Surat Keputusan untuk Menebang Langit
Di sebuah benua jauh yang tanahnya merah seperti bata tua dan anginnya membawa aroma garam dari pesisir yang tak terlihat, ada satu wilayah yang disebut para penghuni sebagai Rimba Wira-Wiri. Hutan itu bukan sekadar pepohonan; ia adalah peta hidup. Akar-akar tua seperti urat nadi yang menahan tanah agar tidak lari. Burung-burung menggantungkan masa depan pada satu cabang yang sama dari tahun ke tahun. Serangga kecil menaruh seluruh peradabannya di bawah selembar kulit kayu.
Di tengah rimba, ada sebuah cekungan air yang disebut Danau Seru. Pada musim hujan, danau itu penuh dan ramai. Pada musim kemarau, danau menyusut, tapi selalu menyisakan cukup untuk semua—cukup untuk minum, cukup untuk bertahan, cukup untuk membuat rimba tetap bernapas.
Pemimpin rimba adalah seekor Kakatua tua bernama Banu. Bulunya tak lagi putih bersih; ada warna abu yang menetap seolah ia pernah melewati banyak kebakaran. Banu bukan pemimpin karena keras. Ia pemimpin karena hafal cerita: cerita tentang musim yang meleset, tentang tanah yang retak, tentang bencana yang selalu datang setelah manusia—atau hewan yang berperilaku seperti manusia—menganggap alam bisa ditandatangani di atas kertas.
Di Rimba Wira-Wiri, ada pula seorang pencatat: Kadal monitor bernama Sarka. Tugasnya menulis keputusan Dewan Rimba di atas kulit kayu kering, mengikatnya dengan serat pandan, lalu menyimpannya di gua batu yang dingin. Banyak hewan tidak peduli pada catatan. Mereka lebih percaya pada bau tanah, arah angin, dan bunyi sungai. Tapi belakangan, catatan Sarka menjadi sesuatu yang lebih menakutkan daripada raungan predator: karena catatan itu bisa mengubah peta hidup.
Sebab pada tahun ketika hujan datang terlambat dan pergi terlalu cepat, datanglah rombongan dari luar rimba: Kerbau Besi dan Rubah Kota.
Kerbau Besi tidak bertanduk. Ia punya roda. Rubah Kota tidak berburu. Ia berdiploma.
Mereka menyebut diri Serikat Gali.
Pemimpin Serikat Gali adalah Rubah Kota bernama Verno, bulunya rapi, suaranya lembut, matanya pintar memilih kata. Ia datang membawa gulungan kulit yang lebih putih daripada bulu bangau, dan di atasnya ada cap merah seperti darah kering.
“Ini adalah Surat Keputusan,” kata Verno di Balai Ranting—tempat hewan biasanya rapat ketika ada ancaman kebakaran atau wabah. “Surat ini menyatakan bahwa sebagian wilayah rimba… disetujui untuk dibuka. Bukan dihancurkan. Dibuka. Demi pembangunan, demi pekerjaan, demi masa depan.”
Kata masa depan selalu punya efek yang aneh. Ia bisa membuat yang lapar mendadak merasa sabar. Ia bisa membuat yang takut mendadak merasa berani. Ia juga bisa membuat yang bijak mendadak terlihat kolot.
Banu mengembangkan sayap, berdiri di batang pohon yang paling tinggi.
“Rimba bukan gudang kosong,” kata Banu. “Rimba adalah rumah berlapis-lapis. Jika satu lapis kau ambil, lapis lain ikut runtuh.”
Verno tersenyum seperti seseorang yang sudah menyiapkan jawaban sebelum pertanyaan keluar.
“Kami punya studi,” kata Verno. “Kami punya peta. Kami hanya ambil sebagian. Lagi pula, sudah ada izin. Sudah… disetujui.”
Kata disetujui itu jatuh ke tanah seperti palu.
Beberapa hewan menoleh ke Sarka, sang pencatat. Sarka tidak bicara. Ia hanya menatap gulungan putih itu dengan mata yang mengkilap. Ia tahu, tulisan bisa lebih tajam daripada gigi.
Di sudut rapat, ada seekor Quoll utara bernama Nilo—seekor predator kecil bermotif bintik, lincah, dan terkenal sebagai penjaga celah-celah batu. Nilo tidak punya kuasa bicara besar. Suaranya kecil. Tapi ia punya satu kelebihan: ia tahu mana batu yang menahan tebing, mana akar yang menahan tanah.
Nilo berbisik pada dirinya sendiri, “Kalau mereka buka wilayah timur… itu jalur malam kami.”
