I. Negeri yang Mengukur Segalanya
Di sebuah dataran kering yang tidak sepenuhnya tandus, berdirilah sebuah negeri bernama Negeri Jam Pasir. Tidak ada sungai besar di sana, tidak ada hutan lebat. Yang ada hanyalah angin, debu, dan satu hal yang sangat dihormati: waktu.
Di Negeri Jam Pasir, waktu bukan sekadar sesuatu yang berlalu. Ia ditimbang, dicatat, dan dikunci. Setiap sudut kota memiliki menara jam pasir—tabung kaca raksasa berisi butiran halus berwarna keemasan. Ketika butiran itu jatuh, seluruh negeri bergerak serempak.
Jika pasir turun cepat, mereka bekerja cepat.
Jika pasir melambat, mereka istirahat—sebentar.
Penduduk negeri ini adalah hewan-hewan pekerja keras:
Keledai batu yang mengangkut beban,
Semut pasir yang membangun lorong-lorong bawah tanah,
Burung unta yang berlari mengantar pesan,
dan Anjing padang yang menjaga ritme kota.
Pemimpin Negeri Jam Pasir bukan raja, bukan dewa. Ia seekor Bangau tinggi bernama Orin, dijuluki Penjaga Waktu. Orin dipercaya karena lehernya panjang—ia bisa melihat jauh—dan karena ia hidup paling lama di negeri itu.
Setiap pagi, Orin naik ke menara utama, memeriksa jam pasir terbesar yang disebut Jam Induk, lalu mengumumkan:
“Waktu hari ini cukup.”
Atau:
“Waktu hari ini harus dipercepat.”
Tak ada yang membantah. Karena di Negeri Jam Pasir, waktu dianggap lebih berharga daripada air.
II. Pasir yang Selalu Kurang
Selama bertahun-tahun, sistem itu berjalan. Negeri Jam Pasir terkenal produktif. Mereka membangun jalan, menara, gudang, dan tembok-tembok tinggi yang membuat negeri lain kagum.
Namun, ada satu hal yang mulai terasa ganjil.
Waktu selalu terasa kurang.
Keledai batu bernama Raga mulai merasakan punggungnya nyeri sebelum matahari naik tinggi. Semut pasir bernama Lumi kehilangan hitungan berapa kali ia tertidur di lorong tanpa mimpi. Burung unta Sari sering lupa ke mana ia berlari—bukan karena bodoh, tapi karena pikirannya lelah.
Mereka semua melihat jam pasir, dan pasirnya selalu jatuh lebih cepat dari hari sebelumnya.
“Apakah pasirnya memang makin banyak?” tanya Raga suatu malam.
Lumi menjawab pelan, “Atau kita yang makin dipaksa?”
Pertanyaan itu tidak pernah sampai ke menara utama.
III. Penemuan di Dasar Menara
Di pinggiran kota, tinggal seekor Kura-kura tua bernama Sena. Ia bukan pekerja cepat. Ia bukan pengangkut, bukan pelari. Tugasnya hanya satu: memperbaiki jam pasir yang retak.
Sena sering masuk ke ruang bawah menara, tempat pasir disimpan sebelum dituangkan ke jam-jam besar. Suatu malam, saat memperbaiki retakan kecil, Sena menemukan sesuatu yang aneh.
Tumpukan pasir cadangan berkurang.
Padahal, setiap hari pasir terlihat makin banyak di jam-jam kota.
Sena menghitung perlahan. Ia menandai dinding batu. Dan ia sadar:
Ada pasir yang tidak kembali.
Artinya, waktu sedang dicuri.
Sena naik ke menara utama dan menemui Orin.
“Penjaga Waktu,” kata Sena, “jam pasir kita tidak seimbang. Pasirnya jatuh lebih cepat, tapi cadangannya menipis. Waktu kita bocor.”
Orin menatapnya lama. Angin berdesir di sayapnya.
“Kau terlalu lama di bawah,” kata Orin akhirnya. “Kadang pasir hilang karena angin.”
“Tapi ini bukan angin,” jawab Sena. “Ini keputusan.”
Orin tidak menjawab.
IV. Dewan Produktivitas
Tak lama kemudian, Orin mengumumkan pembentukan Dewan Produktivitas. Dewan ini dipimpin oleh Rubah gurun bernama Vask, terkenal cerdas, licin, dan pandai membuat angka terdengar seperti kebenaran.
Vask berbicara di alun-alun:
“Negeri Jam Pasir maju karena disiplin waktu. Tapi dunia di luar bergerak lebih cepat. Jika kita melambat, kita tertinggal.”
Ia mengusulkan hal baru:
menambahkan pasir sintetis ke jam-jam kota.
“Pasir ini aman,” kata Vask. “Ia membuat waktu tampak lebih banyak, sehingga kita bisa bekerja lebih lama tanpa merasa kekurangan.”
Beberapa hewan ragu. Tapi banyak yang sudah terlalu lelah untuk berpikir panjang.
