Hari Saat Sayap Kembali Percaya
Di ujung selatan dunia yang anginnya suka berubah pikiran, ada sebuah teluk yang airnya tenang seperti orang yang sedang menahan rahasia. Teluk itu bernama Teluk Kettering, dikelilingi bukit hijau dan hutan eucalyptus yang harum getir. Di sana, langit sering terlihat luas sampai bikin makhluk yang bisa terbang merasa dunia ini tak ada ujungnya.
Namun tidak semua yang punya sayap selalu percaya pada langit.
Di atas tebing yang menghadap teluk, tinggal bangsa raptor—burung-burung pemangsa yang hidupnya bukan tentang ramai-ramai, melainkan tentang membaca arus angin, mengukur jarak, dan menghormati ketinggian. Mereka punya aturan tak tertulis: jangan mengganggu yang sedang terbang, jangan membual tentang tangkapan, dan jangan pernah meremehkan badai.
Di antara mereka, ada satu yang dikenal karena cara terbangnya yang elegan. Seekor elang laut perut-putih muda yang bulunya terang di dada, gelap di punggung, dan matanya tajam seperti jarum yang bisa menjahit horizon. Namanya Cupid—bukan karena ia gemar urusan cinta, tapi karena dulu ia sering “mengunci” pandangan pada pasangan hidupnya saat melayang berputar di udara, seolah langit itu panggung dan mereka penari utama.
Cupid tidak lahir jadi legenda. Ia hanya elang yang belajar. Ia pernah jatuh saat latihan pertama, pernah salah menghitung arah angin, pernah mendarat terlalu keras sampai cakar pegal berhari-hari. Tapi setiap kesalahan ia bayar dengan latihan, bukan keluhan.
Sampai suatu hari, langit tidak jadi tempat latihan.
Hari itu dimulai biasa saja: matahari naik, air teluk berkilau, dan angin bertiup lembut seperti saran yang sopan. Cupid terbang rendah, memantau permukaan air. Ia mencari kilatan kecil—ikan yang bergerak di bawah. Di kejauhan, ia mendengar suara camar yang cerewet dan melihat bayangan awan tipis seperti kapas.
Lalu, sesuatu yang tidak wajar muncul: suara “cet” pendek, seperti ranting dipatahkan.
Cupid merasakan pukulan di udara—bukan pukulan angin, melainkan sesuatu yang tajam, dingin, dan terlalu pasti. Dadanya seperti ditarik mundur. Sayapnya mengibas tak beraturan. Ia menjerit—jeritan yang jarang sekali keluar dari elang, karena elang biasanya menyimpan rasa sakit rapat-rapat di balik keangkuhan terbang.
Ia jatuh.
Jatuhnya tidak seperti daun. Jatuhnya seperti batu yang dipaksa percaya gravitasi. Ia menabrak semak, terguling, lalu diam. Di punggungnya, ada sesuatu yang aneh: sepotong panah yang menancap, menyatu dengan luka.
Hari itu, Cupid belajar pelajaran paling pahit bagi burung yang hidup dari langit: bahwa bahaya tidak selalu datang dari alam.
Hutan tidak punya rumah sakit. Teluk tidak punya dokter. Yang ada hanya makhluk-makhluk yang bisa memilih: membiarkan atau menolong.
Yang pertama menemukan Cupid adalah Wombat tua bernama Boro, yang biasa berjalan pelan di jalur tanah dekat tebing. Boro bukan hewan yang suka ikut campur. Ia tipe yang kalau ada ribut-ribut, ia memilih menggali tanah dan pura-pura tidak dengar. Tapi ketika ia melihat elang sebesar itu tergeletak, matanya terbuka lebih lebar dari biasanya.
“Ini bukan urusan kecil,” gumam Boro.
Tak jauh dari situ, ada Kookaburra bernama Kiki yang terkenal suka tertawa, seolah dunia ini komedi tanpa jeda. Kiki melihat Cupid dan tertawanya berhenti di tengah. Ia melompat mendekat, memiringkan kepala.
“Bukan lelucon,” katanya lirih.
Boro dan Kiki memanggil penghuni lain: Wallaby yang sigap, Possum yang sering keluyuran malam, dan beberapa burung kecil yang biasanya cuma berani komentar kalau ramai. Mereka berkumpul, bingung harus bagaimana. Tidak ada yang berani menyentuh panah itu.