Tak ada yang mendengar bisikannya. Atau tepatnya, banyak yang mendengar—tapi memilih menganggap bisikan itu tidak penting. Seperti biasa, yang kecil selalu dianggap detail.
1) Bulldozer yang Belajar Mengunyah
Pembukaan lahan dimulai dari timur. Kerbau Besi menggulung semak, menelan akar, mematahkan batang-batang muda. Suara mesin menyerupai guntur tanpa hujan—guntur yang tidak memberi berkah.
Pada minggu pertama, Serikat Gali menebang pohon-pohon besar yang berdiri seperti tiang langit. Mereka menumpuk kayu, menandai tanah, dan membuat jalur lebar yang disebut “akses”.
Pada minggu kedua, debu mulai menutupi daun-daun. Serangga kehilangan arah. Burung-burung kehilangan cabang. Pada minggu ketiga, Nilo menemukan sesuatu yang membuat bulunya berdiri: sarang burung tanah yang hancur, telur-telur pecah seperti bulan kecil yang diinjak.
Nilo berlari ke Balai Ranting dan bicara di hadapan Dewan.
“Wilayah timur bukan tanah kosong,” katanya. “Di sana ada jalur makan, jalur kawin, jalur pulang. Kalau itu hilang, kami tidak pindah—kami lenyap.”
Beberapa hewan menghela napas. Beberapa menatap ke lain arah. Verno tidak hadir; ia terlalu sibuk menandatangani peta baru.
Banu menatap Nilo lama, lalu berkata, “Aku dengar. Tapi untuk membuat mereka berhenti, kita butuh lebih dari sekadar suara kita.”
“Lalu apa?” Nilo menahan marah.
Banu menjawab pelan, “Kita butuh rimba menunjukkan sendiri akibatnya.”
Nilo tidak suka jawaban itu. Kedengarannya seperti menunggu bencana.
2) Air Menjadi Uang
Setelah sebulan, perubahan paling terasa bukan pada pemandangan, melainkan pada air.
Danau Seru menyusut lebih cepat. Biasanya, akar-akar pohon tua menahan air hujan agar meresap perlahan. Tapi ketika banyak pohon hilang, tanah seperti piring licin. Hujan yang datang singkat tidak masuk ke perut bumi—ia lari membawa lumpur. Danau jadi keruh. Sungai kecil yang memberi makan danau berubah jadi garis tipis.
Pada suatu pagi, Dewan Rimba menerima kabar dari barat: koloni hewan di dataran rendah mulai kekurangan air. Mereka bergantung pada aliran dari Danau Seru.
“Kalau danau turun lagi,” kata seekor Kijang betina yang memimpin rombongan barat, “anak-anak kami tidak akan bertahan kemarau.”
Banu memanggil Sarka, sang pencatat, dan mengirim surat ke Serikat Gali. Tapi Serikat Gali menjawab dengan cara yang paling menyakitkan: mereka tidak menjawab.
Sebagai gantinya, Verno mengadakan “pertemuan solusi” dan memperkenalkan tokoh baru: Berang-berang bernama Keba.
Keba terkenal sebagai insinyur air. Ia bisa membuat bendungan kecil yang menciptakan kolam-kolam teduh. Banyak hewan memuji kerajinannya. Dan Verno tahu: kalau ingin kebijakan terlihat “ramah lingkungan”, tampilkan berang-berang.
“Kita tidak akan krisis air,” kata Verno dengan suara penuh keyakinan. “Kita akan kelola air. Keba akan membangun bendungan-bendungan pengatur. Air akan tertahan saat hujan, dilepas saat kemarau. Semua aman.”
Sebagian hewan bertepuk tangan. Mereka lelah cemas. Mereka ingin tombol “aman”.
Nilo menatap Keba. Ia pernah melihat bendungan Keba yang kecil dan baik. Tapi kali ini, Verno berbicara seolah bendungan adalah jawaban untuk semua. Nilo mencium bau yang tidak enak: bau “menutupi lubang dengan poster”.
Banu berkata, “Bendungan boleh. Tapi harus sesuai sungai. Jangan menjadikan air alat tawar-menawar.”
Verno mengangguk cepat, seperti orang yang bilang iya sambil tetap jalan.
3) Bendungan yang Membuat Tetangga Pecah
Bendungan pertama dibangun di Sungai Lintik—anak sungai yang mengalir ke Danau Seru. Bendungan itu lebih besar dari biasanya. Kayu-kayu disusun rapat, batu ditumpuk, dan aliran air berubah.
Di atas bendungan, kolam terbentuk. Beberapa hewan bersorak karena air terlihat banyak.
