Cap Merah di Atas Akar

Di tanah yang kemerahannya seperti bara yang sudah lama padam, ada sebuah bentang rimba yang tidak pernah merasa perlu bernama. Para penghuni menyebutnya sekadar Rumah. Sebab kalau kau lahir di dalam akar, di bawah kanopi yang menutup matahari seperti atap tua, apa lagi yang lebih penting selain rumah?

Namun, bagi mereka yang datang dari luar, rimba itu diberi nama di atas peta: Wilayah Sektor 9. Nama yang terdengar seperti nomor pada kotak-kotak gudang. Nama yang membuat pepohonan seolah benda simpanan. Nama yang membuat sarang-sarang menjadi catatan kecil yang bisa dipindahkan.

Rimba Rumah dipimpin oleh seekor burung tua, Kakatua bernama Banu, yang bulunya pernah seputih awan, sebelum musim-musim panas membuat tepinya berubah seperti abu. Banu bukan pemimpin karena ia paling gagah. Ia pemimpin karena ia paling lama tinggal, paling sering melihat rimba berubah, dan paling sadar bahwa perubahan tidak selalu berarti kemajuan—sering kali hanya berarti kehilangan yang dibungkus kata-kata rapi.

Di Rimba Rumah, setiap makhluk punya jalur. Bukan jalur yang digambar di peta, melainkan jalur yang digambar di ingatan: jalur kelelawar menuju gua, jalur kasuari menuju buah masak, jalur semut menuju sumber air, dan jalur hewan malam yang jarang terlihat tapi paling setia pada gelap.

Salah satu hewan malam itu adalah Quoll Utara bernama Nilo—seekor pemangsa kecil bermotif bintik, cepat seperti bayangan, dan punya mata yang selalu memindai celah-celah. Nilo bukan tokoh yang sering muncul di rapat. Ia tidak suka keramaian. Tapi ia mengerti sesuatu yang sering dilupakan hewan besar: kalau jalur-jalur kecil putus, rimba tidak mati mendadak. Ia mati perlahan, dengan cara yang membuat semua orang terlambat sadar.

Rimba Rumah juga punya seorang pencatat. Bukan karena mereka suka birokrasi, tetapi karena Banu percaya: memori rimba perlu disimpan, agar tidak dikalahkan oleh cerita yang dibuat-buat. Pencatat itu adalah Kadal Monitor bernama Sarka, yang menulis keputusan Dewan Rimba di atas kulit kayu kering dan menyimpannya di celah batu.

Di dalam rimba, aturan hidup sederhana: ambil secukupnya, lalu tinggalkan cukup untuk esok.

Di luar rimba, aturan hidup berbeda: ambil sebanyak mungkin, lalu cari alasan agar terlihat wajar.

1) Kedatangan Surat dan Cap Merah

Suatu hari, ketika matahari terasa terlalu dekat dan angin bergerak seperti napas panas, rimba mendengar suara asing: bukan suara guntur, bukan suara kawanan, melainkan suara besi yang bergesekan dengan batu. Dari tepi rimba, datang rombongan yang membuat tanah bergetar pelan.

Mereka dipimpin oleh Rubah Kota bernama Verno, berbulu rapi, beraroma tinta dan logam, membawa gulungan putih yang ditahan dengan pita. Di belakangnya ada Kerbau Besi—mesin besar bermulut baja, yang bagi penghuni rimba tampak seperti hewan tanpa mata yang belajar makan pohon.

Verno mengundang semua hewan ke Balai Ranting, sebuah tempat terbuka di bawah pohon tua yang cabangnya besar seperti lengan raksasa.

“Aku datang membawa kabar baik,” kata Verno, suaranya halus seperti air yang mengalir di tepi batu. “Pusat telah menyetujui pembukaan sebagian rimba untuk proyek Serikat Gali. Hanya sebagian. Demi pekerjaan, demi masa depan.”

Ia membuka gulungan putih itu. Di sana ada tulisan rapat, ada garis-garis peta, dan di bawahnya—yang paling mencolok—ada cap merah bundar, seperti mata yang tidak berkedip.

