Surat Denda untuk Para Penebang, Gajah yang Kehilangan Jalan
Di sebuah lembah yang selalu tampak berkabut saat subuh, berdirilah hutan tua bernama Rimba Sura. Orang-orang yang pernah melintas menyebutnya hutan “tak berujung” karena kalau kau berjalan seharian, yang kau dapat hanya pohon yang makin tinggi, akar yang makin tebal, dan suara burung yang seolah menertawakan kelelahanmu.
Namun bagi penghuni rimba—para kijang, monyet, burung rangkong, kura-kura, sampai gajah—Rimba Sura bukan “tak berujung”. Ia jelas batasnya, jelas nadinya, jelas jalurnya. Mereka punya peta yang tidak digambar di kertas, melainkan disimpan di ingatan: rute air, tempat garam, pohon buah, dan jalan leluhur yang tak boleh diganggu.
Di pusat rimba ada sebuah dataran kecil, tempat akar-akar tua berkumpul seperti jari-jari yang saling mengunci. Di sana berdiri sebuah batu besar yang disebut Batu Saksi. Setiap musim, para penghuni rimba berkumpul di situ untuk membicarakan masalah, membagi tugas, dan memastikan satu aturan tidak pernah dilupakan:
“Rimba tidak dimiliki. Rimba diwarisi.”
Pemimpin mereka adalah seekor Harimau tua bernama Rangga. Garis-garis hitam di tubuhnya sudah pudar, tetapi matanya masih tajam, bukan karena marah, melainkan karena terbiasa memperhatikan tanda-tanda kecil. Rangga bukan pemimpin yang suka bicara panjang. Ia lebih sering diam, mendengar. Dan justru karena itu, kata-katanya selalu terasa berat ketika akhirnya keluar.
Suatu tahun, musim berubah aneh. Kemarau datang terlalu cepat, lalu hujan turun dalam ledakan singkat. Sungai naik tiba-tiba, lalu surut dan menyisakan lumpur.
Rangga sudah mencium gelagat itu sejak lama. Tapi ia tidak menyangka, masalah terbesar tahun itu bukan soal cuaca. Masalah terbesar datang dari keserakahan yang belajar berdandan jadi “kebutuhan”.
1) Kabar dari Timur: “Ada yang Mengambil Lebih dari Perlu”
Sore itu, seekor rusa muda bernama Lara berlari ke Batu Saksi. Nafasnya terputus-putus, kakinya penuh goresan.
“Pemimpin Rangga,” katanya, “di timur… pohon-pohon tumbang. Bukan karena angin. Bukan karena usia. Ada kawanan Monyet yang menebang dan menyeret kayu keluar. Aku juga melihat kilau… seperti logam. Mereka menggali tanah.”
Kata “menggali” membuat beberapa hewan saling berpandangan. Menggali tanah bukan perkara kecil di Rimba Sura. Tanah itu tempat air meresap. Tanah itu rumah akar. Tanah itu penyimpan hidup.
Rangga tidak meledak marah. Ia hanya mengangguk dan memanggil dua pihak: Kura-kura tua bernama Bima sebagai penjaga ingatan rimba, dan Serigala bernama Raka sebagai kepala penjaga perbatasan.
“Kita cek malam ini,” kata Rangga singkat.
Malam turun. Mereka bergerak diam seperti kabut.
Di timur, mereka menemukan sesuatu yang membuat udara terasa asing: hamparan tanah terbuka, batang-batang kayu ditumpuk rapi, dan lubang-lubang galian yang menganga seperti mulut yang lapar. Di tengahnya berdiri Monyet besar bernama Sela, pemimpin kawanan.
Sela menyambut mereka dengan senyum yang terlalu percaya diri.
“Pemimpin Rangga,” katanya, “akhirnya datang juga. Tenang saja. Kami tidak merusak. Kami hanya… memanfaatkan.”
Rangga menatap gundukan kayu. “Memanfaatkan apa?”
Sela mengangkat tangan, seolah sedang menjelaskan hal sederhana pada anak kecil. “Pohon yang tua, tanah yang kaya, batu yang berkilau. Semua itu ada di rimba. Kalau tidak dimanfaatkan, ya sia-sia. Kami ingin membangun tempat simpan makanan. Membuat jalur lebih lebar. Menukar kayu dengan garam dari luar. Hidup itu perlu strategi.”