Di bawah bendungan, aliran mengecil. Wilayah barat semakin kesulitan. Mereka datang protes.
“Bendungan itu menahan air kami!” teriak seekor Wallaby tua.
Keba, si berang-berang, menjelaskan dengan sabar, “Aku menahan agar tidak habis cepat. Nanti saat kemarau, aku lepas.”
Tapi manusia—atau hewan yang meniru manusia—selalu punya satu masalah: mereka tidak percaya pada kata “nanti” ketika tenggorokan mereka kering sekarang.
Protes berubah jadi pertengkaran. Pertengkaran berubah jadi saling tuduh. Dan pada titik itulah, Verno menemukan kambing hitam yang sempurna.
“Masalahnya bukan pembukaan lahan,” kata Verno di rapat, “masalahnya bendungan berang-berang. Kita butuh aturan jelas kapan bendungan boleh dibongkar, siapa yang memutuskan, dan bagaimana komunikasinya. Kita akan buat prosedur.”
Sarka mencatat kata-kata itu. Banu mendengar. Nilo merasa muak.
Karena Nilo tahu: bendungan itu hanya gejala. Penyakitnya adalah hutan yang bolong.
Namun, perhatian rimba terlanjur tersedot ke drama bendungan. Banyak hewan seperti menemukan musuh yang mudah dipahami: “si pembangun bendungan”.
Keba menjadi target kemarahan. Padahal Keba membangun karena diminta, karena dijanjikan bendungan akan menyelamatkan semua.
Keba pulang ke sarangnya dengan punggung terasa berat. Ia berkata pada pasangan dan anak-anaknya, “Aku cuma ingin air bertahan.”
Pasangannya menjawab, “Tapi mereka melihat bendunganmu, bukan pohon yang sudah hilang.”
Itulah cara dunia bekerja: manusia sering menyalahkan hal yang terlihat, bukan hal yang disetujui di belakang meja.
4) Surat Keputusan Kedua
Ketika konflik bendungan memuncak, Serikat Gali diam-diam mengeluarkan Surat Keputusan kedua. Wilayah pembukaan lahan diperluas. Kali ini mendekati habitat hewan malam, termasuk Nilo.
Sarka menemukan surat itu dari seorang burung pengantar yang gemetar ketakutan. Cap merahnya lebih besar. Bahasanya lebih “halus”. Tapi maknanya sama: lebih banyak tanah akan “dibuka”.
Banu memanggil rapat darurat.
“Kita tidak bisa terus dialihkan,” kata Banu. “Masalah utama adalah tanah yang dibuldozer.”
Banyak hewan menolak percaya. Mereka bilang, “Tapi Verno bilang aman.” Mereka bilang, “Ada bendungan.” Mereka bilang, “Ada prosedur.”
Nilo berdiri dan mengangkat satu benda: sepotong kulit kayu dari pohon tua yang tumbang, penuh jamur dan debu.
“Ini prosedur kalian?” kata Nilo. “Pohon tua ini menahan air lebih baik dari seribu rapat.”
Suasana hening. Tapi hening tidak selalu berarti setuju. Kadang hening berarti bingung, kadang berarti takut.
5) Kemarau yang Tidak Meminta Izin
Kemarau datang seperti penagih hutang.
Hari demi hari, matahari menggigit. Danau Seru turun ke titik yang tidak pernah dicapai dalam ingatan Banu. Di wilayah barat, hewan-hewan menggali tanah mencari sisa lembap. Di wilayah timur, debu beterbangan seperti asap kebakaran yang tidak kelihatan.
Verno mengadakan rapat lagi.
“Kita harus menghemat,” katanya. “Kita mulai pembatasan air. Semua harus patuh.”
Banu menatap Verno. “Patuh pada apa? Pada suratmu? Pada rencana yang membuat danau sekarat?”
Verno tersenyum tipis, kali ini tanpa hangat. “Pada kenyataan.”
Lalu ia menunjuk Keba. “Bendungan harus diatur ulang. Mungkin dibongkar sebagian.”
Keba kaget. “Kalau dibongkar sekarang, air di atas akan habis cepat. Tapi di bawah akan banjir lumpur.”
Verno mengangkat bahu. “Kita butuh hasil cepat.”
Hasil cepat. Kata itu lagi. Kata yang selalu menang melawan kata “jangka panjang”.
Di malam yang panas, beberapa hewan barat diam-diam pergi ke bendungan Keba. Mereka membawa gigi, cakar, dan marah. Mereka berniat merobohkan bendungan sendiri.
Keba terbangun oleh suara kayu retak. Ia berlari, berteriak, “Jangan! Kalau kalian hancurkan malam ini—”
Terlambat. Sebagian bendungan jebol.
