Mahkota di Atas Akar
Di sebuah negeri yang peta-petanya ditulis oleh angin dan batas-batasnya ditandai oleh bayang-bayang pohon raksasa, berdirilah hutan tua bernama Rimba Wening. Orang luar menyebutnya “hutan belantara”, tapi para penghuni menyebutnya “rumah yang bernapas”.
Rimba Wening bukan sekadar kumpulan pepohonan. Ia adalah kerajaan—bukan karena ada istana batu atau bendera kain, melainkan karena setiap makhluk tahu tata tertib yang tak pernah ditulis: siapa menanam, siapa menjaga, siapa memindahkan benih, siapa menyaring air, siapa membuka jalan, siapa menutup luka tanah.
Di pusat rimba, ada sebuah lapangan kecil yang tanahnya tidak pernah retak, meski kemarau datang berkali-kali. Di sanalah Dewan Akar berkumpul setiap purnama: Burung Hantu Tua yang menyimpan cerita, Rusa yang hafal jalur air, Kura-kura yang sabar menghitung musim, Lebah yang mengerti bunga, dan Serigala yang menjaga perbatasan.
Namun yang paling disegani adalah sang pemimpin Rimba Wening: Singa Perak bernama Arwana.
Arwana bukan singa paling kuat. Cakar dan taringnya masih tajam, tapi usianya membuatnya tak lagi mengejar kemenangan kecil. Yang membuatnya ditaati adalah satu hal: ia mendengar. Ia mendengar sebelum memutuskan, menimbang sebelum memerintah, dan—yang paling sulit—mengakui bila ia tak tahu.
Dan selama Arwana memimpin, Rimba Wening hidup dalam keseimbangan yang, bagi yang tak paham, tampak seperti kebetulan: sungai mengalir jernih, buah tumbuh cukup, dan jalur hewan besar tak pernah berbenturan dengan sarang hewan kecil.
Sampai suatu musim kemarau datang dengan cara yang berbeda.
Bukan kemarau biasa yang sekadar panas dan panjang, melainkan kemarau yang terasa seperti tanah ditinggal doa. Udara kering menempel di tenggorokan. Daun-daun muda gugur sebelum sempat memantulkan cahaya. Dan sungai yang biasanya bernyanyi di bebatuan, kini suaranya mengecil seperti bisikan yang malu.
Pada sore yang memerah seperti arang, Lira si Rusa muda berlari ke lapangan Dewan Akar. Napasnya patah-patah. Matanya seperti membawa kabar buruk yang terlalu berat.
“Paduka Arwana,” ucapnya setelah berhasil menunduk, “di timur… ada suara pohon jatuh. Banyak. Dan aku melihat… kawanan Kera membawa batang-batang kayu keluar rimba. Mereka tidak memungut ranting yang jatuh. Mereka menebas yang masih hidup.”
Hening merambat cepat. Burung Hantu Tua menutup matanya sejenak, seperti menahan gambar yang tak ingin ia lihat. Serigala saling menajamkan telinga. Lebah berhenti berdengung, seakan mengerti bahwa bunga pun punya rasa takut.
Arwana berdiri, mengangkat kepala, menatap ke arah timur yang jauh.
“Rimba Wening tak pernah melarang makhluk hidup mengambil yang ia butuh,” kata Arwana pelan. “Tapi rimba juga tak pernah mengizinkan siapa pun mengambil lebih dari yang bisa ia ganti.”
Ia memerintahkan Dewan Akar untuk mengirim penyelidik. Serigala pergi lebih dulu. Burung-burung kecil terbang rendah mencari tanda. Lira, meski takut, ikut menuntun jalur tercepat.
Saat mereka sampai di timur, udara berubah. Bau getah segar bercampur tanah terbuka. Di sana, di antara pohon-pohon yang tumbang seperti prajurit kalah perang, berdirilah sosok yang dikenal karena kelincahannya: Raka si Kera, pemimpin kawanan kera penebang.
Raka menatap Arwana dengan senyum yang rapi, senyum yang terlihat sopan tapi terasa seperti pintu yang dikunci dari dalam.
“Paduka datang sendiri,” kata Raka, suaranya ringan. “Aku kira Serigala akan membawa tombak.”
Arwana tak membalas sindirannya. Ia melangkah mendekati batang pohon yang baru tumbang. Cincin-cincin usia di kayu itu terlihat seperti sejarah yang dipotong di tengah kalimat.
“Mengapa kalian melakukan ini?” tanya Arwana.
Raka mengangkat bahu. “Karena rimba berubah. Kemarau makin kering. Buah makin sedikit. Kita butuh tempat penyimpanan. Kita butuh jalur yang lebih lebar. Kita butuh berdagang dengan luar lembah.”
Kata “berdagang” menggantung di udara seperti paku.