Serigala Raka mendengus. “Strategi atau alasan?”
Sela menatap serigala itu, masih tersenyum. “Kau penjaga, bukan pengatur masa depan.”
Rangga mengangkat cakar, menghentikan konflik sebelum lahir.
“Rimba punya aturan,” kata Rangga. “Kau boleh mengambil secukupnya. Tapi yang kau lakukan ini bukan secukupnya. Ini industri.”
Sela menyeringai. “Aturan bisa menyesuaikan zaman.”
Bima si kura-kura menatap lubang galian, lalu berkata pelan, “Zaman boleh berubah. Tapi akar tidak bisa diajak kompromi.”
Rangga memutuskan satu hal: kegiatan itu harus berhenti sampai Dewan Rimba berkumpul. Ia memerintahkan penjaga menandai wilayah dan mengawasi.
Sela mengangguk patuh—terlalu patuh. Dan justru itulah yang membuat Rangga merasa tidak enak.
Karena di dunia nyata, yang paling berbahaya sering bukan yang melawan terang-terangan, melainkan yang setuju sambil terus bekerja diam-diam.
2) Pasukan Penertiban: “Bukan untuk Balas Dendam, Tapi untuk Keadilan”
Keesokan harinya, Dewan Rimba berkumpul di Batu Saksi.
Ada Burung Hantu bernama Tala yang menjadi penyimpan cerita. Ada Rangkong yang jadi pembawa kabar jauh. Ada Lebah yang paham ritme bunga. Ada Kijang yang hafal jalur air. Dan tentu saja Bima si kura-kura, yang selalu bicara paling lambat, tapi sering paling tepat.
Rangga menjelaskan apa yang dilihatnya. Lalu ia berkata:
“Kita butuh pasukan khusus untuk menertibkan wilayah yang dirusak. Bukan untuk balas dendam. Tapi untuk memastikan aturan rimba hidup.”
Serigala Raka siap memimpin. Ia mengusulkan nama pasukan: Pasukan Akar.
Pasukan Akar bukan pasukan yang suka berkelahi. Tugasnya: menutup lubang galian yang berbahaya, menandai pohon yang harus dilindungi, mengusir aktivitas ilegal, dan—ini yang paling membuat Monyet takut—mencatat pelanggaran.
“Catatan?” tanya seekor Monyet muda yang ikut rapat, pura-pura polos.
Bima menjawab, “Ya. Catatan. Karena yang merusak harus mengembalikan. Kalau kau mengambil dari rimba, kau membayar pada rimba. Bukan dengan kata-kata.”
Rangga menambahkan aturan baru: setiap kawanan yang terbukti mengambil lebih dari perlu harus menerima Surat Tuntutan—semacam “denda rimba”. Mereka wajib menanam kembali, memulihkan tanah, dan memberi kontribusi makanan saat pemulihan berlangsung.
Aturan ini mirip dengan kabar dunia luar tentang penagihan denda kehutanan dan tindakan hukum untuk yang bandel, hanya saja di Rimba Sura, “hukum” tidak dibacakan oleh manusia, melainkan oleh konsekuensi alam dan kesepakatan bersama.
Sela si Monyet tersenyum ketika mendengar itu.
“Surat?” katanya. “Kertas bisa dimakan rayap.”
Rangga menatapnya datar. “Surat itu bukan untukmu. Surat itu untuk rimba—sebagai pengingat bahwa kita pernah salah dan harus membayar.”
3) Jalan Leluhur yang Terputus
Beberapa minggu setelah Pasukan Akar bergerak, masalah baru muncul—lebih gelap, lebih menakutkan.
Di selatan rimba, ada jalur besar yang selalu dilalui gajah sejak puluhan generasi: dari rawa asin ke sungai, dari sungai ke padang rumput, lalu kembali ke hutan buah. Jalur itu disebut Pita Tanah. Panjangnya seperti garis nasib: sekali kau putus, kau memutus banyak hal sekaligus.
Tanpa izin siapa pun, kawanan Monyet Sela memperlebar jalur kayu dan menggali tanah lebih dekat ke Pita Tanah. Mereka memasang pagar sempit, menumpuk batang, dan meninggalkan lubang-lubang yang tertutup daun tipis—jebakan untuk kaki besar.
