Nyanyian yang Menemukan Jalan

Laut Selatan tidak pernah benar-benar diam. Bahkan ketika permukaannya tampak tenang seperti kaca biru tua, di bawahnya ada denyut yang terus bergerak—arus yang saling menyapa, gema yang saling menjawab, dan ingatan yang mengalir lebih lama daripada usia siapa pun yang hidup di atasnya.

Di laut itulah hidup bangsa paus, makhluk-makhluk raksasa yang tidak menguasai laut dengan teriakan, melainkan dengan nyanyian.

Bagi paus, suara bukan sekadar bunyi. Suara adalah peta. Suara adalah jarak. Suara adalah rumah.

Setiap tahun, ketika suhu air berubah dan bintang-bintang bergeser di langit malam, paus-paus bungkuk melakukan perjalanan panjang—dari perairan dingin tempat makan, menuju perairan hangat tempat melahirkan. Jalur itu tidak ditulis di batu, tidak dipancang dengan tanda, tidak dijaga oleh siapa pun. Jalur itu hidup di dalam ingatan kolektif, diwariskan dari satu nyanyian ke nyanyian berikutnya.

Di antara kawanan itu, ada seekor paus muda bernama Luma.

Luma bukan yang terbesar. Bukan pula yang paling kuat. Tapi ia dikenal karena satu hal: ia mendengar lebih dalam daripada yang lain. Ketika paus lain hanya mendengar gema terdekat, Luma bisa merasakan getaran jauh—suara laut yang belum tiba, arus yang belum menyentuh sirip.

“Aku mendengar sesuatu yang berubah,” kata Luma suatu hari kepada Aru, paus betina tua yang memimpin kawanan.

Aru sudah berusia sangat panjang. Kulitnya penuh goresan—bekas es, bekas batu karang, bekas pertemuan dengan kapal yang terlalu dekat. Tapi matanya tetap jernih.

“Laut selalu berubah,” jawab Aru. “Yang penting kita tahu mana perubahan yang bisa diikuti, dan mana yang harus dihindari.”

“Aku mendengar suara keras yang tidak bernyanyi,” kata Luma. “Ia tidak menjawab ketika aku memanggil.”

Aru terdiam.

Itu bukan kabar baik.

Beberapa musim terakhir, laut dipenuhi suara baru—mesin, baling-baling, dentuman, getaran logam yang tidak pernah tidur. Suara-suara itu tidak mengikuti aturan laut. Mereka tidak menjauh ketika diminta. Mereka tidak diam ketika malam datang.

“Jaga jarak,” pesan Aru. “Tetap dekat kawanan.”

Luma mengangguk.

Namun laut sering menguji janji.


Perjalanan dimulai seperti biasa. Kawanan berenang perlahan, menjaga formasi longgar. Anak-anak paus berenang di tengah, dilindungi oleh tubuh besar para dewasa. Nyanyian rendah mengalir, memberi tanda arah, memberi ketenangan.

Hari pertama lancar. Hari kedua juga.

Pada hari ketiga, langit mendung dan arus berubah arah. Gelombang bawah laut mendorong kawanan sedikit ke timur. Tidak berbahaya—setidaknya menurut ingatan lama.

Namun suara baru muncul.

Bukan nyanyian paus. Bukan desis arus. Bukan retakan es.

Suara itu lurus, keras, berulang—seperti dunia dipukul dari dalam.

Luma merasakannya paling dulu. Kepalanya berdenyut. Gema nyanyian kawanan terpecah, memantul tidak wajar.

“Aru,” panggil Luma melalui getaran. “Aku kehilangan jawaban.”

Aru memerintahkan kawanan untuk memperlambat. Mereka menyanyikan nada lebih rendah, mencoba menembus kebisingan.

Namun suara mesin tidak peduli.

Dalam kekacauan gema itulah, arus kuat menarik Luma ke samping. Ia berusaha kembali, tapi kepalanya pening. Ia mendengar banyak suara, tapi tidak tahu mana yang harus diikuti.

Ia berenang—salah arah.