“Dengan kayu ini,” lanjut Raka, “kami bisa menukar garam, biji-bijian, bahkan buah kering dari luar. Kenapa harus menunggu pohon tua roboh sendiri, kalau kita bisa mempercepat dan mengubahnya jadi keuntungan?”
Arwana menatap tanah yang terbuka, akar yang tercabut, dan garis-garis lumpur kering yang tak biasa.
“Karena pohon itu bukan hanya kayu,” jawab Arwana. “Pohon itu rumah. Pohon itu penahan air. Pohon itu pagar bagi tanah. Jika kalian menebang terlalu banyak, kemarau akan semakin kering dan hujan akan semakin ganas.”
Raka tertawa kecil. “Paduka bicara seperti Burung Hantu yang suka menakut-nakuti anak-anak. Hujan itu berkah. Kemarau itu tantangan. Kita butuh berani, bukan berhati-hati terus.”
Arwana mengangkat satu cakar, bukan mengancam, tapi menghentikan. “Aku memerintahkan kalian berhenti sementara. Kita akan bicarakan ini di Dewan Akar. Keputusan rimba tidak dibuat oleh satu kawanan.”
Raka menunduk lagi. “Baik, Paduka.” Tapi senyumnya tak berubah.
Malam itu, ketika Rimba Wening seharusnya tidur, suara kapak batu dan patahan ranting tetap terdengar dari timur—pelan, jauh, tapi cukup untuk membuat tanah seakan berdebar.
Dalam beberapa pekan, perubahan terasa seperti penyakit yang merayap. Sungai menyempit lebih cepat. Mata air kecil yang biasa menjadi tempat minum Kijang mengering. Lebah kebingungan karena bunga berkurang. Burung-burung kehilangan dahan tinggi untuk bertengger.
Lalu, datang masalah yang paling membuat rimba panas: hewan besar mulai masuk permukiman.
Di selatan Rimba Wening, dekat batas padang rumput, tinggal kawanan Gajah. Mereka adalah penjaga jalur tua—jalur yang diwariskan dari generasi ke generasi, jalur yang menghubungkan sumber air, rawa garam, dan hutan buah liar.
Pemimpin mereka bernama Gema, gajah jantan bertaring satu, besar, dan biasanya tenang. Gema bukan gajah yang suka cari gara-gara. Ia hanya keras kepala kalau jalurnya dihalangi.
Masalahnya: jalur gajah itu kini terpotong oleh area yang dibuka kera. Kayu-kayu tumbang menghalangi. Tanah ditimbun. Ada jebakan kecil untuk mengusir hewan besar, karena kera tak mau “pembangunan” mereka dihancurkan.
Pada suatu malam, ketika bulan hanya setengah dan kabut turun seperti kain basah, Gema berjalan mengikuti ingatan kakinya. Ia menabrak penghalang pertama: batang pohon melintang yang dulu tak pernah ada. Ia mendorongnya. Batang itu jatuh dengan bunyi menggelegar. Para kera yang berjaga panik, melempar batu kecil, membunyikan kaleng-kaleng kosong, dan menyalakan api dari ranting kering.
Api membuat Gema terkejut. Ia mundur, lalu maju lagi, napasnya memburu. Ia tidak mengerti mengapa jalur yang selalu aman kini berubah jadi medan perang kecil.
Ketika rasa takut bertemu rasa lapar, bahkan makhluk paling tenang bisa menjadi badai.
Gema mengamuk. Ia merobohkan pagar kayu, merusak gudang buah kering yang baru dibangun, dan tanpa sengaja menginjak beberapa sarang.
Keesokan paginya, kabar itu menyebar lebih cepat dari angin: “Gajah menyerang! Gajah berbahaya! Gajah harus diusir!”
Serigala menuntut tindakan. Burung-burung ketakutan. Kera marah dan menyalahkan Arwana yang dianggap “lemah karena terlalu banyak rapat”.
Di Dewan Akar, suasana memanas.
“Kita tak bisa membiarkan gajah merusak rumah!” teriak Kera muda.
“Kita tak bisa membiarkan kera menebang hutan!” balas Lebah.
“Kalau begini terus, rimba akan perang dengan dirinya sendiri,” gumam Kura-kura Bima, suaranya pelan tapi dalam.
Arwana mendengarkan semuanya sampai suara tumpang tindih seperti hujan batu. Lalu ia berkata: “Kita akan mengunjungi kawanan gajah. Kita akan mengunjungi kera. Dan kita akan mengembalikan jalur tua.”
Namun kata-katanya datang terlambat bagi sebagian yang ingin keputusan cepat.
Raka, melihat situasi kacau, mulai berkeliling membawa narasi yang manis dan rapi. Ia berbicara pada hewan-hewan muda yang lapar dan lelah.
