gajah berjalan. Media manusia datang. Beberapa ingin membantu, beberapa ingin mengusir, beberapa hanya ingin melihat.
Bagi gajah, semua itu hanya kebisingan.
Yang penting adalah satu hal: air.
Pada hari ke-tiga belas, tanah berubah. Udara menjadi lebih lembap. Burung-burung yang jarang terlihat mulai muncul.
Ama-Lura berhenti.
“Sudah dekat,” katanya.
Taro merasakan tanah bergetar dengan cara yang berbeda. Bukan langkah, tapi aliran.
Lalu mereka melihatnya.
Sungai Tua.
Tidak besar, tapi hidup. Airnya mengalir pelan, jernih, dengan tepi yang dipenuhi pohon.
Kawanan bersorak—dengan cara gajah: mengangkat belalai, mengeluarkan suara rendah yang terasa sampai tulang.
Mereka minum. Mereka mandi. Mereka diam lama, seolah memberi hormat.
Ama-Lura berdiri di tengah sungai, air menyentuh lututnya.
“Jejak ini tidak hilang,” katanya. “Ia hanya menunggu kita cukup berani untuk mengingat.”
Namun perjalanan belum selesai.
Sungai Tua kini dikelilingi oleh wilayah manusia. Jika gajah menetap, konflik akan datang.
Ama-Lura tahu itu.
Malam itu, ia berdiri lama, sendirian. Taro mendekat.
“Apa kita salah berjalan?” tanya Taro.
Ama-Lura menggeleng. “Tidak. Tapi setiap jalan baru butuh perjanjian.”
Keesokan harinya, manusia datang—para penjaga hutan, para peneliti, penduduk desa. Mereka berdiskusi, berdebat, bersuara.
Ravi berdiri di antara mereka.
“Mereka tidak datang untuk menyerang,” kata Ravi. “Mereka datang karena air.”
Beberapa orang tertawa. Beberapa marah. Tapi beberapa mendengar.
Akhirnya, keputusan dibuat—tidak sempurna, tapi cukup: koridor hijau. Jalur aman yang menghubungkan hutan, sungai, dan sabana. Bukan pagar, bukan kandang, tapi ruang.
Tidak semua manusia setuju. Tidak semua gajah aman. Tapi sesuatu bergerak.
Musim berganti.
Gajah-gajah berjalan lagi. Kali ini lebih lancar. Beberapa anak gajah lahir di dekat Sungai Tua.
Ama-Lura semakin lambat. Langkahnya berat.
Suatu malam, ia memanggil Taro.
“Suatu hari nanti,” katanya, “kau yang akan memimpin.”
Taro terkejut. “Aku?”
“Kau bertanya,” kata Ama-Lura. “Itu awal dari ingatan.”
Beberapa hari kemudian, Ama-Lura tidak bangun.
Kawanan diam lama. Mereka menyentuh tubuhnya dengan belalai, satu per satu.
Taro berdiri di depan.
Ia menancapkan kakinya ke tanah.
Ia mendengarkan.
Di bawah tanah, ia merasakan getaran—langkah nenek, langkah Ama-Lura, langkah semua yang pernah berjalan.
Taro mengangkat kepala.
“Kita berjalan,” katanya.
Dan kawanan itu bergerak.
Tidak cepat. Tidak keras. Tapi pasti.
Karena jejak yang benar tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya menunggu untuk diingat.
Tamat.



