Jam-jam pasir mulai diisi pasir baru—lebih halus, lebih ringan, jatuh lebih cepat.
Waktu terasa makin panjang di atas kertas, tapi makin pendek di tubuh.
V. Negeri yang Tidak Pernah Malam
Dengan pasir sintetis, Negeri Jam Pasir hampir tidak pernah tidur. Lampu menyala sepanjang malam. Keledai mengangkut tanpa henti. Semut bekerja tanpa jeda musim.
Anjing padang bernama Taro, penjaga ritme kota, mulai kehilangan gong waktunya. Ia tidak tahu kapan harus membunyikannya.
“Semua waktu terlihat sama,” katanya bingung.
Di lorong bawah tanah, Lumi melihat banyak semut jatuh pingsan. Mereka tidak mati. Mereka hanya… kosong.
Raga mulai menyeret kakinya. Setiap langkah terasa seperti dua.
Sari, si burung unta, berhenti berlari suatu hari. Ia berdiri di tengah jalan, menatap jam pasir, lalu menangis tanpa suara.
Tak ada yang mencatat tangisan itu. Karena jam pasir tidak punya telinga.
VI. Kota Retak
Retakan mulai muncul. Bukan di tembok, tapi di hubungan.
Keledai saling menyalahkan karena lambat.
Semut saling dorong karena target.
Burung unta mulai berlari sendirian.
Tidak ada lagi waktu untuk bicara.
Sena kembali ke menara bawah dan menemukan cadangan pasir hampir habis. Pasir sintetis menggantikan hampir semuanya.
Ia kembali menemui Orin, kali ini dengan suara gemetar.
“Jika ini diteruskan,” kata Sena, “jam-jam akan runtuh. Pasir palsu tidak kembali ke dasar. Ia habis, lalu habis lagi. Waktu kita akan pecah.”
Orin menutup mata.
“Aku tahu,” katanya pelan.
“Lalu kenapa kau biarkan?” tanya Sena.
Karena Orin lelah. Karena ia takut. Karena ia pernah percaya bahwa menjaga waktu berarti menekan semua yang bergerak di bawahnya.
VII. Hari Ketika Jam Pecah
Hari itu datang tanpa peringatan.
Jam Induk di menara utama—yang mengatur seluruh negeri—retak di tengah hari. Pasir keemasan dan pasir sintetis tumpah bersamaan, bercampur jadi debu tak berguna.
Ketika Jam Induk berhenti, seluruh negeri diam.
Keledai berhenti melangkah.
Semut berhenti menggali.
Burung unta berhenti berlari.
Untuk pertama kalinya, tidak ada waktu.
Dan di ketiadaan itu, semua merasa lelah yang sesungguhnya.
Banyak yang jatuh. Banyak yang menangis. Banyak yang tertidur untuk pertama kalinya tanpa rasa bersalah.
Vask berteriak, “Ini bencana! Kita harus memperbaiki jam sekarang!”
Namun, Sena berdiri di depan menara dan berkata:
“Tidak. Kita harus mendengar.”
VIII. Mendengar Tanpa Jam
Tanpa jam, Negeri Jam Pasir kacau—tapi juga jujur.
Hewan-hewan mulai bicara. Tentang sakit punggung. Tentang kehilangan makna. Tentang anak-anak yang tidak pernah mereka lihat bangun.
Raga berkata, “Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku tertawa.”
Lumi berkata, “Aku tidak tahu lagi untuk apa lorong ini dibangun.”
Sari berkata, “Aku berlari tanpa tahu tujuan.”
Orin turun dari menara. Lehernya terasa berat.
“Aku pikir menjaga waktu berarti menjaga kemajuan,” katanya. “Tapi aku lupa: waktu bukan untuk diperas. Ia untuk diisi.”
IX. Jam Baru
Jam Induk tidak dibangun kembali seperti semula.
Sena dan para hewan membuat jam baru—bukan dari pasir, tapi dari bayangan matahari, hembusan angin, dan ritme tubuh.
Tidak ada lagi Dewan Produktivitas. Vask pergi ke gurun, membawa angka-angkanya.
Jam baru tidak presisi. Tapi ia adil.
Ada hari kerja panjang.
Ada hari istirahat penuh.
Ada hari tanpa rencana.
Negeri Jam Pasir melambat. Banyak bangunan runtuh karena tidak dirawat. Tapi hubungan kembali tumbuh.
X. Penutup: Waktu yang Kembali
Di alun-alun, Orin menggantung tulisan kecil:
“Waktu tidak pernah hilang.
Ia hanya dicuri dari mereka yang lupa hidup.”
Sena duduk di bawah menara yang kini kosong, tersenyum.
Dan anak-anak Negeri Jam Pasir diajari satu pelajaran sederhana:
Produktivitas tanpa kemanusiaan
hanyalah cara panjang untuk runtuh.




