“Kalau dicabut sembarangan, dia bisa mati,” kata Possum, yang sering mendengar cerita manusia dari kejauhan.
“Kalau dibiarkan, dia juga bisa mati,” balas Kiki, suaranya tiba-tiba serius.
Di situlah mereka ingat: ada makhluk yang kadang bikin masalah, tapi juga satu-satunya yang punya cara memperbaiki luka seperti ini. Manusia.
Bangsa hutan punya hubungan rumit dengan manusia. Ada manusia yang merusak, ada yang membangun, ada yang sekadar lewat tanpa paham bahwa setiap langkah mereka adalah perubahan. Tapi di dekat Teluk Kettering, ada kabar tentang satu tempat yang disebut para hewan sebagai Rumah Pemulih Sayap—suaka yang merawat burung-burung terluka sampai bisa kembali ke langit.
Boro, yang biasanya tidak suka rencana panjang, hari itu memutuskan jadi berani.
“Kita bawa dia ke Rumah Pemulih Sayap,” katanya.
“Gimana caranya?” tanya Wallaby. “Kita tidak punya tangan seperti manusia.”
Boro melirik sekitar, lalu berkata, “Kita punya otak. Kita punya waktu. Dan kita punya satu trik: bikin manusia memperhatikan.”
Kiki terbang ke dekat jalan, tempat manusia kadang melintas dengan kendaraan. Ia duduk di pagar, tertawa keras—tapi kali ini bukan tertawa lucu. Itu tertawa yang terdengar panik, seperti alarm alam.
Seorang manusia berhenti. Ia melihat Kiki. Kiki terbang rendah, kembali, lalu tertawa lagi—mengulang pola yang sama, seperti sedang bilang: “Ikuti aku. Ini penting.”
Manusia itu mengikutinya, pelan. Ia melewati semak, turun ke jalur tanah, sampai akhirnya melihat Cupid.
Reaksi manusia itu cepat: ia jongkok, berbicara pelan, lalu menghubungi manusia lain. Tak lama, datang kendaraan, datang kotak besar, datang sarung tangan, datang suara-suara serius yang terdengar seperti perintah dan kekhawatiran.
Para hewan menonton dari jauh, campur aduk antara lega dan curiga.
Cupid diangkat dengan hati-hati. Panah itu masih menancap. Manusia tidak mencabutnya di tempat. Mereka membungkus, menstabilkan, lalu membawa Cupid pergi.
Saat kendaraan menghilang, teluk terasa lebih sunyi. Bahkan ombak seperti menurunkan volume.
“Semoga mereka benar-benar menolong,” kata Boro.
Kiki tidak tertawa. Ia hanya menatap langit, seolah menunggu jawaban.
Rumah Pemulih Sayap ternyata bukan rumah biasa. Bagi hewan, tempat itu terasa seperti hutan versi teratur: ada kandang luas, ada suara air bersih, ada bau obat, dan ada manusia yang berjalan cepat tapi hati-hati. Di sana, burung-burung tidak dipamerkan. Mereka dipulihkan.
Cupid tidak langsung sadar. Luka di punggungnya membuat tubuhnya lemah. Ia seperti berada di antara mimpi dan rasa sakit. Kadang ia membuka mata dan melihat atap, lalu menutup lagi karena cahaya terasa menusuk.
Hari-hari pertama adalah hari-hari yang tidak enak untuk seekor elang: makan disuapi, minum dipantau, bergerak dibatasi. Bagi makhluk yang biasa memilih arah angin, dibatasi terasa seperti diputus dari identitas.
Di kandang sebelah, ada burung hantu tua bernama Orrin. Orrin sudah lama tinggal di Rumah Pemulih Sayap karena sayapnya pernah patah parah. Ia tidak bisa kembali berburu seperti dulu, tapi ia menjadi “pengajar”—burung yang mengamati, memberi sinyal, dan menenangkan yang panik.
Saat Cupid mulai bisa duduk, Orrin berbicara pertama kali.
“Kau marah?” tanya Orrin.
Cupid menatapnya tajam. “Aku… dipermalukan.”
Orrin tertawa kecil—bukan mengejek, tapi seperti orang tua yang paham. “Kau bukan dipermalukan. Kau terluka.”
“Luka karena manusia,” Cupid mendesis.
“Ya,” kata Orrin. “Dan sekarang kau juga hidup karena manusia.”