Beberapa hewan bergidik tanpa tahu kenapa. Cap merah itu terasa seperti sesuatu yang tidak bisa digigit, tidak bisa diusir, dan tidak bisa diperdebatkan oleh cakar.

Banu mengepak pelan dan berdiri di cabang paling rendah agar suaranya dekat.

“Rimba ini bukan gudang kosong,” kata Banu. “Kalau kalian membuka ‘sebagian’, kalian mengubah ‘keseluruhan’. Pohon yang tumbang bukan cuma kayu. Ia penahan air, penahan tanah, penahan hidup.”

Verno tersenyum, seakan kalimat Banu sudah ia duga.

“Semua sudah dikaji,” kata Verno. “Ada batas. Ada kompensasi. Lagi pula… sudah disetujui.”

Kata itu jatuh berat. Disetujui. Seperti palu yang memaksa diskusi selesai bahkan sebelum dimulai.

Nilo berdiri di pinggir kerumunan. Ia tidak bicara. Ia hanya memandang peta. Peta itu seperti kulit rimba yang disayat garis-garis. Dan Nilo tahu, garis pada peta tidak peduli pada sarang di bawahnya.

Di samping Nilo, ada Keba—seekor Berang-berang muda yang terkenal pandai mengatur aliran air. Keba sering membuat bendungan kecil yang menahan air cukup untuk musim panas tanpa mencekik sungai. Ia memandang peta itu dengan ragu.

“Kalau mereka buka wilayah timur,” bisik Nilo pada Keba, “itu jalur malamku. Itu juga daerah resapan air. Danau akan turun.”

Keba ingin membalas, tapi suara tepuk tangan muncul dari beberapa hewan muda yang tergoda janji pekerjaan dan “kompensasi buah” dari luar. Tepuk tangan itu terdengar seperti hujan palsu: ramai, tapi tidak menumbuhkan apa pun.

2) Mulut Baja Mulai Mengunyah Langit

Hari pertama pembukaan lahan, Kerbau Besi bergerak masuk seperti makhluk lapar. Mulut bajanya menggigit semak, menelan akar, mematahkan batang. Suara patahan itu seperti tulang raksasa. Burung-burung terbang liar. Serangga panik. Tanah yang biasanya tenang mendadak ramai oleh kebisingan.

Verno berdiri di pinggir jalur baru dan berbicara pada para pekerja Serikat Gali—kawanan babi hutan dan rubah-rubah muda yang mengikuti prosedur.

“Pastikan sesuai peta,” kata Verno. “Jangan melenceng.”

Seolah peta adalah moral.

Dalam seminggu, tepi rimba berubah jadi luka panjang. Dalam dua minggu, debu menempel di daun seperti bedak kasar. Dalam sebulan, Nilo kehilangan tiga tempat persembunyian utama—celah batu yang dulu terhubung oleh semak dan akar.

Yang paling menyakitkan bukan kehilangan tempat, melainkan kehilangan pola. Ketika pola hilang, perburuan jadi kacau, anak-anak muda jadi tersesat, dan hewan malam mulai muncul di siang hari karena lapar. Ketika hewan malam muncul di siang hari, mereka lebih mudah ditangkap—oleh predator besar, atau oleh jebakan manusia yang selalu datang setelah jalan dibuka.

Banu mengumpulkan Dewan Rimba.

“Kita harus menghentikan ini,” kata Banu.

Sarka, sang pencatat, membuka catatan lama tentang musim kebakaran dan banjir.

“Kalau tepi rimba dibuka, tanah akan kehilangan pegangan,” kata Sarka. “Kalau hujan deras datang setelah kemarau panjang, air akan membawa lumpur dan menutup sungai. Danau akan keruh.”

Banu mengangguk. Itu bukan ramalan. Itu matematika alam.

Namun, Serikat Gali tidak berhenti. Mereka punya cap merah. Dan cap merah lebih keras daripada logika rimba.