Pada suatu malam, seekor gajah muda bernama Bara berjalan sendirian. Ia gajah jantan muda, bertaring satu, dan—karena suatu hal—terpisah dari kawanan. Mungkin ia tertinggal saat banjir, mungkin ia tersesat saat mencari air. Tidak ada yang tahu pasti. Yang jelas, gajah muda yang sendirian sering berubah jadi makhluk yang mudah panik.
Di dunia luar, ada berita tentang gajah yang mengamuk dan menimbulkan korban, dan aparat sibuk memburu dan menenangkan hewan yang tersesat.
Di Rimba Sura, kisah itu menjelma jadi Bara.
Bara berjalan mengikuti ingatan kakinya, tapi ingatan itu menemukan penghalang: pagar kayu, tumpukan batang, dan bau asing dari tanah yang dibalik.
Ia maju. Kakinya masuk ke lubang tertutup daun.
Rasa sakit membuatnya meraung. Suara raung gajah bukan sekadar suara; ia seperti retakan petir di dada. Burung-burung meloncat, kijang lari, dan Monyet penjaga panik.
Mereka melempar batu. Mereka menyalakan api kecil. Mereka berteriak.
Api membuat Bara makin panik. Ia menarik kakinya, merobohkan pagar, menghantam tumpukan batang, dan berlari tanpa arah.
Di utara, dekat batas rimba dengan perkampungan hewan kecil, Bara menabrak kebun umbi milik keluarga Kelinci. Umbi berhamburan. Kelinci menjerit. Anak-anak lari.
Bara tidak berniat jahat. Ia hanya ketakutan, kesakitan, dan lapar. Tapi bagi korban, penjelasan itu datang terlambat.
Keesokan harinya, kabar menyebar cepat:
“Gajah menyerang!”
“Gajah pembunuh!”
“Gajah harus diusir keluar!”
Rangga mendengar kabar itu, dan ia tahu: ini bukan hanya konflik satwa. Ini konflik akibat keserakahan.
4) Dewan Rimba Pecah: Siapa yang Harus Disalahkan?
Di Batu Saksi, pertemuan darurat diadakan.
Kelinci menuntut keamanan. Kijang takut jalur air makin rusak. Burung-burung ingin sarang mereka aman. Dan Monyet Sela—paling lihai—menggunakan momen ini untuk mengalihkan perhatian.
“Lihat!” Sela berseru. “Bukan kami masalahnya. Gajah itu berbahaya. Kalau rimba ingin aman, kita harus mengendalikan gajah. Bahkan mungkin… mengusirnya.”
Serigala Raka menggeram. “Kau yang memotong jalurnya.”
Sela pura-pura terkejut. “Tuduhan serius. Ada bukti?”
Bima si kura-kura menatap mereka semua, lalu berkata, “Bukti paling jujur ada di tanah. Tanah yang terbuka adalah saksi.”
Namun sebagian penghuni rimba sudah telanjur takut pada Bara. Ketakutan membuat mereka ingin solusi cepat: usir gajah, selesai.
Rangga mengangkat suara, lebih keras dari biasanya.
“Bara bukan masalah utama. Bara adalah gejala. Kalau kita hanya mengusir gejala, penyakitnya tetap hidup.”
Ia memerintahkan Pasukan Akar untuk melakukan dua hal sekaligus: menertibkan aktivitas kawanan Sela, dan menuntun Bara kembali ke jalur aman dengan cara yang tidak memicu panik.
“Tapi kalau Bara menyerang lagi?” tanya Kelinci.
Rangga menatapnya. “Kalau rimba terus dilukai, serangan akan terus terjadi—dengan atau tanpa Bara.”
5) Surat Denda Pertama
Pasukan Akar bergerak ke timur dengan tegas. Mereka memasang tanda: wilayah ini harus dipulihkan. Mereka menutup lubang galian yang paling berbahaya. Mereka menyita tumpukan kayu yang berasal dari pohon muda.
Lalu Bima menulis Surat Denda—bukan di kertas, melainkan di kulit kayu lebar, dengan ukiran sederhana yang semua bisa baca:
- Kawanan Sela harus menghentikan penebangan dan penggalian.
- Kawanan Sela wajib menanam kembali seratus bibit pohon penahan air.
- Kawanan Sela wajib membuka kembali Pita Tanah (jalur gajah) dan menghapus penghalang.
- Jika menolak, Pasukan Akar akan membawa perkara ke “Hukum Rimba”: pengusiran dari wilayah inti dan pemutusan akses ke sumber air tertentu.
