Kota Garam dan Penjaga Angin
I. Kota yang Dibangun di Atas Angin
Di tepi laut yang asin dan langit yang sering berwarna pucat, berdirilah sebuah kota hewan bernama Kota Garam. Kota ini tidak memiliki hutan lebat atau sungai besar. Ia hidup dari angin laut, embun pagi, dan satu sumber air utama yang disebut Sumur Tua—sebuah cekungan batu alam yang telah ada jauh sebelum bangunan pertama didirikan.
Kota Garam tidak lahir dari keserakahan. Ia lahir dari kebutuhan. Hewan-hewan yang hidup di sana adalah mereka yang terbiasa bertahan:
Unta kecil yang kuat menahan haus,
Burung Camar yang membaca arah angin,
Kura-kura pasir yang menyimpan air di tubuhnya,
dan Anjing Gurun yang setia menjaga wilayah.
Penjaga Kota Garam bukan raja, bukan wali kota. Ia hanyalah seekor Serigala Tua bernama Lindu, yang dijuluki Penjaga Angin. Tugas Lindu sederhana tapi berat: memastikan angin, embun, dan air dibagi dengan adil.
Setiap pagi, Lindu berjalan ke Sumur Tua, menyentuh dinding batunya, lalu menatap permukaan air. Dari sanalah ia tahu apakah hari itu kota akan cukup minum atau harus berhemat.
Selama puluhan musim, Sumur Tua tidak pernah kering. Airnya naik-turun, tapi selalu kembali.
Hingga suatu hari, ia tidak kembali.
II. Hari Ketika Angin Tidak Membawa Kabar Baik
Musim panas datang lebih awal. Angin laut bertiup kering. Embun pagi menghilang lebih cepat dari biasanya.
Lindu berdiri di tepi Sumur Tua dan melihat garis air lebih rendah dari ingatannya. Ia tidak panik. Ia hanya mengangkat tanda peringatan kecil—sehelai kain putih di menara angin—yang berarti: hemat air.
Sebagian besar warga patuh. Namun, tidak semua.
Di sudut kota, tinggal kawanan Kambing Batu yang dipimpin oleh seekor kambing jantan bernama Raska. Raska cerdas, pandai berbicara, dan percaya bahwa Kota Garam terlalu lama hidup dalam “ketakutan kekurangan”.
“Kita tidak kekurangan,” kata Raska pada pengikutnya. “Kita hanya terlalu berhati-hati. Air itu untuk dipakai, bukan disembah.”
Raska lalu mengusulkan ide baru: menarik air lebih banyak dari Sumur Tua, menyimpannya di tangki-tangki pribadi, dan menjualnya kembali saat musim kering.
“Ini bukan keserakahan,” katanya. “Ini manajemen.”
Kata manajemen terdengar canggih. Beberapa hewan muda tertarik.
Lindu dipanggil ke pertemuan kota.
“Sumur itu bukan milik siapa pun,” kata Lindu. “Ia milik semua. Jika kau tarik terlalu banyak, ia tidak sempat bernapas.”
Raska tersenyum.
“Serigala selalu bicara tentang napas. Tapi kita hidup di dunia nyata.”
III. Air Menjadi Barang Dagangan
Awalnya, dampak pengambilan air besar-besaran tidak terasa. Tangki-tangki batu milik Kambing Batu penuh. Kota Garam tampak aman.
Namun, Sumur Tua turun lebih cepat.
Burung Camar bernama Sera, penjaga menara angin, mulai mencatat perubahan arah dan suhu.
“Angin membawa debu, bukan uap,” katanya pada Lindu. “Ini tanda buruk.”
Sementara itu, Tikus Pasir kecil bernama Milo mulai kesulitan. Dulu, ia minum sisa tetesan di pagi hari. Kini, bahkan tetesan itu tidak ada.
Milo mencoba membeli air dari Kambing Batu, tapi harganya tinggi.
“Air sekarang langka,” kata Raska. “Harga wajar.”
Kota Garam mulai retak—bukan karena kekeringan, tapi karena ketidakadilan.
IV. Sumur yang Terlupakan
Suatu malam, Lindu berjalan sendiri ke Sumur Tua. Ia menggali pasir di sekitarnya dan menemukan retakan-retakan kecil di dinding batu.
Sumur itu lelah.
Ia memanggil Dewan Kota, yang terdiri dari perwakilan semua hewan.
“Jika ini diteruskan,” kata Lindu, “Sumur Tua akan mati.”
Raska berdiri dan berkata,
“Sumur tidak mati. Ia hanya butuh teknologi. Kita bisa mengebor lebih dalam.”
Kata mengebor membuat kota hening.
Kura-kura Pasir tua bernama Tama mengangkat kepala pelan.
“Jika kau melukai dasar sumur,” katanya, “kau tidak akan menemukan air. Kau akan menemukan garam.”
Tak semua mendengar.
V. Hari Ketika Sumur Menjawab
Musim kering mencapai puncaknya. Langit seperti kaca panas. Angin berhenti.
Raska memerintahkan pengeboran.
Pada awalnya, air keluar lebih deras. Kota bersorak.
Lindu menutup mata.
Lalu, air berubah asin.
Sumur Tua tidak mengering. Ia berubah.
Air asin menyebar ke tanah. Tanaman mati. Kura-kura sakit. Burung kehilangan arah.
Tangki-tangki penuh air asin—tak bisa diminum.
Raska berdiri terpaku.
“Ini tidak ada dalam rencana.”
Tama menjawab pelan,
“Karena rencana tidak pernah mendengar.”
VI. Kota Tanpa Air
Dalam hitungan hari, Kota Garam menjadi kota tanpa air minum. Mereka dikelilingi laut, tapi laut tidak bisa diminum. Mereka punya sumur, tapi sumur telah berubah.
Hewan-hewan mulai pergi. Banyak yang jatuh di jalan.
Milo si Tikus Pasir berlari mencari Lindu.
“Penjaga Angin,” katanya gemetar, “apa kita akan mati?”
Lindu menatap kota, lalu angin yang akhirnya bertiup pelan.
“Kita belum mati,” katanya. “Tapi kita harus berubah.”
VII. Mendengar yang Tidak Pernah Didengar
Lindu memimpin kota bukan dengan perintah, melainkan dengan kerja.
Mereka menutup pengeboran. Menghancurkan tangki-tangki pribadi. Menanam kembali tanaman penahan pasir.
Sera mengajarkan cara membaca embun malam.
Tama mengajarkan cara menyimpan air di tanah, bukan di wadah.
Raska kehilangan pengaruh. Ia membantu sebagai pekerja, bukan pemimpin.
Butuh banyak musim. Banyak yang tidak kembali.
Namun, suatu pagi, embun kembali jatuh lebih lama.
Sumur tidak pulih sepenuhnya. Tapi ia tidak lagi asin.
VIII. Penutup: Kota yang Masih Hidup
Kota Garam tidak pernah menjadi kota besar. Ia menjadi kota hati-hati.
Di menara angin, Lindu menggantungkan tulisan kecil:
“Air tidak pernah hilang.
Ia hanya pergi dari mereka yang lupa berbagi.”
Dan setiap anak di Kota Garam diajari satu pelajaran:
Krisis bukan datang karena alam kejam,
tetapi karena kita terlalu lama menganggap alam bisa dipaksa.




















