Dengung yang Menjaga Musim

Di sebuah dataran yang dulu dikenal sebagai Lembah Tiga Musim, angin selalu membawa aroma yang berbeda setiap kali ia lewat. Saat semi, bau bunga liar seperti pesan rahasia. Saat panas, gandum menguning mengirim wangi kering yang hangat. Saat gugur, tanah basah menguap seperti napas panjang setelah bekerja keras.

Lembah itu tidak pernah sepi. Bahkan ketika tampak diam, selalu ada sesuatu yang bekerja.

Dan yang paling rajin bekerja—namun paling jarang diperhatikan—adalah lebah.

Bagi kebanyakan makhluk besar, lebah hanyalah titik-titik kecil yang beterbangan tanpa tujuan. Tapi bagi Lembah Tiga Musim, lebah adalah jam waktu. Selama lebah berdengung, musim berjalan tepat. Selama lebah pulang ke sarang, bunga tahu kapan harus mekar dan kapan harus beristirahat.

Di tengah lembah itu, ada sebuah koloni tua yang sarangnya tersembunyi di balik batang pohon ek berlubang. Koloni itu dipimpin oleh seekor lebah ratu bernama Ira.

Ira bukan ratu yang duduk di singgasana. Ia bahkan jarang terlihat. Tugasnya bukan memerintah, melainkan mengingat. Mengingat rute bunga, mengingat perubahan cuaca, mengingat kapan musim dulu pernah gagal dan bagaimana koloni selamat.

“Ingatan adalah madu yang paling berharga,” begitu pesan Ira yang diwariskan dari ratu ke ratu.

Di koloni itu, ada seekor lebah pekerja muda bernama Nala.

Nala tidak istimewa dalam ukuran atau kekuatan. Sayapnya biasa saja, sengatnya tidak lebih tajam dari yang lain. Tapi Nala punya satu kebiasaan yang membuatnya sering ditegur: ia suka melihat ke luar lembah.

“Kenapa kamu selalu terbang terlalu jauh?” tanya lebah penjaga suatu pagi.

“Karena bunga tidak selalu mekar di tempat yang sama,” jawab Nala.

Jawaban itu terdengar bijak, tapi juga berbahaya. Lebah yang terlalu jauh sering tidak pulang.

Namun Ira tidak melarang Nala. Ratu tua itu tahu: koloni butuh lebah yang berani membaca perubahan.


Suatu musim semi, sesuatu yang aneh terjadi.

Bunga-bunga mekar seperti biasa, tapi baunya berbeda. Tidak buruk—hanya… kosong. Seperti senyum tanpa niat.

Nala mendarat di satu bunga kuning, mengumpulkan nektar, lalu terbang lagi. Tapi ada rasa ganjil di tubuhnya. Sayapnya terasa berat, pikirannya kabur.

Ia pulang lebih cepat dari biasanya.

“Ini bukan bunga yang baik,” lapornya kepada lebah pengolah madu.

“Apa maksudmu?” tanya lebah itu.

“Nektarnya ada, tapi… rasanya seperti tidak ingin diingat.”

Para lebah saling pandang. Lebah tidak punya bahasa untuk menjelaskan kimia, tapi mereka tahu perasaan aneh itu.

Hari demi hari, semakin banyak lebah pulang dengan sayap lelah, bahkan ada yang tidak pulang sama sekali.

Koloni mulai gelisah.

Ira memanggil pertemuan—bukan dengan suara keras, tapi dengan getaran rendah yang hanya bisa dirasakan oleh lebah.

“Ada apa di luar?” tanya Ira.

Lebah-lebah senior melapor: bunga masih ada, tapi tanah berbau asing. Air di daun terasa pahit. Angin membawa jejak yang tidak alami.

“Manusia,” gumam salah satu lebah tua.

Manusia memang sering mengubah lembah. Mereka menanam, memanen, membangun. Selama ini, lebah dan manusia hidup berdampingan—tidak selalu harmonis, tapi cukup seimbang.

Namun kali ini, manusia membawa sesuatu yang tidak bisa dilihat: zat yang membunuh pelan-pelan.

Lebah tidak tahu namanya. Mereka hanya tahu dampaknya.

Dalam satu musim panas, koloni kehilangan banyak pekerja. Produksi madu turun. Larva tumbuh lebih lambat.

Dan yang paling berbahaya: lebah mulai lupa rute pulang.

Nala menyaksikan satu demi satu temannya hilang di udara.

“Kalau ini terus terjadi,” katanya pada lebah sahabatnya, Rin, “kita tidak akan melewati musim dingin.”

Rin menunduk. “Apa yang bisa kita lakukan? Kita lebah.”

Nala terdiam. Tapi pikirannya bergerak cepat.

“Kita bisa pergi,” katanya akhirnya.

“Pergi ke mana?” Rin terkejut.

“Keluar dari lembah.”

Kata itu seperti petir kecil. Keluar dari lembah berarti meninggalkan ingatan lama, bunga lama, bahkan mungkin ratu.