Air yang tertahan mengalir deras, membawa lumpur dan ranting, menabrak tepi sungai yang sudah rapuh. Ikan-ikan kecil terlempar. Tepi sungai runtuh.
Di pagi hari, barat tidak mendapat air jernih. Mereka mendapat air keruh yang membuat perut sakit. Dan kolam di atas bendungan menyusut cepat—lebih cepat daripada sebelumnya.
Keba duduk di tepi sungai, matanya merah. Ia tidak marah pada mereka. Ia marah pada sistem yang membuat mereka saling membenci.
6) Badai yang Membayar Semua Tagihan
Ketika semua merasa ini sudah buruk, alam menunjukkan bab berikutnya: hujan.
Tapi hujan yang datang bukan hujan yang menyelamatkan. Itu hujan yang menghukum.
Awan gelap berkumpul. Dalam satu malam, air turun deras. Tanah yang sudah gundul tidak bisa menyerap. Air lari di permukaan, membawa debu, membawa sisa galian, membawa racun dari perut bumi yang terpapar.
Danau Seru yang sudah rendah tidak punya “ruang” untuk menampung arus liar. Sungai-sungai kecil berubah jadi ular besar.
Di wilayah pembukaan lahan, gundukan tanah bekas galian amblas. Ada lubang-lubang yang terbuka, memakan apa saja yang lewat.
Nilo berlari menjemput anak-anak quoll dari celah batu. Ia menggendong satu, menarik satu, mendorong satu. Di belakangnya, arus lumpur mengejar. Ia mendengar jeritan. Ia tidak sempat menoleh.
Banu terbang rendah, memandu kawanan burung menjauh. Sayapnya basah dan berat. Ia melihat dari atas: jalur pembukaan lahan menjadi aliran cokelat yang memotong rimba seperti luka.
Keba mencoba memperkuat sisa bendungan agar tidak pecah total. Tapi arus terlalu kuat. Kayu-kayu yang dulu ia susun rapi kini seperti korek api.
Pada puncak badai, bendungan runtuh sepenuhnya. Air dan lumpur menghempas barat. Sarang-sarang hanyut. Batu-batu terguling. Dan ketika semuanya reda, Danau Seru tidak menjadi penuh. Ia menjadi kolam cokelat yang berbau pahit.
Rimba Wira-Wiri terdiam—bukan karena damai, tapi karena shock.
7) Siapa yang Disetujui untuk Hilang?
Beberapa hari setelah badai, Dewan Rimba berkumpul di Balai Ranting yang setengah rusak.
Nilo datang dengan tubuh penuh goresan. Matanya kosong. Ia kehilangan dua anak muda dari koloninya. Mereka tidak ditemukan. Mungkin hanyut. Mungkin tertimbun.
Banu menatap Nilo, lalu menatap semua hewan.
“Kita harus bicara tentang satu pertanyaan,” kata Banu. “Siapa yang disetujui untuk hilang?”
Semua menunduk. Pertanyaan itu memalukan karena jawabannya terlihat di mana-mana: biasanya yang kecil, yang tidak punya suara, yang habitatnya dianggap pinggiran.
Sarka, sang pencatat, mengeluarkan dua Surat Keputusan yang disimpan. Ia menaruhnya di tengah rapat.
“Ini yang mengubah rimba,” kata Sarka. “Dua lembar putih. Dua cap merah.”
Verno hadir—kali ini tanpa senyum. Bulunya basah, matanya lelah. Ia kehilangan gudang peralatannya. Kerbau Besi rusak. Serikat Gali rugi.
“Kalian lihat?” kata Verno, mencoba bertahan. “Badai ini musibah. Tidak ada yang bisa prediksi.”
Nilo menatap Verno, suaranya tenang tapi tajam. “Musibah itu hujan. Tapi bencana itu keputusanmu.”
Hening.
Keba berdiri, menahan gemetar. “Aku dibenci karena bendungan,” katanya. “Tapi bendunganku tidak pernah akan sebesar itu kalau hutan tidak dilubangi dulu. Aku hanya plester di dinding yang kalian runtuhkan.”
Kijang barat menutup mulutnya. Ia ingin membantah, tapi ia ingat ia sendiri yang pernah datang dengan marah di malam pembongkaran. Ia ingat, ia membongkar karena takut. Dan ketakutan sering dipelihara oleh pihak yang ingin kita sibuk berkelahi.
Banu mengangguk. “Kita semua ikut salah,” kata Banu. “Karena kita membiarkan perhatian kita dipindahkan. Kita bertengkar soal bendungan, sementara langit ditebang.”