Ini terdengar keras, tapi rimba sedang di ambang kehancuran. Dan di dunia luar pun, kabar penindakan aktivitas ilegal di hutan dan penagihan denda memang sedang menguat.
Sela membaca ukiran itu dan tertawa kecil.
“Kau kira seratus bibit bisa mengganti ribuan kayu?” katanya.
Bima menjawab pelan, “Bukan bibit yang mengganti kayu. Bibit itu mengganti masa depan.”
Sela meludah ke tanah. “Aku tidak takut surat.”
Rangga menatapnya. “Kalau begitu, kau akan takut pada sesuatu yang tidak bisa kau debat: musim.”
6) Musim Menjawab
Tak sampai sebulan, hujan datang seperti amarah.
Karena banyak pohon penahan air sudah hilang di timur, air turun cepat dan kasar. Sungai yang biasanya naik perlahan, kini melompat. Lumpur mengalir seperti ular cokelat. Sarang-sarang rendah hanyut.
Di area galian, tanah amblas. Beberapa lubang berubah jadi jebakan banjir kecil yang menelan apa pun yang lewat.
Dan Bara—gajah muda yang masih gelisah—kembali tersesat. Arus membuatnya sulit menemukan jalur. Ia berjalan ke arah perkampungan hewan kecil lagi, kali ini lebih dekat, lebih liar.
Pasukan Akar mencoba menuntun, tapi Bara panik mendengar teriakan. Ia berbalik, menghantam pohon, dan hampir menimpa Serigala Raka.
Untuk pertama kalinya, Serigala Raka merasakan sesuatu selain marah: ia merasakan tak berdaya.
“Ini gila,” gumamnya.
Rangga menjawab, “Bukan gila. Ini akibat.”
Di tengah hujan, Sela melihat gudang kayu hasil tebangan hanyut terbawa arus. Kayu yang ia kumpulkan seperti “kekayaan” lenyap dalam satu malam.
Ia berteriak, memanggil anak buahnya, mencoba menyelamatkan tumpukan kayu—tapi arus tidak peduli. Arus bukan hakim yang mau berdialog.
Keesokan paginya, saat hujan mereda, Rimba Sura seperti habis berperang. Banyak yang selamat, tapi banyak yang kehilangan. Dan yang paling menyakitkan: kehilangan itu tidak pilih-pilih. Yang mendukung Sela rugi. Yang menentang Sela juga rugi. Karena rimba adalah satu tubuh. Kalau satu bagian luka, seluruh tubuh demam.
7) Pertobatan yang Tidak Dramatis
Sela datang ke Batu Saksi dengan bulu kusam dan mata merah.
Ia tidak langsung meminta maaf. Ia terlalu sombong untuk drama semacam itu. Tapi ia berkata sesuatu yang, bagi Sela, adalah bentuk pengakuan paling jujur:
“Aku salah menghitung.”
Bima menatapnya. “Kau menghitung apa?”
Sela menelan ludah. “Aku menghitung kayu. Aku menghitung batu. Aku menghitung keuntungan. Tapi aku tidak menghitung… hujan.”
Rangga tidak memaki. Ia tahu, orang yang kalah oleh kenyataan biasanya sudah cukup tersiksa.
“Rimba tidak butuh kau meratap,” kata Rangga. “Rimba butuh kau bekerja.”
Sela mengangguk. “Apa yang harus kulakukan?”
Rangga menunjuk timur. “Kau buka jalur gajah. Kau tutup lubang. Kau tanam kembali. Dan kau ikut membantu menuntun Bara pulang.”
Sela terdiam. Menuntun gajah adalah tugas berbahaya. Tapi ia tahu, kalau ia menolak, ia bukan hanya melawan Dewan Rimba. Ia melawan rasa bersalah yang kini sudah hidup di dada.
Ia akhirnya berkata, “Baik.”
8) Membawa Gajah Pulang
Pasukan Akar membuat rencana pelan-pelan.
Mereka tidak mengejar Bara dengan teriakan. Mereka membuat “koridor tenang” menggunakan barisan hewan besar yang tidak memicu panik: beberapa kerbau liar, beberapa badak tua yang jarang bicara, dan—ironisnya—kawanan Monyet Sela yang lincah untuk menyingkirkan penghalang di jalur.