“Lihat,” katanya. “Selama ini kita hidup dari apa yang jatuh dari pohon. Sekarang pohon tak lagi cukup. Arwana tua masih percaya keseimbangan akan menyelamatkan kita. Tapi keseimbangan tidak mengisi perut.”
Beberapa hewan muda mengangguk. Mereka bukan jahat. Mereka hanya takut.
Raka melanjutkan: “Kita perlu pemimpin yang berani mengambil keputusan. Pemimpin yang membangun. Pemimpin yang tak terikat oleh cerita lama.”
Kata “cerita lama” menusuk Burung Hantu Tua, tapi burung itu tidak melawan dengan amarah. Ia hanya memejamkan mata dan mengingat musim-musim ketika rimba hampir kehilangan semuanya—dan bagaimana kebijaksanaan menyelamatkan mereka.
Lalu sesuatu terjadi yang membuat segalanya retak lebih jauh: hujan datang.
Bukan hujan halus yang meresap pelan, melainkan hujan yang jatuh seperti gerbang langit dibuka paksa. Air mengguyur tanah kering yang tak punya penahan. Sungai yang sempit mendadak naik. Parit-parit kecil berubah jadi arus liar.
Di wilayah timur, tempat kera membuka lahan, tanah tak lagi diikat akar. Maka ketika hujan menghantam, tanah meluncur. Longsor kecil terjadi. Batang-batang kayu yang ditumpuk hanyut, menabrak tepi sungai, memecah bendungan alami, lalu mengirim gelombang lumpur ke hilir.
Di hilir, sarang-sarang burung rendah terendam. Lubang-lubang kelinci runtuh. Anak-anak rusa terpisah dari induknya. Dan kawanan gajah, yang biasa menyeberang sungai di titik dangkal, mendadak terjebak oleh arus deras.
Gema meraung. Bukan raung marah—raung panik.
Kabar bencana itu membuat seluruh Rimba Wening berlari. Dewan Akar turun tangan bukan sebagai pembuat keputusan, melainkan sebagai penyelamat.
Serigala membentuk barisan untuk menarik hewan kecil keluar dari air. Kera, yang biasanya lincah, kali ini bergelantungan menolong burung yang hampir tenggelam. Lebah terbang rendah mencari bunga yang tersisa untuk menolong yang lapar. Lira berlari mencari anak-anak rusa yang hilang.
Di tengah kekacauan itu, Arwana berdiri di batu tinggi dekat sungai, memandang arus yang keruh.
Ia melihat semuanya jelas: bukan hanya bencana, melainkan rantai sebab-akibat yang selama ini ia peringatkan.
Dan saat ia menoleh, ia melihat Raka berdiri di bawah pohon yang setengah roboh, wajahnya pucat, matanya kehilangan percaya diri.
Raka berteriak melawan suara hujan, “Paduka! Aku… aku tidak menyangka!”
Arwana turun dari batu, berjalan mendekat, suaranya hampir tenggelam dalam deras air. “Rimba selalu memberi tanda,” katanya. “Kita saja yang memilih tidak membaca.”
Setelah hujan mereda, Rimba Wening seperti bangun dari mimpi buruk. Banyak yang selamat, tapi banyak pula yang kehilangan rumah. Wilayah timur berubah jadi luka besar. Sungai keruh selama berhari-hari, membuat ikan sulit bernapas.
Dalam keadaan seperti itu, biasanya rimba mencari kambing hitam. Dan semua mata sempat mengarah ke dua pihak: kera dan gajah.
“Kera yang menebang!” kata satu sisi.
“Gajah yang mengamuk!” kata sisi lain.
Arwana memanggil semua ke lapangan Dewan Akar. Di sana, ia tidak duduk di tempat tinggi. Ia duduk sejajar.
“Kalian boleh marah,” kata Arwana. “Kalian boleh sedih. Tapi jika kita hanya menunjuk, rimba tidak akan pulih.”
Serigala bertanya tajam, “Lalu apa yang Paduka sarankan? Hutan sudah telanjur rusak.”
Arwana menatap ke arah timur, lalu ke arah selatan tempat jalur gajah terpotong. “Kita akan melakukan dua hal: mengembalikan jalur tua dan menanam kembali yang hilang. Dan kita akan membuat aturan baru: siapa pun yang mengambil dari rimba, harus mengembalikan dengan jumlah yang sepadan, bukan dengan janji—dengan tindakan.”
Raka maju perlahan. Kali ini tidak dengan senyum. “Aku yang memulai semua,” katanya. “Aku ingin rimba maju, tapi aku membuat rimba luka. Aku siap… memperbaiki.”
Beberapa hewan mendengus sinis. Kepercayaan bukan benda yang bisa dibeli. Tapi Dewan Akar, khususnya Kura-kura Bima, berkata pelan: “Yang penting bukan siapa yang salah. Yang penting siapa yang mau menanggung kerja yang benar.”