Kalimat itu membuat banyak hewan merinding, karena benar: ketika pohon ditebang, seolah langit ikut jatuh.
8) Dewan Air dan Dewan Tanah
Rimba Wira-Wiri akhirnya membuat perubahan yang tidak pernah terjadi sebelumnya: menghapus kekuasaan tunggal surat cap merah.
Mereka membentuk dua dewan:
- Dewan Tanah, yang berisi wakil hewan hutan, hewan kecil, dan penjaga akar—tugasnya mengawasi pembukaan lahan dan memastikan tidak ada satu proyek pun mengorbankan jalur hidup spesies yang paling rentan.
- Dewan Air, yang berisi Keba dan para ahli sungai dari berbagai spesies—tugasnya bukan membangun bendungan besar, tetapi memulihkan daya serap tanah, membuat kolam-kolam kecil, menata aliran, dan menyepakati komunikasi jika ada bendungan yang mengganggu.
Sarka menjadi pencatat resmi, tapi kali ini catatan tidak hanya disimpan—catatan dibacakan untuk semua, supaya tidak ada keputusan yang diam-diam.
Verno dipaksa memilih: ikut aturan dewan atau pergi. Serikat Gali, yang awalnya arogan, kini terpojok oleh kenyataan bahwa proyek mereka membawa bencana, bukan masa depan.
Verno akhirnya berkata, “Kalau aku pergi… kalian tetap butuh makanan, butuh pekerjaan.”
Banu menjawab, “Kami butuh rimba hidup dulu. Setelah itu baru bicara pekerjaan.”
Nilo menambahkan, “Kalau rimba mati, pekerjaanmu pun tidak ada.”
Itu kalimat sederhana, tapi memotong semua retorika.
9) Menanam Kembali Hal yang Tidak Bisa Dibeli
Pemulihan dimulai bukan dari rapat, tapi dari tindakan kecil.
Mereka menutup lubang-lubang galian. Mereka menanam pohon penahan air di tepi sungai. Mereka membuat “koridor malam” untuk Nilo dan koloninya—jalur semak dan batu yang aman agar quoll bisa bergerak tanpa menyeberang tanah terbuka.
Keba berhenti membangun bendungan raksasa. Ia justru membangun bendungan kecil-kecil yang banyak, seperti jari-jari yang menahan air tanpa mencekik sungai. Ia juga membuat sistem tanda: jika air naik tinggi, semua hewan diberi sinyal—supaya tidak ada lagi pembongkaran diam-diam di malam panas.
Kijang barat, yang dulu memimpin protes, kini jadi pengawas komunikasi: setiap keputusan air harus diumumkan, bukan dibisikkan.
Sarka mencatat semuanya, tapi kini cap merah bukan lagi simbol menang. Cap merah menjadi simbol peringatan: “Jangan ulangi.”
Musim berganti. Danau Seru tidak langsung pulih. Air butuh waktu. Tanah butuh waktu. Kepercayaan butuh lebih lama.
Namun ada satu perubahan yang terasa cepat: rimba mulai kembali mendengar suara yang dulu hilang—suara serangga, suara burung muda, suara langkah kecil Nilo di malam hari.
10) Retak yang Sengaja Dipelihara
Di Balai Ranting, dua Surat Keputusan lama tidak dibakar. Mereka digantung di dinding, dalam bingkai kayu yang retak.
“Kenapa tidak dibuang?” tanya seekor anak wallaby suatu hari.
Banu, yang kini makin tua, menjawab, “Karena ingatan adalah pagar terbaik.”
Nilo menambahkan, “Kalau kita buang, kita bisa pura-pura ini tidak pernah terjadi. Padahal yang hilang tidak bisa kembali.”
Keba berkata pelan, “Dan kalau kita lupa, kita akan saling menyalahkan lagi… sementara hutan kembali dibuldozer.”
Anak wallaby itu menatap bingkai retak, lalu menatap danau yang mulai sedikit jernih.
“Jadi moralnya apa?” tanya dia.
Banu tersenyum tipis.
“Moralnya,” kata Banu, “kalau ada yang datang membawa cap merah dan bilang semuanya aman, tanyakan tiga hal:
airnya dari mana, tanahnya ditahan oleh apa, dan siapa yang paling kecil yang harus menanggung akibatnya.”
Dan sejak hari itu, Rimba Wira-Wiri tidak lagi percaya pada satu lembar kertas lebih daripada pada akar.
Karena mereka pernah belajar, dengan cara paling mahal: langit bisa ditebang jika semua orang terlalu sibuk bertengkar soal bendungan.




