Ketika kebisingan mereda, Luma mendapati dirinya sendirian.

Dan laut terasa berbeda.

Air menjadi lebih hangat, lebih dangkal. Dasar laut tidak lagi gelap dan dalam, melainkan berwarna pucat. Bau asin bercampur lumpur. Nyanyian yang ia kirimkan kembali dengan gema yang pendek, cepat, terputus.

Luma panik.

Ia mencoba berbalik, tapi arus menahannya. Ia berenang lebih keras—kesalahan pertama paus yang tersesat. Setiap dorongan membawa ia makin dekat ke tempat yang tidak seharusnya dimasuki tubuh sebesar itu.

Sampai akhirnya, siripnya menyentuh pasir.

Luma terdampar.


Pantai itu tidak sunyi. Ada burung laut yang terbang rendah, ada ombak kecil yang memecah pelan, dan ada makhluk-makhluk berkaki dua yang berdiri jauh, menatap dengan mata membulat.

Manusia.

Bagi Luma, manusia adalah bayangan jauh di permukaan—makhluk kecil yang sering membawa suara keras. Ia tidak tahu mana yang berbahaya, mana yang peduli. Ia hanya tahu satu hal: air terlalu dangkal.

Setiap napas terasa berat. Berat tubuhnya menekan organ dalam. Ia menggerakkan ekor, tapi pasir menahan. Ombak kecil tidak cukup untuk mengangkatnya.

Luma menyanyikan panggilan—nada rendah, panjang, penuh harap.

Namun yang menjawab bukan kawanan, melainkan kekosongan.

Di pantai, manusia-manusia mulai bergerak. Ada yang berlari, ada yang memanggil yang lain, ada yang menatap dengan takut dan kagum sekaligus.

Di antara mereka ada seorang nelayan tua bernama Tama.

Tama sudah hidup dengan laut sepanjang hidupnya. Ia tahu laut bisa memberi, bisa mengambil, dan sering melakukan keduanya tanpa peringatan. Ketika ia melihat paus itu, ia tidak berpikir tentang berita atau tontonan. Ia berpikir tentang satu hal sederhana:

“Makhluk ini salah jalan.”

Tama mendekat pelan, menjaga jarak. Ia melihat cara paus itu bernapas, melihat siripnya yang tertekuk.

“Kita tidak boleh mendorong sembarangan,” katanya pada manusia lain. “Kalau panik, dia bisa mati.”

Beberapa orang ingin segera bertindak. Beberapa ingin menunggu pihak berwenang. Beberapa hanya merekam.

Waktu berjalan cepat.

Matahari naik. Air surut sedikit.

Luma semakin tertekan.


Ketika harapan mulai menipis, suara lain datang—bukan nyanyian paus, tapi irama teratur dari kejauhan. Kapal kecil mendekat, membawa manusia-manusia dengan pakaian berbeda, wajah serius, dan gerak yang lebih terkoordinasi.

Mereka disebut oleh hewan laut sebagai Para Pembaca Arus—manusia yang belajar mendengar laut, meski tidak sempurna.

Para Pembaca Arus segera mengamati. Mereka menyentuh air, mengukur kedalaman, memperhatikan napas Luma.

“Dia masih kuat,” kata salah satu. “Tapi waktunya tidak banyak.”

Rencana pun dibuat.

Bukan rencana yang kasar. Bukan rencana yang cepat. Melainkan rencana yang menunggu momen tepat.

Mereka menunggu pasang naik.

Sementara itu, mereka menjaga tubuh Luma tetap basah, mendinginkannya, berbicara pelan—meski tidak yakin paus itu mengerti kata, mereka tahu nada penting.

Luma merasakan tangan-tangan itu. Ia tidak tahu maksudnya, tapi ia merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan sejak terpisah dari kawanan: tidak sendirian.

Pasang naik datang perlahan. Air menyentuh tubuhnya lebih tinggi. Tekanan berkurang sedikit.

“Sekarang,” kata Tama.