Gema si gajah juga datang. Ia berdiri jauh, karena ia tahu banyak yang takut padanya. Tetapi ia menunduk, sebuah gestur yang jarang dilakukan makhluk sebesar itu.
“Jalurku terputus,” kata Gema. “Aku marah karena takut. Aku kehilangan anak kawanan yang terseret arus. Aku… tidak ingin ini terulang.”
Arwana mengangguk. “Tidak ada makhluk di rimba yang hidup sendirian,” katanya. “Ketika satu jalur putus, seluruh rimba tersandung.”
Dari hari itu, Rimba Wening memulai sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya: pemulihan bersama.
Kera-kera yang dulu menebang kini menjadi penanam. Mereka memanjat pohon tua yang tersisa untuk menyebar benih. Mereka belajar dari Lebah tentang bunga yang menahan tanah. Mereka belajar dari Kura-kura tentang kesabaran musim.
Serigala menjaga area muda agar tidak dirusak hewan lapar. Burung-burung membawa biji jauh ke tanah yang mulai mengeras. Rusa dan kijang membuat jalur-jalur kecil agar air mengalir pelan, tidak menghantam. Bahkan gajah, dengan berat tubuhnya, membantu meratakan tanah di titik tertentu agar jalur air tidak memotong liar.
Pemulihan tidak romantis. Tidak cepat. Tidak selalu terlihat “keren”.
Ada hari ketika benih mati karena panas. Ada minggu ketika hujan datang lagi dan merusak kerja. Ada saat ketika hewan-hewan bertengkar soal siapa yang bekerja lebih banyak.
Pada saat-saat itu, Arwana selalu mengulang kalimat yang sama:
“Mahkota rimba bukan di kepala raja. Mahkota rimba ada di akar—di hal-hal yang tidak terlihat tapi menahan segalanya.”
Raka mendengar kalimat itu berkali-kali. Dan perlahan, ia mengerti sesuatu yang dulu ia remehkan: pembangunan yang hanya mengejar hasil cepat adalah seperti membangun rumah di atas pasir—kelihatan jadi, tapi runtuh ketika musim berubah.
Suatu malam, setahun setelah hujan besar, Rimba Wening berkumpul lagi di lapangan Dewan Akar. Udara masih menyimpan luka, tapi di timur sudah ada hamparan hijau muda—belum hutan tua, tapi cukup untuk memberi harapan.
Lira, yang kini sudah lebih dewasa, berdiri dan bercerita kepada anak-anak hewan yang lahir setelah bencana.
“Dulu,” kata Lira, “kami pikir masalah rimba hanya soal siapa yang benar. Tapi ternyata masalah rimba adalah soal siapa yang mau mendengar—bahkan ketika mendengar itu membuat kita tak nyaman.”
Anak-anak itu bertanya, “Apakah rimba akan kembali seperti dulu?”
Burung Hantu Tua menjawab, “Tidak pernah sama. Tapi bisa menjadi bijak dengan cara yang baru.”
Arwana, yang kini lebih lemah, bangkit pelan. Ia menatap seluruh rimba: kera, gajah, serigala, burung, lebah, rusa, kura-kura. Ia menatap makhluk-makhluk yang dulu nyaris saling menyalahkan, kini saling mengandalkan.
“Kita pernah mengira rimba adalah milik kita,” kata Arwana. “Padahal kitalah milik rimba. Jika rimba jatuh, kita tidak punya lantai untuk berdiri. Jika sungai keruh, kita tidak punya cermin untuk melihat diri.”
Ia menghela napas, lalu menambahkan satu kalimat terakhir yang membuat semua terdiam:
“Mulai hari ini, setiap keputusan besar harus menjawab satu pertanyaan: apakah ini memperkuat akar, atau hanya memoles mahkota?”
Raka menunduk. Gema menutup mata. Serigala mengalihkan pandang, seolah menahan rasa malu. Lebah berdengung pelan, bukan sebagai kebisingan, melainkan seperti tanda setuju.
Dan sejak saat itu, di Rimba Wening, siapa pun boleh membangun. Siapa pun boleh mengambil. Tetapi tak seorang pun boleh lupa mengembalikan.
Karena rimba mengajarkan satu hal yang tak tertulis di batu maupun daun:
Kemajuan yang memotong akar akan selalu membuat mahkota retak—cepat atau lambat.
TAMAT
Moral fabel:
Kalau keputusan hanya mengejar hasil cepat dan mengabaikan keseimbangan, kerugian akhirnya dibayar bersama. Pemulihan mungkin lambat, tapi hanya itu jalan yang benar.




















