Taman yang Tidak Bisa Lari
1. Laut yang Terlalu Sunyi
Laut itu bernama Teluk Nara. Dulu, siapa pun yang berenang di sana akan berkata bahwa airnya penuh suara—bukan suara keras, melainkan bisik kecil yang terus-menerus: gesekan ikan kecil, letupan halus gelembung, dan getaran karang yang hidup.
Namun kini, Teluk Nara sunyi.
Airnya masih biru, matahari masih memantul indah di permukaan, tapi di bawahnya, banyak ruang kosong. Terumbu karang yang dulu berwarna seperti pasar kain kini memucat, berubah putih dan rapuh seperti tulang tua.
Ikan-ikan kecil berenang tanpa tujuan jelas. Ikan besar jarang datang. Penyu yang dulu singgah kini hanya lewat cepat, seperti tidak ingin berlama-lama.
Di tengah terumbu yang rusak itu, masih berdiri satu koloni karang tua bernama Sura.
Sura bukan karang terbesar. Ia bukan yang paling cantik. Tapi ia adalah yang paling lama mengingat.
Karang tidak punya mata untuk melihat, tidak punya kaki untuk lari. Tapi karang punya ingatan—ingatan dalam bentuk cabang, lapisan, dan hubungan. Setiap polip kecil di tubuh Sura menyimpan cerita tentang arus, tentang panas, tentang badai, dan tentang masa ketika laut masih sabar.
“Laut sedang sakit,” gumam Sura, dalam bahasa karang yang berupa getaran halus.
Di sekitarnya, banyak karang mati tidak menjawab.
2. Anak yang Bertanya Terlalu Banyak
Di sela-sela Sura, hidup seekor ikan kecil berwarna kuning bernama Lumi. Lumi lahir setelah terumbu mulai rusak. Ia tidak pernah melihat Teluk Nara dalam kejayaannya.
“Kenapa tempat ini kosong?” tanya Lumi pada Sura suatu hari.
Sura menjawab pelan, “Karena terlalu panas, terlalu cepat, dan terlalu rakus.”
Lumi mengernyit. “Siapa yang rakus? Kita?”
“Tidak hanya kita,” jawab Sura. “Kadang laut sendiri lupa menahan napas. Kadang makhluk lain lupa mendengar.”
Lumi tidak sepenuhnya mengerti. Ia hanya tahu satu hal: sulit mencari tempat berlindung. Banyak temannya dimakan karena tidak ada celah karang untuk bersembunyi.
“Kalau begini terus,” kata Lumi, “kita akan pergi.”
Sura diam lama. “Tidak semua bisa pergi.”
Karang tidak bisa pergi.
3. Penjaga yang Datang Perlahan
Suatu hari, bayangan besar muncul dari atas. Bukan hiu. Bukan paus.
Manusia.
Namun manusia yang ini berbeda. Mereka tidak membawa jaring. Mereka tidak membawa tombak. Mereka membawa kerangka besi kecil dan kotak-kotak aneh.
Para ikan panik. Lumi bersembunyi di celah Sura.
“Apa mereka akan merusak kita lagi?” bisik Lumi.
Sura mendengarkan getaran air. Gerakan manusia itu pelan. Hati-hati. Tidak tergesa.
“Mereka datang dengan niat lain,” kata Sura.
Manusia-manusia itu menancapkan kerangka besi di dasar laut. Mereka menempelkan potongan kecil karang hidup—fragmen—ke kerangka itu.
Fragmen-fragmen itu kecil. Rapuh. Hampir tak berarti jika dilihat sekilas.
Lumi bingung. “Untuk apa menempelkan potongan kecil itu? Karang besar saja mati.”
Sura menjawab, “Karena hidup sering dimulai dari yang tersisa.”
4. Kebun di Bawah Air
Hari demi hari, kerangka besi itu tidak diambil. Ia dibiarkan. Fragmen karang kecil mulai menempel, menyesuaikan diri dengan arus.
Para ikan mulai menyebut tempat itu Taman Diam.
Fragmen karang itu tidak bergerak. Mereka tidak melawan arus. Mereka hanya bertahan.
Lumi sering berenang mengelilingi Taman Diam.
“Mereka kecil,” kata Lumi. “Apa mereka tidak takut?”
Sura menjawab, “Takut itu milik yang bisa lari. Yang tidak bisa lari belajar bertahan.”
Fragmen karang mulai tumbuh milimeter demi milimeter. Tidak cepat. Tidak dramatis.
Ikan-ikan kecil mulai berani mendekat. Ada celah kecil untuk bersembunyi. Ada alga yang tumbuh tipis. Ada plankton yang tersangkut.
Sedikit demi sedikit, suara kembali.
5. Ujian Panas
Musim panas datang lebih keras dari sebelumnya. Air terasa hangat bahkan di kedalaman.
Beberapa fragmen karang memucat. Sebagian mati.
Lumi panik. “Mereka mati! Kita gagal!”
Sura menenangkan. “Tidak semua yang mati adalah kegagalan. Mereka yang bertahan akan mengingat panas ini.”
Benar saja. Fragmen yang bertahan justru menjadi lebih kuat. Polip-polip kecil menyesuaikan diri. Mereka menyimpan ingatan panas dalam tubuhnya.
Manusia datang lagi. Mereka mencatat. Mereka tidak marah. Mereka tidak mencabut semuanya.