3) Air Turun, Marah Naik

Kekeringan mulai terasa. Danau Seru—cekungan air yang jadi nadi rimba—menyusut lebih cepat dari biasanya. Banu memperhatikan tanda-tanda: garis air di batu makin turun, rumput di tepi danau menguning, dan beberapa sumber kecil mulai hilang.

Di wilayah barat, kawanan kijang dan wallaby harus berjalan lebih jauh untuk minum. Mereka mulai bertengkar dengan penghuni wilayah tengah. Bukan karena mereka jahat, tetapi karena air membuat siapa pun menjadi egois ketika takut.

Verno mengadakan “pertemuan solusi”, kali ini dengan gaya lebih ramah.

“Kita tidak ingin krisis air,” kata Verno. “Kita akan mengelola air dengan lebih baik. Keba, berang-berang kita, akan membantu.”

Keba dipanggil maju. Semua mata tertuju padanya. Ia merasa dadanya berat—ia senang dipercaya, tapi ia curiga dipercaya untuk menutup kesalahan orang lain.

“Kita bisa membuat bendungan-bendungan kecil untuk menahan air saat hujan, lalu melepasnya saat kering,” kata Keba, hati-hati. “Tapi bendungan bukan pengganti pohon. Kita harus pulihkan resapan air juga.”

Verno tersenyum lebih lebar pada kata “bendungan”, tapi mengabaikan kata “pohon”.

“Bagus,” kata Verno. “Kita fokus bendungan dulu.”

Mulailah bendungan pertama. Bukan bendungan kecil khas berang-berang, tapi struktur besar yang dibantu tenaga Serikat Gali. Air tertahan. Kolam tampak penuh. Beberapa hewan bersorak karena melihat air “tersimpan”.

Namun, di hilir, aliran mengecil. Wilayah barat makin kesulitan. Protes muncul.

Dan seperti biasa, masalah yang terlihat—bendungan—jadi sasaran kemarahan. Sementara sebab yang lebih besar—hutan yang dibuka—dibicarakan sebagai “urusan izin”.

Keba mulai dibenci. Padahal ia hanya disuruh menambal.

Nilo mendatangi Keba pada malam hari.

“Mereka akan menyalahkanmu,” kata Nilo. “Dan saat mereka sibuk membencimu, Verno akan membuka wilayah baru.”

Keba menunduk. “Aku hanya ingin menahan air.”

Nilo menjawab, “Menahan air itu baik kalau tanah masih hidup. Kalau tanah sudah terluka, air yang kau tahan bisa berubah jadi monster.”

4) Cap Merah Kedua

Kecurigaan Nilo terbukti. Suatu pagi, Sarka menemukan gulungan baru—surat baru dengan cap merah lebih besar. Wilayah pembukaan lahan diperluas. Alasannya lebih halus: “optimalisasi”, “efisiensi”, “kepentingan umum”.

Banu menatap surat itu lama. Bulu di tengkuknya mengembang.

“Ini bukan lagi sebagian,” kata Banu. “Ini pola.”

Nilo akhirnya bicara dalam rapat besar. Suaranya tidak keras, tapi ia bicara seperti cakar: tepat.

“Kalau jalur malam kami putus total, kami lenyap. Kalau kami lenyap, tikus meningkat. Kalau tikus meningkat, benih habis. Kalau benih habis, hutan tidak punya generasi baru. Kalian akan melihat rimba ini seolah tetap ada—tapi ia menua tanpa anak.”

Beberapa hewan tersentak. Mereka baru menyadari: hilangnya satu spesies bukan berita sedih saja. Ia mengubah semua.

Banu menambahkan, “Rimba bukan daftar barang. Ia jaring.”

Namun Verno tetap menganggap ini negosiasi angka.

“Kita punya rencana mitigasi,” kata Verno. “Kita bisa membuat area pengganti.”

Nilo menatap Verno. “Apa kau bisa mengganti malam?” tanya Nilo. “Apa kau bisa mengganti jalur bau, jalur angin, jalur ingatan?”