Manusia-manusia itu tidak mendorong kepala. Mereka tidak menarik sirip. Mereka menggunakan kain besar, papan, dan tali—mengikuti bentuk tubuh Luma, bukan melawannya.

Mereka bekerja dengan ombak, bukan melawan.

Luma merasakan tubuhnya terangkat sedikit demi sedikit. Ia menggerakkan ekor—pelan, terkontrol, mengikuti dorongan air.

Satu ombak.

Dua ombak.

Lalu tiba-tiba—ringan.

Luma kembali mengapung.

Sorak terdengar dari pantai, tapi cepat diredam. Para Pembaca Arus tahu: ini belum selesai.

“Bawa dia ke arah dalam,” kata salah satu. “Kalau tidak, dia bisa kembali lagi.”

Kapal-kapal kecil bergerak di samping Luma, bukan untuk menarik, tapi menunjukkan arah. Mesin mereka dimatikan. Mereka menggunakan dayung dan tali panjang, membuat jalur visual dan getaran air yang lembut.

Luma mengikuti.

Pelan.

Air semakin dalam. Warna berubah. Gema menjadi lebih panjang.

Luma menyanyikan satu nada pendek.

Dan kali ini—ada jawaban.


Di kejauhan, Aru berhenti berenang.

Ia mendengar sesuatu yang hampir hilang—nada yang dikenalnya seperti denyut sendiri.

“Kembali,” katanya pada kawanan. “Dia masih hidup.”

Kawanan berbelok, mengikuti nyanyian Luma yang kini makin jelas.

Luma berenang ke dalam. Manusia berhenti di batas tertentu. Mereka tahu kapan harus mundur.

Ketika Luma merasakan arus yang benar, ia berhenti mengikuti petunjuk buatan. Ia menyelam, lalu muncul lagi, menyanyikan panggilan penuh.

Aru menjawab.

Kawanan bertemu kembali di laut lepas—tidak dengan ledakan emosi, tapi dengan formasi rapat, sentuhan sirip, dan nyanyian rendah yang penuh kelegaan.

Luma berada di tengah, lelah, tapi hidup.

Dari kejauhan, Tama dan manusia-manusia di pantai melihat bayangan besar menghilang ke biru tua.

Tidak ada tepuk tangan panjang. Tidak ada perayaan besar.

Hanya napas yang dilepaskan.


Perjalanan kawanan berlanjut, tapi tidak sama.

Luma tidak lagi berenang di pinggir. Ia lebih dekat ke Aru. Ia lebih sering mendengar, lebih jarang terburu-buru.

“Apa yang kau pelajari?” tanya Aru suatu malam.

“Bahwa nyanyian bisa tenggelam,” jawab Luma. “Dan bahwa dunia di atas air tidak selalu tuli.”

Aru mengangguk. “Kita hidup di laut yang berubah. Kita harus belajar membedakan kebisingan dan bantuan.”

Luma mengingat tangan-tangan manusia, nada bicara mereka, cara mereka menunggu pasang.

Ia tahu tidak semua manusia akan melakukan hal yang sama. Ia tahu bahaya masih ada. Tapi ia juga tahu satu hal penting:

Di laut yang rumit, keselamatan sering lahir dari kerja bersama yang tenang.

Beberapa musim kemudian, Luma tumbuh dewasa. Nyanyiannya menjadi bagian dari peta kolektif. Ia menyimpan satu bagian baru dalam lagu-lagunya—bagian tentang pantai, tentang kesabaran, tentang pasang yang menyelamatkan.

Ketika anak-anak paus bertanya tentang dunia, Luma tidak menakut-nakuti mereka.

Ia berkata jujur.

“Laut luas,” katanya. “Dan tidak semua jalan aman. Tapi selama kita mendengar—dan memberi ruang untuk didengar—jalan pulang selalu ada.”

Dan di pantai yang sama, Tama yang semakin tua kadang berdiri memandang laut, mendengarkan suara jauh yang tidak bisa ia mengerti dengan telinga, tapi bisa ia rasakan dengan dada.

Ia tidak tahu apakah paus itu mengingatnya.

Tapi laut tahu.

Tamat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link