Cupid ingin membantah, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk debat. Ia hanya menunduk, membiarkan kalimat itu mengendap seperti air di batu.
Operasi dilakukan. Panah dikeluarkan. Luka dibersihkan. Setelah itu, proses panjang dimulai: antibiotik, perawatan, observasi. Hari-hari terasa lambat—sebuah ironi untuk burung yang biasanya mengukur hidup dalam jarak terbang.
Di sana, Cupid belajar hal baru: bahwa pemulihan itu bukan gerakan heroik satu kali. Pemulihan itu rutinitas yang membosankan tapi menyelamatkan.
Di luar Rumah Pemulih Sayap, musim terus bergerak. Angin berubah. Hujan datang lalu pergi. Orang-orang di Teluk Kettering kadang menanyakan kabar Cupid. Para relawan bekerja, memberi makan, membersihkan, mencatat.
Ada hari ketika Cupid merasa kuat, lalu keesokan harinya ia merasa tubuhnya berat lagi. Ada hari ketika ia mengepakkan sayap dan rasa nyeri muncul seperti ingatan buruk. Ada malam ketika ia bermimpi terbang—dan bangun dengan dada sesak karena sadar ia masih di kandang.
Suatu sore, seorang perawat manusia—para hewan menyebutnya Penjaga Tenang—mendekat, membawa ikan kecil. Ia tidak memaksa. Ia hanya meletakkan makanan, lalu mundur, memberi ruang.
Cupid memperhatikan kebiasaan itu. Manusia ini berbeda. Ia tidak menggedor kandang, tidak berteriak, tidak membuat Cupid merasa jadi tontonan. Ia memperlakukan Cupid seperti makhluk yang punya martabat.
Pelan-pelan, Cupid mulai makan tanpa curiga.
Pelan-pelan, Cupid mulai berdiri tegak.
Pelan-pelan, Cupid mulai mengepakkan sayap lebih sering.
Orrin mengamati semua itu.
“Yang kau pulihkan bukan cuma otot,” kata Orrin suatu malam. “Kau pulihkan kepercayaan.”
Cupid menghela napas panjang. “Kalau aku kembali terbang, aku tetap harus melewati dunia yang bisa melukaiku.”
“Benar,” kata Orrin. “Tapi sekarang kau tahu: di dunia itu juga ada yang bisa menolong.”
Cupid diam. Ia tidak suka kalimat manis. Tapi ia mulai sadar, hidup bukan soal memilih satu versi manusia yang cocok. Hidup soal menghadapi kenyataan: ada tangan yang melempar panah, dan ada tangan yang mencabutnya dengan hati-hati.
Waktu berlalu sampai mendekati pertengahan Februari. Di Rumah Pemulih Sayap, ada bisik-bisik: Cupid akan dilepasliarkan.
“Di hari khusus,” kata salah satu burung kecil yang suka dengar obrolan manusia. “Tanggal empat belas.”
Cupid tidak paham angka. Tapi ia paham dari cara manusia bergerak: lebih sibuk, lebih teliti, lebih tegang dengan cara yang positif.
Penjaga Tenang memeriksa bulu Cupid, memantau berat badan, melihat cara ia melompat dari palang ke palang.
Hari uji terbang di kandang besar pun datang. Kandang itu seperti langit mini—ruang luas dengan jaring tinggi, tempat burung bisa mengepak tanpa menabrak dinding.
Cupid berdiri di palang tinggi. Di bawah, beberapa manusia memperhatikan dengan jarak aman. Orrin, dari kandang sebelah, menatap tanpa berkedip.
“Kau siap?” tanya Orrin.
Cupid menelan ludah. “Aku takut.”
“Bagus,” kata Orrin. “Takut itu tanda kau menghargai hidup.”
Cupid membuka sayap.
Ia melompat.
Untuk sesaat, tubuhnya turun, seperti dulu saat ia jatuh. Jantungnya menendang rusuk. Panah—meski sudah tidak ada—seolah meninggalkan bayangan yang masih menancap.
Tapi kali ini, Cupid mengepak.
Sekali.
Dua kali.
Udara menangkapnya.
Sayapnya menemukan ritme. Nyeri masih ada, tapi tidak mematikan. Ia meluncur, berbelok, naik lagi. Jaring di atasnya bukan langit, tapi cukup untuk mengingatkan: kemampuan terbangnya belum hilang. Ia hanya sempat ragu.