Verno terdiam sebentar—bukan karena memahami, tapi karena tidak punya kalimat PR untuk itu.

5) Badai yang Tidak Meminta Izin

Kemarau panjang membuat semua tegang. Lalu, seperti penutup drama, hujan datang—tapi bukan hujan penyelamat. Hujan datang dalam satu malam, deras seperti pintu langit dibuka paksa.

Tanah yang gundul tidak bisa menyerap. Air lari di permukaan, membawa debu, membawa serpihan, membawa lumpur. Sungai-sungai kecil yang dulu jinak berubah liar.

Bendungan besar yang dibuat untuk “mengatur” air mendadak harus menghadapi arus yang tidak kenal rapat. Kayu-kayu berderit. Batu-batu tergeser. Keba berlari ke bendungan, mencoba menambal.

“Kita harus buka sedikit agar tekanan turun!” teriak Keba.

Tapi beberapa hewan barat, yang sudah marah berbulan-bulan, datang dengan niat berbeda: mereka ingin merobohkan bendungan sepenuhnya, agar air “kembali ke mereka”. Dalam kepanikan, logika mudah runtuh.

Malam itu, dua hal terjadi bersamaan: hujan makin deras, dan bendungan rusak. Air tertahan tidak turun pelan; ia turun seperti hewan besar yang dilepas tanpa kendali.

Banjir lumpur menyapu hilir. Sarang hanyut. Lubang-lubang galian di wilayah pembukaan lahan amblas, menciptakan perangkap besar yang menelan apa saja yang lewat.

Nilo berlari mengevakuasi anak-anak quoll. Ia menggendong satu, menarik satu, mendorong satu. Tapi arus terlalu cepat. Dua anak muda hilang dalam gelap—bukan karena predator, melainkan karena tanah yang kehilangan pegangan.

Saat pagi datang, rimba tidak jadi lebih hijau. Ia jadi lebih cokelat. Danau Seru tidak jadi penuh; ia jadi keruh dan berbau pahit. Ikan mengapung. Air ada, tapi tidak bisa diminum.

Banu melihat dari cabang pohon tua, matanya basah. “Inilah yang terjadi ketika cap merah mengalahkan akar,” gumamnya.

6) Rapat di Atas Puing

Balai Ranting setengah rusak. Semua berkumpul. Tak ada tepuk tangan. Tak ada senyum. Bahkan Verno kehilangan sebagian alat Serikat Gali—jalan yang mereka banggakan runtuh di beberapa titik.

Verno mencoba bertahan dengan kalimat yang terdengar seperti pembelaan.

“Ini bencana alam,” katanya. “Tak ada yang bisa memprediksi.”

Nilo berdiri. Suaranya tidak marah; justru itu yang membuatnya menakutkan.

“Musibah itu hujan,” kata Nilo. “Bencana itu keputusan.”

Hening turun seperti selimut berat.

Keba maju, bulunya kusut. “Aku disalahkan karena bendungan,” katanya. “Padahal bendungan ini dibesarkan untuk menutupi lubang yang dibuat pembukaan lahan. Aku membangun karena diminta. Tapi aku belajar: membangun tanpa berani menolak adalah bentuk lain dari ikut merusak.”

Sarka membuka catatan. Ia membacakan angka-angka: luasan yang dibuka, jumlah sarang hilang, sumber air yang mati. Ia tidak punya angka persis seperti manusia, tapi ia punya cukup untuk membuat semua paham: ini bukan kebetulan. Ini akumulasi.

Banu kemudian mengambil dua surat bercap merah dan menaruhnya di tengah balai.

“Ini yang kalian sebut ‘disetujui’,” kata Banu. “Sekarang lihat hasil persetujuan itu.”

Verno menatap cap merah itu seperti menatap luka yang ia sendiri buat.

“Apa yang kalian mau?” tanya Verno akhirnya. “Aku tidak bisa memutar waktu.”

Banu menjawab, “Kami tidak minta waktu diputar. Kami minta cara berpikir dibalik: dari ‘berapa yang bisa diambil’ menjadi ‘berapa yang harus ditinggalkan’.”