Ide itu sampai ke Ira.

Ratu tua itu diam lama.

“Pergi bukan solusi,” kata Ira akhirnya. “Tapi mencari jalan pulang baru bisa jadi.”

Nala mengangkat kepala. “Maksudmu?”

“Manusia lupa bahwa lembah ini hidup,” jawab Ira. “Kadang, mereka perlu diingatkan—bukan dengan marah, tapi dengan akibat.”

Lebah tidak bisa bicara dengan manusia. Tapi mereka bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih kuat: berhenti bekerja di tempat yang salah, dan kembali bekerja di tempat yang benar.

Ira memerintahkan sesuatu yang belum pernah dilakukan koloni selama ratusan musim.

“Cari bunga liar,” katanya. “Cari tempat yang belum disentuh zat pahit itu. Bekerjalah di sana. Biarkan ladang yang melukai kita belajar sendiri.”

Keputusan itu berat. Tapi lebah adalah makhluk yang tahu kapan harus patuh pada ingatan.

Nala memimpin kelompok kecil pencari rute baru. Mereka terbang melewati batas ladang gandum, melewati pagar kayu, hingga menemukan sesuatu yang hampir dilupakan manusia: sebidang tanah liar.

Di sana, bunga-bunga tumbuh tanpa barisan rapi. Warnanya beragam, baunya kuat, tanahnya bernapas.

Nala mendarat, mencicipi nektar.

Rasanya… hidup.

Ia berdengung keras, memanggil lebah lain.

Satu per satu, lebah datang. Mereka menari di udara—tarian arah, tarian kabar baik.

Koloni perlahan mengalihkan tenaga. Mereka masih mengunjungi ladang manusia, tapi tidak lagi bergantung padanya.

Musim panas itu, sesuatu berubah.

Tanaman manusia yang dulu berbuah lebat mulai menurun. Bukan karena hama, bukan karena cuaca—tapi karena penyerbukan berkurang.

Para petani bingung.

“Apa yang salah?” tanya seorang petani tua bernama Eldrin, yang sudah mengolah tanah di lembah itu sejak muda.

Ia berjalan ke ladangnya, melihat bunga yang mekar tapi sepi.

Tidak ada dengung.

Eldrin ingat masa kecilnya—saat udara selalu penuh suara lebah. Ia ingat ibunya berkata, “Kalau lebah pergi, kita juga akan kesulitan.”

Eldrin mulai bertanya. Ia berbicara dengan petani lain, dengan penjaga tanah, dengan anak-anak muda yang belajar ilmu tumbuhan.

Perlahan, satu kesadaran tumbuh: tanah terlalu dipaksa.

Musim berikutnya, beberapa petani mengambil keputusan sulit. Mereka mengurangi zat pahit itu. Mereka menanam jalur bunga liar di pinggir ladang. Mereka membiarkan sebagian tanah beristirahat.

Bukan semua setuju. Banyak yang takut panen turun.

Tapi Eldrin bersikeras. “Lebah bukan hama. Lebah mitra.”

Di udara, Nala mencium perubahan. Bau pahit berkurang. Angin membawa wangi yang lebih jujur.

Lebah kembali mendekat—pelan, hati-hati.

Tidak semua bunga dipercaya. Lebah belajar membedakan.

Koloni bertahan melewati musim dingin—dengan sulit, tapi cukup.

Musim semi berikutnya, sesuatu yang lama hilang kembali: dengung serempak.

Bunga liar dan bunga ladang sama-sama dikunjungi. Tanah lebih hidup. Panen perlahan membaik—tidak berlebihan, tapi stabil.

Eldrin berdiri di ladangnya, mendengar suara kecil yang nyaris tak terlihat.

Ia tersenyum.

Di sarang pohon ek, Ira merasakan perubahan.

“Musim masih bisa dijaga,” katanya pelan.

Nala, yang kini lebih dewasa, menatap lembah dari udara. Ia tidak lagi ingin pergi jauh tanpa alasan. Ia tahu: perubahan bukan tentang meninggalkan rumah, tapi tentang membuat rumah layak dihuni kembali.

Lebah-lebah muda mendengarnya bercerita.

“Apa manusia sekarang baik?” tanya seekor lebah kecil.

Nala berpikir sejenak. “Manusia bisa lupa. Tapi mereka juga bisa belajar.”

“Bagaimana caranya?”

“Dengan akibat,” jawab Nala. “Dan dengan kesempatan kedua.”

Di Lembah Tiga Musim, dengung kembali menjadi penanda waktu. Bukan karena semua masalah selesai, tapi karena keseimbangan kembali dicari bersama.

Dan begitulah alam bekerja—tidak dengan teriakan, tapi dengan keputusan kecil yang diulang setiap hari.

Tamat.

Moral:
Yang kecil sering memegang kunci musim. Jika mereka pergi, alam berbicara. Jika mereka kembali, harapan ikut berdengung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link