Manusia-manusia di bawah tidak bertepuk tangan keras. Mereka hanya saling pandang dan mengangguk, seperti menyimpan rasa bangga agar tidak mengganggu.
Cupid mendarat, napasnya cepat, matanya basah—kalau elang bisa disebut basah karena emosi.
Orrin berkata pelan, “Selamat datang kembali.”
Malam sebelum pelepasliaran, Teluk Kettering diguyur hujan ringan. Di dalam Rumah Pemulih Sayap, Cupid tidak banyak tidur. Ia menatap gelap, mendengarkan tetesan, membayangkan tebing, membayangkan teluk, membayangkan udara asin yang dulu ia anggap biasa.
Pagi tanggal empat belas datang dengan langit yang bersih. Angin berhembus lembut, seolah alam ingin membuat semuanya lebih mudah.
Cupid dimasukkan ke kotak transport—bukan sebagai tahanan, tapi sebagai tamu yang akan diantar pulang. Kotak itu gelap, membuatnya sedikit tenang karena ia tidak harus menatap dunia sebelum siap.
Perjalanan terasa panjang.
Ketika kotak dibuka, udara teluk masuk seperti kenangan: asin, segar, dan sedikit liar. Cupid melihat tebing. Ia melihat air berkilau. Ia melihat garis pantai yang seperti senyum tipis.
Di kejauhan, ia melihat Kiki si kookaburra. Burung itu duduk di dahan, tidak tertawa kali ini. Ia hanya menatap, serius, seperti saksi.
Boro si wombat juga ada, berdiri di bawah semak, tubuhnya kokoh. Ia terlihat seperti batu yang memutuskan punya hati.
Penjaga Tenang membuka pintu kotak perlahan. Ia mundur beberapa langkah.
Tidak ada paksaan. Tidak ada dorongan.
Hanya kesempatan.
Cupid berdiri di ambang pintu. Kaki-kakinya gemetar. Ia bisa saja menunggu. Ia bisa saja kembali ke “aman” versi kandang. Tapi ia tahu: aman tanpa langit bukan hidup baginya.
Ia melangkah keluar.
Angin menyentuh bulunya. Teluk memantulkan cahaya. Dunia luas terbentang, lengkap dengan risikonya.
Cupid membuka sayap.
Satu detik ia ragu—bayangan panah melintas di pikirannya seperti kilat.
Lalu ia ingat operasi. Ia ingat tangan yang berhati-hati. Ia ingat Orrin yang berkata takut itu wajar. Ia ingat Kiki yang memanggil manusia agar menolongnya. Ia ingat Boro yang memilih berani di hari yang tidak nyaman.
Cupid melompat.
Ia mengepak.
Udara menangkapnya lagi—kali ini bukan jaring, tapi langit sungguhan.
Ia terbang rendah dulu, memutari tebing, menguji sayap. Lalu ia naik lebih tinggi. Lebih tinggi. Sampai rumah-rumah manusia tampak kecil, sampai suara-suara mengecil, sampai teluk jadi piring perak.
Di atas sana, Cupid mengeluarkan suara—bukan jeritan sakit, melainkan panggilan yang terdengar seperti pengumuman: aku masih ada.
Kiki akhirnya tertawa—tapi tertawa yang hangat, seperti seseorang yang baru mengembalikan napas setelah lama tertahan.
Boro menutup mata sebentar, lalu bergumam, “Bagus.”
Orrin, dari kejauhan, tidak terbang. Ia hanya menatap langit, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia tampak sangat damai.
Cupid terbang menuju garis air, lalu berbelok. Ia melihat bayangannya di permukaan teluk: seekor elang dengan dada terang dan punggung gelap, membawa bekas luka yang tidak lagi jadi rantai.
Ia tidak lupa rasa sakit. Ia tidak menghapus marah. Tapi ia memilih sesuatu yang lebih sulit: hidup dengan ingatan tanpa membiarkan ingatan itu mematikan sayapnya.
Dan itulah pelajaran Teluk Kettering—pelajaran yang tidak ditulis di papan mana pun:
Tidak semua luka bisa membuat kita lemah. Beberapa luka justru mengajari kita cara terbang dengan lebih sadar.
Tamat.



