Mereka menaruh buah-buahan tertentu di titik-titik aman. Mereka membuat suara rendah yang menenangkan, bukan suara tajam yang memicu amuk. Mereka menjaga jarak.
Bara, yang awalnya liar, perlahan mengikuti aroma buah dan jalur yang mulai terasa familiar. Ia berjalan, masih gelisah, tapi tidak sekeras sebelumnya.
Ketika akhirnya Bara menemukan Pita Tanah yang sudah dibuka kembali—tanah yang pernah dilalui leluhurnya—langkahnya melambat. Ia mengendus. Ia menempelkan belalai ke tanah, seolah mengingat sesuatu yang lama hilang.
Di ujung jalur, kawanan gajah muncul: induk-induk, saudara, dan para tua yang matanya seperti batu sungai. Bara mengeluarkan suara pendek, dan kawanan menjawab.
Momen itu membuat banyak hewan rimba terdiam.
Bukan karena mereka “luluh”. Tapi karena mereka sadar: konflik yang mereka sebut “gajah jahat” ternyata hanya gajah yang kehilangan jalan.
9) Pemulihan yang Mahal
Setelah Bara pulang, rimba belum langsung sehat.
Menanam seratus bibit tidak langsung mengembalikan hutan. Menutup lubang tidak langsung mengembalikan mata air. Memulihkan butuh waktu panjang, dan itu membuat banyak hewan frustrasi.
Pada minggu-minggu pertama, beberapa bibit mati karena tanah masih labil. Pada bulan berikutnya, hujan singkat kembali membawa lumpur. Ada malam ketika Serigala Raka bertengkar dengan Monyet karena lelah bekerja. Ada pagi ketika Kelinci mengeluh karena ladangnya belum pulih.
Di saat-saat itu, Bima si kura-kura selalu mengulang kalimat yang sama:
“Kalau kerusakan dibuat cepat, pemulihan memang terasa lambat. Tapi lambat bukan berarti salah.”
Rangga menambahkan, “Kita membayar bukan untuk masa lalu. Kita membayar agar masa depan masih punya tempat.”
Sela bekerja tanpa banyak bicara. Ia menanam bibit, satu per satu. Ia menutup lubang, satu per satu. Tangannya yang dulu memegang kapak batu kini memegang tanah basah. Ia tidak berubah jadi suci. Tapi ia berubah jadi realistis: ia tahu rimba bisa menghancurkan ambisi siapa pun yang melewati batas.
10) Batu Saksi Menyimpan Pelajaran
Setahun kemudian, Rimba Sura belum pulih sepenuhnya, tapi ada tanda-tanda: air mulai jernih lagi di beberapa titik, burung kembali membuat sarang rendah, bunga mulai muncul, dan jalur gajah tetap terbuka.
Di Batu Saksi, Dewan Rimba berkumpul lagi.
Rangga—yang kini makin tua—berkata, “Mulai hari ini, setiap keputusan besar harus menjawab satu pertanyaan: apakah ini menjaga jalur, atau memotong jalur?”
Sela duduk di pinggir, diam. Serigala Raka menatapnya sebentar, lalu mengangguk kecil. Itu bukan maaf. Tapi itu pengakuan: kerja keras juga bisa jadi bahasa.
Lara si rusa muda, yang dulu pertama kali membawa kabar buruk, kini berdiri di depan anak-anak hewan yang lahir setelah bencana.
Ia bercerita, “Kami dulu mengira rimba itu kuat tanpa batas. Ternyata rimba kuat karena kita menahan diri.”
Lalu ia menutup dengan satu kalimat yang kini jadi pepatah di Rimba Sura:
“Yang paling mahal bukan kayu atau batu, tapi jalan yang hilang.”
Karena ketika jalan leluhur hilang, gajah tersesat. Ketika gajah tersesat, desa panik. Ketika desa panik, semua saling menyalahkan. Dan ketika semua saling menyalahkan, yang tertawa bukan siapa pun—yang tertawa adalah bencana.
Tamat.
Moral:
Keserakahan sering menyamar jadi “kebutuhan”, tapi alam punya cara sendiri untuk menagih. Menertibkan pelanggaran itu penting, namun pemulihan hanya berhasil kalau semua pihak mau ikut menanggung biaya kesalahan—terutama pihak yang paling diuntungkan saat rimba dirusak.




