Mereka memilih fragmen yang bertahan untuk ditanam lebih banyak.
“Kenapa mereka memilih yang selamat, bukan yang paling cantik?” tanya Lumi.
“Karena masa depan bukan milik yang paling indah,” jawab Sura, “tapi milik yang paling tahan.”
6. Perpindahan Besar
Suatu pagi, manusia kembali—kali ini dengan jumlah lebih banyak. Mereka membawa fragmen karang yang sudah tumbuh di Taman Diam.
Lumi melihat mereka memindahkan karang-karang kecil itu ke terumbu mati di sekitarnya.
“Mereka memindahkan rumah?” tanya Lumi.
“Mereka memperluas ingatan,” kata Sura.
Fragmen-fragmen itu ditempel di batu karang mati. Tidak semua bertahan. Tapi cukup banyak.
Beberapa bulan kemudian, ikan kecil mulai berkumpul di sana. Ikan sedang menyusul. Rumput laut tumbuh seimbang.
Terumbu mati tidak lagi sepenuhnya mati.
7. Penjaga Lama dan Penjaga Baru
Sura merasa sesuatu berubah. Arus terasa lebih lembut. Sedimen berkurang. Air lebih jernih.
Penyu tua bernama Kala kembali singgah.
“Tempat ini berbeda,” kata Kala. “Dulu aku hanya lewat.”
Sura menjawab, “Kami sedang mencoba hidup lagi.”
Kala menatap Taman Diam dan terumbu baru. “Manusia ikut membantu?”
“Ya,” jawab Sura. “Tidak semua. Tapi cukup.”
Kala mengangguk. “Kadang yang dibutuhkan laut bukan pahlawan, tapi penjaga.”
8. Anak yang Melihat Warna
Lumi tumbuh. Warna kuningnya semakin cerah.
Suatu hari, Lumi melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat: karang muda berwarna ungu dan hijau tumbuh di bekas karang mati.
“Warnanya kembali!” teriak Lumi.
Ikan-ikan lain mendekat. Mereka kagum. Mereka berani tinggal lebih lama.
Sura merasakan getaran halus di seluruh tubuhnya. Getaran yang sudah lama tidak ia rasakan: harapan.
9. Badai Besar
Namun laut tidak pernah memberi hadiah tanpa ujian.
Suatu malam, badai besar datang. Gelombang kuat menghantam teluk. Arus bawah laut mengamuk.
Banyak fragmen karang tercerabut. Beberapa kerangka besi miring.
Lumi berpegangan di celah Sura, takut.
“Apa ini akhir?” tanya Lumi.
Sura menjawab, suaranya tetap pelan meski getaran kuat. “Tidak. Ini ujian ingatan.”
Setelah badai, banyak yang rusak. Tapi tidak semua.
Beberapa terumbu baru tetap berdiri. Beberapa ikan kembali lebih cepat dari yang diperkirakan.
Manusia datang lagi. Mereka memperbaiki kerangka. Mereka menanam ulang.
Mereka tidak menyerah.
10. Laut yang Belajar Pelan
Tahun-tahun berlalu.
Teluk Nara tidak kembali seperti dulu. Tidak sepenuhnya. Beberapa bagian tetap rusak. Beberapa spesies tidak pernah kembali.
Namun laut belajar pelan.
Ikan kembali dalam jumlah cukup. Penyu singgah lebih lama. Hiu karang sesekali muncul di kejauhan.
Lumi kini menjadi ikan dewasa. Ia sering bercerita pada ikan-ikan kecil.
“Dulu tempat ini hampir mati,” kata Lumi. “Karang tidak bisa lari. Tapi karang bisa menunggu.”
Sura mendengarkan dengan tenang. Tubuhnya kini dikelilingi karang muda—bukan anaknya secara darah, tapi anaknya secara waktu.
11. Percakapan Terakhir
Suatu senja, ketika cahaya matahari menembus laut dengan sudut lembut, Lumi mendekat ke Sura.
“Apa kita sudah selamat?” tanya Lumi.
Sura menjawab, “Tidak ada kata selamat di laut. Hanya ada kata dijaga.”
“Siapa yang menjaga?” tanya Lumi.
“Kita,” jawab Sura. “Dan mereka yang mau belajar mendengar.”
Di atas, manusia berenang pelan, menjaga jarak, mencatat tanpa mengganggu.
Di bawah, karang tumbuh milimeter demi milimeter.
Laut tidak lagi sunyi.
12. Taman yang Tidak Bisa Lari
Teluk Nara kini dikenal ikan-ikan sebagai tempat yang sabar.
Bukan karena ia kuat. Tapi karena ia tidak menyerah meski tidak bisa lari.
Dan di tengah terumbu yang tumbuh kembali, Sura tetap berdiri—bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai pengingat bahwa dunia tidak selalu diselamatkan oleh yang bergerak cepat.
Kadang, dunia diselamatkan oleh yang diam, bertahan, dan memberi rumah bagi yang lain.
Tamat
Moral:
Yang tidak bisa pergi sering kali adalah yang paling setia menjaga. Ketika kita memberi waktu dan ruang pada kehidupan yang diam, ia bisa menghidupkan kembali seluruh dunia di sekitarnya.



