7) Dewan Tanah dan Dewan Air

Rimba Rumah lalu membuat keputusan terbesar dalam sejarah mereka: tidak ada lagi satu surat cap merah yang bisa mengubah segalanya tanpa suara semua makhluk.

Mereka membentuk dua dewan:

  1. Dewan Tanah, dipimpin Banu dan Sarka, berisi wakil hewan kecil, hewan tanah, dan penjaga akar. Tugasnya memastikan: tidak ada pembukaan lahan yang memutus koridor hidup spesies paling rentan—terutama hewan malam seperti quoll yang jalurnya tidak terlihat di siang hari.
  2. Dewan Air, dipimpin Keba, berisi hewan sungai, burung air, dan penggali tanah. Tugasnya bukan membuat bendungan besar, melainkan memulihkan resapan: menanam vegetasi tepi sungai, membuat kolam-kolam kecil yang banyak, memperbaiki tanah agar air masuk ke bumi, bukan lari di permukaan.

Kijang barat—yang dulu paling marah—ditunjuk jadi penghubung komunikasi. Aturannya tegas: jika ada tindakan pada bendungan atau aliran, semua wilayah harus diberi tahu. Tidak ada lagi pembongkaran diam-diam.

Serikat Gali dipaksa menghentikan pembukaan baru. Mereka diminta ikut menutup lubang, menanam kembali, dan membangun penghalang erosi. Verno protes—tapi suaranya kini tidak punya sihir. Cap merahnya sudah terlihat busuk.

8) Menanam Hal yang Tidak Bisa Dibeli

Pemulihan tidak instan. Rimba bukan tembok. Ia tidak bisa dipasang ulang.

Nilo memimpin pembuatan “koridor malam”—jalur semak dan batu yang aman agar quoll bisa bergerak tanpa melewati tanah terbuka. Keba membuat bendungan kecil-kecil, bukan untuk menguasai sungai, tapi untuk menahan air cukup lama agar meresap.

Sarka menulis semua keputusan, tapi kali ini catatan dibacakan tiap bulan agar tidak ada yang bisa bermain kata.

Dan Banu melakukan sesuatu yang aneh: ia menggantung dua surat cap merah di dinding Balai Ranting, dalam bingkai kayu yang retak.

Seorang anak wallaby bertanya, “Kenapa tidak dibakar saja? Itu membuatku takut.”

Banu menjawab, “Karena ingatan adalah pagar terbaik. Kalau kita buang, kita bisa pura-pura ini tidak pernah terjadi. Padahal yang hilang tidak bisa kembali.”

Nilo menambahkan, “Dan kalau kita lupa, kita akan saling menyalahkan lagi—soal bendungan, soal air—sementara akar kembali dipotong.”

Musim berganti. Danau Seru pelan-pelan membaik. Tidak secerah dulu, tapi cukup. Suara serangga kembali. Burung-burung mulai membuat sarang di tepi wilayah yang ditanami ulang.

Nilo masih merasa ada lubang di hatinya—dua anak muda yang hilang tidak kembali. Tapi ia melihat generasi baru quoll mulai belajar jalur malam yang baru.

Dan itu, meski pahit, adalah bukti bahwa rimba masih mau memberi kesempatan—asal makhluk di dalamnya berhenti memuja cap merah lebih daripada akar.

9) Moral yang Diukir oleh Lumpur

Pada rapat akhir tahun, Banu berkata pada semua:

“Jika ada yang datang membawa izin dan bilang semuanya aman, tanyakan tiga hal:

  1. Airnya akan tetap tinggal di tanah atau lari jadi banjir?
  2. Siapa yang paling kecil yang menanggung akibatnya duluan?
  3. Apakah keputusan ini menjaga jaring, atau hanya menguntungkan satu simpul?

Sejak itu, Rimba Rumah punya kalimat baru yang diulang pada anak-anak:

“Rimba tidak butuh disetujui. Rimba butuh didengar.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link